“SKELETON CREW”: Star Wars Rasa Stranger Things

“Skeleton Crew” itu seperti anak-anak yang nyasar ke galaksi jauh dan bingung cara pulang. Tapi, bukannya panik, mereka malah tertawa akan nasib mereka sendiri. 

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Ini memang bukan Star Wars yang biasa kita tonton, tapi bisa jadi ini Star Wars yang kita butuhkan pas lagi butuh tontonan ringan sambil makan mie instan tengah malam.

Ada Jude Law yang jadi mentor misterius. Jangan bayangkan dia bakal sekeren Obi-Wan atau sekarismatik Mando. Dia lebih kayak guru yang rada malas, tapi entah gimana tetap bikin orang tertarik buat mendengar omongannya.

Jujur, dua episode pertama berasa kayak jalan di lumpur. Pelan, lengket, dan yang terasa adalah keinginan untuk men-skip adegan langsung ke bagian yang seru. Tapi begitu serial ini akhirnya ngegas, mulai deh terasa vibe petualangan yang bikin kita ingat film-film Amblin tahun 80-an. “The Goonies” tapi di luar angkasa. “E.T.” tapi tanpa alien berkepala botak dan lebih banyak spaceship keren. Atau yang lebih kekinian “Stranger Things“.

Karakter bocah-bocahnya punya chemistry yang lumayan solid, walau kadang dialog mereka terdengar seperti ditulis oleh orang dewasa yang lupa gimana rasanya jadi anak kecil. Tapi siapa yang peduli? Ini Star Wars, bukan dokumenter tentang anak-anak milenial.

Visualnya cakep, meskipun ada beberapa momen CGI yang terasa kayak efek game PS4 yang dipaksa tampil di layar bioskop IMAX. Naskahnya juga nggak selalu konsisten, dengan beberapa episode yang lebih kerasa kayak filler daripada sesuatu yang benar-benar mendorong cerita maju.

Dan ending-nya? Well, bayangin kita naik roller coaster seru, tapi pas di ujung trek, malah dikasih turun pake tangga darurat. Ada kepuasan, tapi juga ada rasa “kok gini doang?”

Tapi gini deh, kalau mencari tontonan Star Wars yang nggak terlalu serius, yang bisa ditonton sambil rebahan tanpa harus mencatat teori konspirasi di Reddit, “Skeleton Crew” cukup worth it. Ini bukan kayak “Andor” yang penuh intrik politik dan kedalaman emosional, tapi juga bukan “The Book of Boba Fett” yang harusnya tetap terkubur di Sarlacc Pit. Serial ini fun, kadang berantakan, tapi punya jiwa petualangan yang cukup buat bikin kita betah nonton sampai akhir.

Skor 8/10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *