The Law According to Lidia Poët (S2): Ketika Perjuangan Nggak Lagi Butuh Panggung
Lidia Poët akhirnya kembali. Masih sama: pintar, keras kepala, dan terlalu maju untuk zamannya. Tapi di musim kedua ini, sesuatu berubah: dia nggak lagi cuma melawan sistem, dia juga mulai berdamai dengan dirinya sendiri.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Matilda De Angelis kembali memerankan Lidia dengan cara yang lebih subtil. Dia masih tajam, tapi sekarang lebih memilih untuk menusuk lewat dialog daripada teriak. Lidia kali ini bukan sekadar simbol feminisme di masa lampau, tapi manusia utuh yang capek, rapuh, dan tetap nggak mau menyerah. Dan di titik ini, serialnya jadi lebih dalam daripada sekadar cerita hukum.
Kasus-kasus yang muncul di musim ini lebih gelap, lebih politis. Ada racun misterius, kematian janggal, dan rahasia keluarga yang bikin suasana jadi lebih tegang dari musim pertama. Tapi yang bikin menarik bukan “siapa pelakunya”, melainkan bagaimana Lidia menavigasi sistem yang tetap nggak percaya padanya, meskipun dia sudah membuktikan diri berkali-kali.
Yang keren, The Law According to Lidia Poët tetap berhasil menjaga keseimbangan antara drama ruang sidang dan drama personal. Serial ini tahu kapan harus serius, kapan harus santai. Ada adegan yang menegangkan, tapi juga ada momen-momen kecil kayak secangkir teh hangat, tatapan, atau percakapan singkat, yang justru lebih kena ke penonton.
Secara visual, serial ini tetap indah. Italia abad ke-19 ditampilkan seperti lukisan yang hidup: lampu kuning lembut, bangunan batu, dan kostum yang detail banget. Tapi keindahan itu bukan cuma untuk alas an estetika. Semua punya fungsi: menegaskan betapa rapuhnya perempuan di zaman itu, sekaligus sekuat apa Lidia untuk tetap berjalan di atas sepatu haknya.
Musim kedua serial ini juga lebih berani bicara soal pilihan pribadi. Lidia sekarang bukan cuma pengacara yang pengen diakui, tapi juga seseorang yang lagi mencari tempat di dunia yang terus berubah. Hubungannya dengan Jacopo makin rumit. Namun, kedua sosok keras kepala ini mencoba tetap dekat di dunia yang nggak ramah pada kompromi.
Kalau musim pertama bikin kita kagum sama Lidia karena keberaniannya, di musim kedua kita dibikin hormat karena ketabahannya. Ada kalimat yang kayaknya jadi benang merah musim ini: perjuangan nggak selalu butuh panggung, kadang cukup ruang kecil di dalam diri buat tetap percaya.
Kelemahan, tentu ada? Beberapa kasusnya masih terasa seperti “formula mingguan”: misteri, sidang, dan penutupan. Tapi semua itu tertutupi oleh karakter yang makin matang. The Law According to Lidia Poët semakin mantap menceritakan perempuan yang tetap berdiri meskipun sistemnya masih sama. Tentang bagaimana hukum kadang kalah sama hati nurani, tapi Lidia tetap mencoba menulis ulang keduanya.
Nilai: 8,5/10.


