THE ART OF SWEAT: Bagaimana Jepang dan Korea Membangun “Semangat Olahraga” Baru Lewat Serial
Dari keringat di lapangan sampai air mata di layar, Jepang dan Korea bikin olahraga jadi kisah yang bisa dirasakan semua orang.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Ada masa ketika olahraga cuma hidup di papan skor. Tapi begitu Jepang dan Korea memindahkannya ke layar, yang ikut pindah adalah napas, disiplin, rasa sakit, keseruan saat latihan, dan momen ajaib yang nggak bisa dicapai dari latihan.
Kedua negara ini punya jalur yang berbeda dalam memproduksi serial olahraga. Jepang lebih dulu memahat “semangat bertarung” sebagai budaya populer. Sementara Korea maju dengan konsep baru, memadukan drama yang bicara tentang tumbuh dewasa, cinta, dan harga diri dalam kisah-kisah olahraganya.
Bicara langkah, Jepang jauh di depan. Mereka start lebih awal di akhir ‘60-an, saat Attack No.1 membuat seisi negeri paham bahwa sebuah smash bisa seikonik pelukan.
Setelahnya, datang School Wars (1984), serial yang mengubah rugby jadi drama penebusan; Water Boys (2003) yang membungkus renang indah pria dengan humor; Pride (2004) yang membuat hoki es terasa maskulin dan sekaligus rapuh; Ace wo Nerae! (2004) dan Attack No.1 (2005) versi live-action yang memindahkan mitologi manga ke prime time; H2 (2005) yang memadatkan manis-pahit baseball SMA; sampai Rookies (2008) yang sukses mengubah kelas nakal jadi tim basket bernyali.
Dua hal menonjol dari produksi Jepang adalah kiblat manga sebagai “pabrik IP” dan filosofi supokon. Rata-rata karakternya terlihat keras saat latihan, namun lembut di hati.
Masuk 2010–2020-an, variasi serial olahraga yang diproduksi makin liar. Ada Roosevelt Game yang mengawinkan dunia korporat dengan baseball, No Side Manager mengangkat hal yang kurang lebih sama tentang rugby tepat saat Piala Dunia digelar di Jepang, sementara Sanctuary (2023) menampilkan olahraga sumo dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Bukan kisah nostalgia, tapi brutal dan modern: dunia lumpur, peluh, dan ambisi.
Sanctuary bahkan memperlihatkan sisi paling mentah dari budaya Jepang yaitu disiplin yang bercampur kekerasan, serta tradisi yang berdialog dengan insting. Bagi penonton muda, ini adalah pintu baru untuk mengenal sumo tanpa harus memahaminya lewat sejarah. Bagi dunia, ini potret Jepang yang berani menantang mitos kesakralan olahraga nasionalnya. Lewat Netflix, Sanctuary mendadak membuat sumo terasa keren, kelam, dan kontemporer.

***
Korea datang menyusul belakangan di serial olahraga. Meski tertinggal, negeri ini mampu menulis ulang notasinya.
Taereung National Village (2005) bisa dibilang merupakan eksperimen perdana Korea dalam menggabungkan kisah olahraga dengan cinta. Selanjutnya, ada Weightlifting Fairy Kim Bok-Joo (2016) . Serial yang sukses membongkar stereotip. Di mana perempuan kuat boleh canggung, lucu, dan jatuh cinta. Diikuti Fight for My Way (2017) yang menjahit mimpi kelas pekerja dengan MMA; Hot Stove League (2019) kisah tentang manajer klub yang akan dibubarkan ini membuktikan bahwa rapat strategi bisa lebih menegangkan dari inning ke-9, dan jangan lupa Racket Boys (2021) yang meski punya kontroversi dan disorot oleh netizen Indonesia, sukses membawa badminton desa ke Netflix,
Semakin ke sini, ada Twenty-Five Twenty-One (2022). Serial ini berhasil mengubah anggar jadi metafora besar untuk generasi yang tumbuh di reruntuhan krisis. Berbeda dari Jepang, kunci sukses serial olahraga Korea adalah menjadikannya pintu menuju emosi yang “kita banget”. Mulai dari kalah, malu, bangkit, lalu mencoba lagi.
***
Respons penonton terhadap serial jenis ini pun menyenangkan.
Jepang punya rekam jejak rating bongsor saat bintang top memimpin. Salah satunya Pride dengan Takuya Kimura. Serta gelombang emosional saat adaptasi manga olahraga berhasil menyalakan nostalgia (Rookies).
Sementara, Korea lebih sering bermain di dua panggung: domestik yang ketat dan internasional yang cair. Banyak judul lahir “biasa saja” di TV nasional, tapi berubah jadi kultus di platform global.
Salah satunya adalah Weightlifting Fairy. Serial ini punya low rating di Korea, namun dibicarakan di panggung global. Penonton internasional menangkap kejujuran dan kehangatan yang kadang tak terlihat oleh angka. Dan kebetulan, algoritma mempertemukan mereka.
Sanctuary juga contoh menarik dari arah sebaliknya. Drama ini justru meledak di panggung global sebelum viral di Jepang. Dengan visual yang keras dan karakter abu-abu, serial ini menarik penonton dunia yang haus akan drama olahraga non-hollywood. Yang ceritanya tidak seperti kisah cinderella. Kisah yang lebih dekat ke lumpur daripada trofi.
Kok bisa begitu? Karena olahraga memberi kerangka sederhana untuk isu rumit. Underdog selalu punya pasar, dan rivalitas yang sehat membuat kita tertawa sekaligus tegang.
Dan saat kamera jeli, gerak tubuh atlet menjelma jadi puisi. Saat itulah, Jepang unggul dalam “ritme latihan”, sementara Korea unggul dalam “ritme hati”.
Ketika olahraga pindah ke layar, yang ikut berpindah bukan cuma skor — tapi juga napas, disiplin, dan emosi manusia. Jepang dan Korea jadi dua negara Asia yang paling berhasil mengubah keringat jadi narasi. Dari Attack No.1 sampai Twenty-Five Twenty-One, dari School Wars sampai Sanctuary, mereka menciptakan “semangat olahraga” baru yang lebih manusiawi dan sinematik.
Meski punya resep sukses yang beerbeda, keduanya akan jatuh ketika dua hal terjadi.
Penonton sekarang cukup jeli melihat gerak dan taktik asal-asalan. Termasuk saat menyadari ada naskah yang memaksa munculnya drama di luar logika cabang olahraga yang diangkat. Selain itu, era streaming menuntut sensitivitas budaya; salah gambar, salah dialog, konsekuensinya global dalam semalam.
Lalu, apakah serial-serial yang dibuat benar-benar meningkatkan imej olahraga lokal?
Jawabannya: iya! Jepang berhasil memanen efek “kebanggaan” dan meningkatkan kesadaran pada cabang yang kurang populer seperti hoki dan rugby. Sementara, sumo sukses menyeberang batas budaya berkat Sanctuary.
Sementara, Korea berhasil mengangkat atlet perempuan menjadi figur yang diidolakan bukan karena glamor, melainkan karena disiplin dan keberanian. Memperlihatkan
bahwa olahraga bukan monopoli medali, melainkan proses menjadi manusia yang lebih utuh.

Di luar itu, ada dampak yang tak tercatat di spreadsheet. Anak sekolah yang mendaftar klub anggar setelah nonton Hee-do meningkat. Banyak mahasiswa yang berhenti mengolok tubuhnya setelah jatuh cinta pada Bok-Joo. Dan para manajer tim kecil yang percaya bahwa keputusan-keputusan yang diambil dengan tenang bisa mengubah musim, berkat Seung-soo.
Pada akhirnya, dari Tokyo ke Seoul, serial olahraga mengajarkan satu hal yang sama: skor bukan akhir cerita. Di Jepang, kita belajar dari keringat yang membanjir di lapangan. Sementara di Korea, kita belajar dari air mata yang wajar.
Dua gaya, satu pesan. Olahraga, ketika dipindah ke layar, berhenti menjadi kompetisi. Olahraga berubah jadi cermin, dan di cermin itu penonton domestik maupun internasional melihat sosok yang ingin mereka kejar.
Bukan juara dunia, tapi manusia yang nggak capek mencoba.(*)


