THE QUEEN OF VILLAINS: Saat Dibenci Jadi Jalan Hidup
Di dunia hiburan, nggak semua orang ditakdirkan untuk dicintai. Sebagian justru dibutuhkan untuk dibenci.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
The Queen of Villains, serial Netflix asal Jepang, mengambil sudut pandang itu dengan serius. Ia bercerita tentang Dump Matsumoto, pegulat perempuan legendaris era 1980-an, yang namanya melekat bukan karena kemenangan heroik, tapi karena perannya sebagai musuh publik di atas ring.
Serial ini nggak mencoba mengubah Dump Matsumoto menjadi pahlawan. Ia juga nggak meminta penonton bersimpati berlebihan. Yang dilakukan serial ini lebih sederhana dan lebih jujur: menunjukkan bagaimana sosok “penjahat” itu dibentuk, dirawat, dan dipertahankan oleh industri hiburan yang haus konflik.
Diperankan oleh Yuriyan Retriever, karakter Dump Matsumoto digambarkan sebagai hasil dari proses panjang, bukan ledakan emosi sesaat. Dari perempuan biasa yang ingin diakui, ia perlahan didorong masuk ke peran antagonis karena itulah yang dibutuhkan panggung. Di titik ini, The Queen of Villains nggak hanya bicara soal gulat, tapi soal kerja emosional. Tentang bagaimana seseorang belajar memerankan kebencian demi kelangsungan karier.
Yang menarik, serial ini sangat sadar bahwa gulat profesional adalah pertunjukan. Ring bukan tempat mencari kebenaran, tapi drama. Dan seperti semua drama, ada peran yang harus dijalani. Dump Matsumoto bukan “jahat” karena sifat, tapi karena sistem. Ia menjadi simbol dari sesuatu yang lebih besar: perempuan yang memilih kekerasan dan provokasi sebagai bahasa agar didengar di dunia yang keras dan maskulin.
Secara visual dan produksi, The Queen of Villains terasa rapi dan serius. Rekonstruksi era 1980-an dilakukan dengan detail yang cukup meyakinkan, dari kostum, tata rambut, hingga atmosfer televisi dan arena gulat saat itu. Adegan pertandingan nggak dibuat berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan betapa fisik dan mental dunia ini.
Namun kekuatan utama serial ini bukan di ring, melainkan di luar ring. Konflik batin, rasa terasing, dan hubungan antartokoh dibangun dengan cukup sabar. Rivalitas dengan pegulat lain, terutama yang diposisikan sebagai “pahlawan”, memperlihatkan ironi menarik: bahwa tanpa penjahat, pahlawan nggak punya arti. Dump Matsumoto sadar akan itu, dan memilih bertahan di posisi yang dibenci karena di situlah ia dibutuhkan. Skor 9/10


