The Beast Telah Pergi

Ecky Lamoh pergi di sebuah pagi yang tenang di Yogyakarta, 30 November 2025. Kabar itu cepat menyebar: mantan vokalis Edane dan Elpamas itu wafat pada usia 64 tahun, setelah beberapa hari berjuang melawan komplikasi penyakit. Detaknya berhenti sekitar pukul dua dini hari. Hening. Indonesia kehilangan salah satu suara paling khas yang pernah lahir di panggung rock kita.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Buat banyak orang, nama Ecky selalu punya tempat spesial di ingatan. Suaranya tinggi, serak, dan bertenaga. Sebuah kombinasi yang jarang, dan di masanya terasa seperti sesuatu yang tidak datang tiap lima tahun sekali. Ada vokalis yang mengandalkan teknik, ada yang mengandalkan gaya. Ecky adalah jenis yang langsung terasa dari satu tarikan napas: begitu membuka suara, kita tahu itu dia. Tidak perlu ditebak.

Perjalanan pemilik nama Alexander Theodore Lamoh ini cukup panjang. Lahir di Jakarta, 13 Juli 1961, Ecky sebenarnya pertama kali muncul sebagai aktor cilik di film Pencopet tahun 1973. Dari sana, karakter panggungnya terbentuk: percaya diri, kuat, dan punya sorot mata yang selalu meyakinkan. Ketika ia mulai menyanyi, semua itu ikut terbawa. Ia bukan tipe vokalis yang diam di tempat. Ecky adalah frontman.

Sebelum nama “Ecky Edane” dikenal luas, ia lebih dulu mencatatkan jejak bersama Elpamas. Di sinilah ia menyentuh blues, rock and roll, dan musik-musik yang lebih soulful. “Melancholy Blues,” salah satu lagu dari fase itu, sering disebut sebagai salah satu rekaman blues berbahasa Inggris paling awal di Indonesia. Dan itu cocok dengan Ecky, musik baginya selalu soal rasa, bukan sekadar keras-kerasan.

Namun takdirnya di musik Indonesia mengerucut pada satu periode pendek tapi bersejarah: 1991–1992, masa kelahiran Edane dan album The Beast. Formasinya waktu itu gila: Eet Sjahranie yang gitarannya seperti jet tempur, Fajar di drum, Iwan Xaverius di bass, dan Ecky sebagai suara yang memimpin di depan.

Ketika The Beast rilis, Indonesia seperti ditempeleng. Musiknya beda, kualitasnya beda, vokalnya beda. Ecky menjerit, melengking, dan menghantam setiap bagian lagu seperti seseorang yang benar-benar lahir untuk berada di depan panggung. Masa itu pendek, cuma satu album, tapi impact-nya besar. Bukan cuma buat Edane, tapi buat peta rock Indonesia.

Anehnya, justru karena singkat itulah mitosnya terbentuk. Ecky keluar dari Edane nggak lama setelah The Beast meledak. Nggak pernah ada cerita yang jelas. Tapi banyak yang percaya: mungkin ia lebih cocok dengan musik yang lebih jujur dan spiritual, atau memang tubuhnya tidak lagi cocok memaksakan vokal se-ekstrim itu. Apa pun penyebabnya, keputusan itu diam-diam membuat sosoknya makin legendaris. Ada masa kejayaan yang ia tinggalkan saat masih panas-panasnya. Tidak semua orang punya keberanian itu.

Beberapa tahun terakhir, Ecky lebih banyak menghabiskan waktu di Yogyakarta. Ia kembali menyanyi blues, membimbing musisi muda, sesekali tampil off-air ketika fans benar-benar rindu suara lengkingannya. Ia tetap produktif, tetap menjadi Ecky yang hangat ketika tidak berada di depan mic. Rekan-rekan musisi menyebutnya sebagai sosok yang rendah hati, mudah diajak ngobrol, dan selalu memberi dukungan pada generasi baru. Ketika sakitnya mulai memburuk, banyak musisi dan penggemar ikut menggalang doa dan bantuan. Komunitas rock jarang seromantis itu, kecuali untuk orang yang benar-benar berarti.

Kini Ecky sudah pergi, tapi suaranya tidak. The Beast akan terus diputar, dan generasi baru akan tetap bertanya: “Siapa vokalis Edane yang suaranya gila banget ini?” Dan kita akan menjawab: itu Ecky Lamoh, seorang vokalis yang mungkin hanya singgah sebentar di panggung besar, tapi meninggalkan gema yang panjang.

Selamat jalan, Mas Ecky. Terima kasih untuk semua energi, semua lengkingan, semua rasa. Rock in peace!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *