THE BIG FAKE: Bakat Seni Jadi Tiket Masuk Neraka
Niat hati pengen jadi pelukis top di Roma, Toni Chichiarelli malah jadi pemalsu kelas kakap buat mafia.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Kalau lagi bosen sama film kriminal Hollywood yang formulanya gitu-gitu aja, coba deh melipir ke Italia lewat film The Big Fake (El Falsario). Baru rilis di Netflix, film ini ngasih vibes 70-an yang asik banget secara visual, tapi punya cerita yang bikin kita mikir.
Film ini diangkat dari kisah nyata Toni Chichiarelli (dimainkan dengan karismatik oleh Pietro Castellitto), seorang seniman yang awalnya datang ke Roma dengan mimpi sederhana: jadi pelukis top. Tapi ya namanya hidup, realita sering nggak seindah lukisan. Karena karyanya nggak laku-laku amat, Toni akhirnya banting setir.
Bukan jadi ojol, tapi jadi pemalsu. Dan bukan sekadar malsuin tanda tangan absen, tapi malsuin karya seni kelas kakap sampai dokumen negara.
Yang bikin film ini menarik tuh proses transisinya. Kita diajak ngelihat gimana Toni yang awalnya cuma “seniman lapar” pelan-pelan keseret masuk ke lingkaran setan mafia Italia (Banda della Magliana), sampai intrik politik yang nyerempet kasus penculikan Aldo Moro. Sutradara Stefano Lodovichi pinter banget ngebungkus Roma tahun 70-an yang chaos tapi tetap stylish.
Tapi…..nah ada tapinya nih, buat saya pribadi, film ini terasa agak “dingin”.Secara visual emang cakep, soundtrack-nya juga enak. Tapi entah kenapa, koneksi emosional ke karakternya agak kurang nendang. Kita dikasih lihat Toni yang makin lama makin tenggelam dalam kebohongan yang dia buat sendiri. Tapi di beberapa momen, rasanya kita cuma jadi penonton jauh, nggak diajak ikut ngerasain deg-degannya dia. Hubungan dia sama pacarnya, Donata, juga sebenernya manis, tapi kadang ketutup sama ambisi plot kriminal yang njelimet.
Ironisnya, judul The Big Fake ini pas banget. Toni hidup dalam kepalsuan yang dia ciptain, sampai dia sendiri bingung mana yang asli mana yang palsu.
The Big Fake ini tontonan yang “oke” buat ngisi waktu luang, apalagi kalau kamu suka sejarah kriminal atau vibe retro Eropa. Ceritanya unik karena dari sudut pandang pemalsu, bukan gangster yang hobi tembak-tembakan doang. Cuma ya itu, jangan berekspektasi bakal baper parah. Tonton buat gayanya, nikmati alurnya. Nilai 7/10!


