TASTEFULLY YOURS: Perjalanan Panjang Menemukan Rasa yang Pernah Ada
Menonton film tentang masak itu menyenangkan. Entah kenapa, setiap kali saya menyaksikan film tentang masak, yang terbayang adalah rasa yang hadir dari masakannya. Membuat saya sedikit berliur dan ingin segera ke dapur untuk bereksperimen bagi lidah.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Hal yang sama saya rasakan saat menyaksikan Tastefully Yours. Di tengah banyaknya drama penuh konflik dan romansa yang meledak-ledak, serial ini justru menawarkan ketenangan. Ibarat sup kaldu yang direbus perlahan, ia tidak buru-buru menggoda, tapi pelan-pelan menempel di ingatan.
Berlatarkan kota Jeonju yang terkenal dengan warisan kulinernya, drama ini tidak hanya menjadikan makanan sebagai pemanis visual. Ia benar-benar menjadikan setiap masakan sebagai bagian dari narasi. Kita dibawa masuk ke dapur kecil, pasar tradisional, dan meja makan sempit tempat perasaan tumbuh tanpa perlu dikejar. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa tiap adegan terasa seperti uap hangat dari panci sup, nggak menyengat, tapi menenangkan.
Yang paling terasa dari awal episode adalah suasana. Tidak ada gebrakan besar atau twist dramatis yang dipaksakan. Yang ada adalah ritme kehidupan sehari-hari: suara wajan, aroma tumisan, suasana pagi yang tenang di sebuah restoran kecil, dan percakapan sederhana yang secara mengejutkan terasa mengena. Drama ini tidak terburu-buru membuat kita jatuh cinta. Tapi justru karena itu, kita dibuat tinggal lebih lama.
Dua tokoh utamanya berasal dari latar belakang yang berbeda. Namun bukan soal “berbeda kelas” atau “dunia yang tak mungkin bersatu” seperti klise drama kebanyakan. Justru mereka seperti dua resep dari tradisi berbeda yang mencari cara untuk menyatu dalam satu sajian. Percakapan mereka tidak selalu indah, tapi jujur. Interaksi mereka tidak selalu manis, tapi tidak dibuat-buat. Dan di antara semua itu, makanan hadir sebagai medium yang menautkan.
Kekuatan drama ini bukan pada satu konflik besar, melainkan pada akumulasi momen-momen kecil yang dibiarkan tumbuh. Kadang lewat satu piring makan siang, kadang hanya lewat tatapan di dapur. Seringkali kita tidak sadar bahwa hubungan antar tokoh sudah berkembang, karena semua terasa begitu alami. Seperti air mendidih yang awalnya hanya mengeluarkan gelembung kecil.
Sinematografinya pun mendukung nada cerita. Warna-warna hangat, cahaya alami, dan framing yang intim membuat kita seperti sedang duduk langsung di dapur para tokohnya. Bahkan ketika tidak ada dialog, gambarnya cukup bercerita. Ini bukan sekadar soal makanan terlihat enak di layar, tapi bagaimana makanan itu terasa punya memori. Kadang terasa seperti aroma yang mengingatkan kita akan seseorang yang pernah memasak untuk kita.
Tak hanya soal romansa, drama ini juga bicara tentang keluarga, kehilangan, identitas, dan bagaimana semua itu seringkali termanifestasi lewat makanan. Tapi ia menyampaikannya dengan tenang. Tidak ada narasi besar yang memaksa kita untuk menangis. Justru karena itu, kita bisa lebih mudah terhubung.
Yang membuat saya terus bertahan hingga episode akhir bukan hanya penasaran akan kisah cintanya, tapi karena saya merasa betah berada di dunia kecil yang dibangun oleh serial ini. Dunia yang sederhana dan mampu mengingatkan kita bahwa perasaan bisa hadir bukan hanya lewat kata, tapi juga lewat semangkuk masakan hangat.
Skor 8.5/10.


