THE SOUNDTRACKS NEVER END: From Springsteen’s Solitude to the Next Wave of Music Biopics
“Biopics aren’t just about the music — they’re about the madness that made it possible.”
Oleh: DJOKO ADNAN

Tahun ini, dua film membuktikan bahwa genre biopik musik belum mati. Jenis film ini justru sedang menulis ulang nadanya.
Di satu sisi ada Springsteen: Deliver Me from Nowhere, potret sunyi The Boss di tengah kejayaan.
Di sisi lain ada A Complete Unknown, film James Mangold tentang Bob Dylan muda, dengan Timothée Chalamet menyanyikan semua lagu secara live, dan pulang membawa penghargaan besar dari musim award.
Dua film ini bukan sekadar penghormatan terhadap legenda.
Mereka adalah restart button untuk genre yang sempat kehilangan arah.
Biopik musik kini bukan lagi tentang ketenaran, tapi tentang keheningan. Ruang di antara panggung dan diri sendiri.
The Art of Re-Living a Legend
“The best music biopics aren’t karaoke; they’re confessionals.”

Sejak Walk the Line dan Ray, biopik musik sudah jadi semacam ritual pop: cara untuk menghidupkan kembali legenda, tapi juga untuk menata ulang kenangan. Kita datang karena lagu-lagunya, tapi bertahan karena manusia di baliknya.
Bohemian Rhapsody mengingatkan kita pada kesepian Freddie Mercury. Rocketman memberi warna pada luka Elton John. Dan La Vie en Rose menunjukkan bahwa bahkan Édith Piaf pun harus bernyanyi lewat rasa sakit.
Biopik yang baik bukan cuma tentang “how they made it”, tapi “how it broke them.”
Springsteen: Deliver Me from Nowhere berani diam di era yang bising.
Film ini bukan tentang konser, tapi tentang tatapan kosong seorang musisi di ruang kecil, mencoba memahami kembali makna musik yang ia ciptakan.
“This isn’t the Boss we know — it’s the man behind the myth, alone with his reel-to-reel.”
Sebaliknya, A Complete Unknown menyalakan lagi gairah genre ini.
Chalamet tidak meniru Dylan; ia memerankan proses kelahiran keraguan.
Film ini menang karena berhasil membuat keheningan terasa lebih nyaring dari tepuk tangan.
The Great Ones

Beberapa film tetap menjadi patokan klasik dalam genre ini:
- Walk the Line (2005) — Joaquin Phoenix menjadikan Johnny Cash manusia lagi, bukan mitos.
- Ray (2004) — Jamie Foxx memberi performa yang hampir mistik. Ia tidak berakting sebagai Ray Charles; ia mendengarkan dunia dengan telinga Ray.
Film ini memenangi dua Oscar, termasuk Best Actor, dan membuka jalan bagi biopik musik modern seperti Walk the Linedan Bohemian Rhapsody. - Straight Outta Compton (2015) — perlawanan politik lewat beat dan lirik.
- Rocketman (2019) — Elton John menemukan terapi di tengah glamor.
- Back to Black (2024) — Amy Winehouse dihidupkan dengan kelembutan yang menolak glorifikasi.
- La Vie en Rose (2007) — Marion Cotillard tidak berakting sebagai Piaf; ia menjadi Piaf.
“They don’t just play the songs. They live them again.”
Beberapa film memilih jalur eksperimental:
I’m Not There memecah Bob Dylan menjadi enam karakter; 24 Hour Party People menangkap Manchester era Joy Division dengan gaya mockumentary yang hampir mabuk.
Keduanya membuktikan: musik tidak selalu butuh narasi lurus. Kadang kekacauan adalah kebenaran terbaik.
Di sisi timur dunia, Jamojaya (2023) membawa suara baru. Karya Justin Chon ini menyorot Rich Brian, rapper asal Indonesia yang menembus Amerika tapi kehilangan identitas di tengah gemerlapnya industri. Film ini lembut dan getir, lebih dekat dengan Lost in Translation ketimbang 8 Mile.
Dan mungkin di sanalah kekuatan sebenarnya: biopik musik yang tidak lagi bicara tentang legenda, tapi tentang translasi diri.
The Next Wave: Legends Reborn

Gelombang berikutnya sudah menanti:
- Michael (2026) — disutradarai Antoine Fuqua, dibintangi Jaafar Jackson. Dua bagian: kejayaan dan bayangan.
- Purple Reign (in development) — proyek ambisius tentang Prince, dengan pendekatan multi-aktor.
- Madonna: Little Star — disutradarai Madonna sendiri, karena siapa lagi yang bisa?
- Oasis Project — nostalgia tentang dua saudara dan satu kota yang melahirkan britpop.
- Starman Redux — rumor film baru tentang era Berlin Trilogy David Bowie dari A24.
- Billie Eilish Project — semi-fiksi tentang tumbuh dewasa di tengah ketenaran.
Dan saat kita pikir genre ini sudah mengangkat semua ikon besar, satu revolusi lain ternyata sedang diam-diam menyetem gitarnya di kejauhan.
The Beatles Project (2028)
“Empat kisah. Satu band. Sebuah revolusi yang diceritakan ulang.”

Ketika semua orang mengira kisah The Beatles sudah usai, Sam Mendes justru datang dengan ide paling ambisius: menulis ulang sejarah empat kali sekaligus.
Proyek megah ini akan hadir pada April 2028, terdiri dari empat film biografi terpisah — masing-masing dari sudut pandang John, Paul, George, dan Ringo.
Deretan pemerannya luar biasa: Paul Mescal sebagai Paul McCartney, Harris Dickinson sebagai John Lennon, Joseph Quinn sebagai George Harrison, dan Barry Keoghan sebagai Ringo Starr.
Keempat film akan dirilis berdekatan, menciptakan apa yang disebut Mendes sebagai “binge-able theatrical experience.”
“The Beatles dulu mengubah cara kita mendengarkan musik — sekarang mereka akan mengubah cara kita menontonnya.”
Jika Bohemian Rhapsody membuat Queen abadi, proyek ini bisa membuat The Beatles hidup kembali — bukan sekadar sebagai band, tapi sebagai empat hati yang berdetak dalam satu lagu panjang yang belum benar-benar usai.
Biopik musik hari ini sedang mencari nada baru.
Ia tidak lagi sekadar menduplikasi sejarah, tapi mencoba mendengar gema yang belum berhenti.
“We don’t write songs to explain life. We write them because we can’t.” — Bruce Springsteen
Kita menonton bukan karena ingin tahu akhir kisahnya,
tapi karena ingin mendengar lagi bagaimana lagu-lagu itu membuat kita hidup.
Ketika lampu panggung padam dan tirai tertutup, film-film ini tetap menyala — di dalam ingatan, di antara gema, di antara kita yang masih percaya bahwa musik bukan hanya soal nada, tapi soal jiwa.
“We don’t just remember the music. We remember who we were when it played.”
