Zak Starkey: Drummer The Who yang Hidup di Antara Takdir, Warisan, dan Dentuman
Zak Starkey, drummer The Who sekaligus putra Ringo Starr, kembali ke panggung legendaris dengan semangat baru. Inilah kisahnya yang penuh dentuman takdir.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Pada sore mendung di sudut kota London, seorang bocah bernama Zak Starkey membuka kado ulang tahun dari Keith Moon, drummer The Who legendaris. Satu set drum mini, menyembul dari sela kertas kado yang dia dapatkan.
“Mainlah sekencang-kencangnya, Zak,” ujar Moon sambil tertawa keras—seolah sudah tahu, suatu hari ketukan bocah ini akan menggema ke seluruh dunia.
Saat itu, Zak Richard Starkey baru berusia delapan tahun. Ia tumbuh dalam bayang-bayang dua ikon: Ringo Starr, sang ayah biologis yang pastinya “Kau Tahu Siapa”, dan Keith Moon, ayah baptisnya yang liar dan penuh semangat. Sosok yang kita kenal lewat tabuhannya di The Who. Namun, sejak awal, jalan yang ia pilih bukanlah meniru. Zak ingin menemukan suara sendiri, bukan sekadar menjadi “putra Ringo.”
Dalam wawancara dengan Modern Drummer (2006), Zak bahkan menegaskan,
“Saya bukan bintang rock ’n’ roll.”
Komentar ini bukan kerendahan hati basa-basi—itu prinsip hidup. Ia memang memilih jalannya sendiri.

Mencari Identitas di Dunia Para Raksasa
Masa mudanya dihabiskan di pub-pub kecil Inggris, bermain dengan band lokal, mengasah insting dan groove. Ia membangun reputasi di antara musisi sebelum orang tahu nama belakangnya.
Ia bermain untuk Lighting Seeds, ikut mengisi tur dan rekaman era Like You Do (1996), membawa groove yang membuat band pop-rock Liverpool itu terdengar lebih hidup.
Petualangannya berlanjut saat Johnny Marr, eks gitaris The Smiths, mengajaknya membentuk The Healers. Di sana, Zak mendapat ruang bebas—bukan hanya pengiring, tapi roh musik itu sendiri.
Johnny Marr bahkan memujinya lewat NME (2024):
“Zak Starkey adalah salah satu drummer paling dihormati, dan jujur saja, salah satu yang terbaik sepanjang masa.”
Bagi teman-teman seangkatan dan para legenda, Zak bukan sekadar anak “Kau Tahu Siapa”—tapi musisi yang berdiri di atas kualitasnya sendiri. Dia dikenal senang berkolaborasi. Memang, tidak semua proyek dirilis resmi, tapi baginya, esensi musik tetap soal “energi” dalam ruangan, bukan tentang kredit nama.
Dan ketika berbicara tentang dunia di luar musik, Zak tak kalah lantang. Dalam wawancara dengan Rolling Stone edisi Australia (2020), ia mengkritik gaya hidup boros:
“Kalau bisa beli mobil dengan mesin enam liter supercharged, seharusnya lo juga bisa beli mobil listrik. Mau mobil gede, silakan—asal jangan pakai mesin gede yang buang-buang energi.”
Lugas, apa adanya, sama seperti ketukannya di atas panggung.

Tiga Legenda, Dua Zaman
Hanya segelintir drummer yang bisa bilang bahwa mereka pernah menjadi bagian dari tiga ikon lintas generasi: The Who, Ringo Starr’s All-Starr Band, dan Oasis.
Bersama The Who, Zak menghidupkan semangat Keith Moon tanpa menjadi tiruannya. Ia membawa jiwa baru ke Baba O’Riley dan Won’t Get Fooled Again—energi liar yang terkendali.
Bersama ayahnya di All-Starr Band, ia menemukan warna berbeda: konser-konser yang santai, penuh kehangatan, diisi lagu-lagu Beatles dan kenangan.
Saat bergabung dengan Oasis, Zak terjun ke dunia Britpop yang keras dan mentah. Ia mengisi drum di album Don’t Believe the Truth (2005) dan Dig Out Your Soul (2008), memperkuat suara band di masa transisinya.
Dalam sebuah penampilan di The Cavern Club Liverpool bersama proyek Mantra of the Cosmos, Zak mengungkapkan pada Express & Star (2025):
“Saya hampir nggak pernah gugup seumur hidup—saya sudah manggung sejak umur 12 tahun. Tapi ini musik yang sakral. Saya kenal lagunya, tapi nggak hafal semua bagian drumnya… Tapi begitu naik panggung, rasanya seperti diangkat dan dibawa oleh musiknya.”
Ada pengaruh takdir dalam kata-katanya. Bahwa sejak kecil, dentuman drum bukan sekadar suara. Itu adalah bagian dari dirinya.

Kebebasan Baru: Kembali ke Panggung Legendaris dan Menulis Babak Baru
Pada April 2025, perjalanannya bersama The Who sempat terhenti setelah ketegangan dengan Roger Daltrey, sang vokalis, soal suara drum yang “terlalu bising.”
Bukannya marah, Zak pergi dengan kepala tegak. Zak keluar dari The Who setelah hampir tiga dekade, tanpa drama besar, hanya dengan sebuah pernyataan pendek:
“Saya bangga atas apa yang telah saya berikan.”
Namun, seperti angin yang berbalik arah, selang beberapa hari kemudian Zak Starkey kembali ke band tersebut dengan semangat baru, memperbarui ikatan yang telah lama terjalin.
Setelah hampir tiga dekade bersama The Who, Zak Starkey kembali dengan energi baru — bukan sekadar melanjutkan, tapi menulis babak baru dalam sejarah rock Inggris. Setelah sempat merasakan perbedaan pandangan di konser amal Teenage Cancer Trust di Royal Albert Hall, hubungan Zak dan Daltrey kembali membaik, membawa Zak kembali untuk mengisi ketukan-ketukan ikonik di lagu-lagu klasik The Who. Tanpa drama, dan dunia seakan baik-baik saja.
Yang jelas, Zak tak pernah berhenti mengeksplorasi jalan musiknya sendiri. Di luar dunia rock, ia juga aktif dengan proyek-proyek eksperimental, salah satunya membangun label Trojan Jamaica bersama istrinya, Sharna Liguz, yang fokus pada musik reggae dan kolaborasi lintas genre. Ini adalah bentuk kebebasan baru bagi Zak, tempat ia terus mendalami dan mendukung musik yang lebih dekat dengan akarnya, sambil tetap menantang dirinya untuk berkembang di luar zona nyaman.
Suatu sore, di studionya yang penuh dengan alat musik tua dan kenangan, Zak melihat foto dirinya kecil bersama Keith Moon. Sekarang, setelah semua pencapaian dan perubahan, ia tetap bisa merasakan dentuman yang pertama kali membawanya ke dunia musik—sebuah perjalanan panjang yang dimulai dengan satu ketukan drum kecil, tapi terus berkembang menjadi suara yang menggema di seluruh dunia.


