Sheila Majid: Dari Big Band Menuju Konser 40 Tahun Karir Musiknya

Sheila membuktikan dirinya bukan hanya diva pop, tapi juga performer sejati yang mampu berdialog dengan aransemen kompleks.

Oleh : DJOKO ADNAN

Kuala Lumpur, Maret 2023 — Malam itu, lebih dari 3.000 penonton memenuhi World Trade Centre Kuala Lumpur (WTCKL). Panggung besar dengan pencahayaan elegan perlahan meredup, dan dentuman brass section mulai terdengar. Dari kejauhan, sosok Sheila Majid melangkah ke panggung dengan penuh percaya diri. Begitu lagu pertama dimulai, ruangan seolah kembali ke era emas jazz dan pop Malaysia.

Bagi banyak orang, Sheila Majid adalah ikon yang melampaui generasi. Lagu-lagunya seperti “Sinaran”, “Antara Anyer dan Jakarta”, hingga “Legenda” bukan sekadar hit radio . Mereka adalah bagian dari memori kolektif. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, saya menyaksikan Sheila tampil di negara kelahirannya. Sebagai penggemar yang mengikuti sejak album debutnya, pengalaman ini terasa istimewa: bukan hanya menonton konser, tapi seperti menutup lingkaran nostalgia yang telah berjalan puluhan tahun.

Yang membuat momen ini semakin berkesan, selepas konser saya mendapat kesempatan bertemu langsung di belakang panggung. Semua CD koleksi lama saya ditandatangani satu per satu oleh Sheila , sebuah gestur sederhana, tapi bagi seorang fans, priceless.

Brass, Groove, dan Big Band

Konser bertajuk Sheila Majid Big Band Live in KL ini mengusung konsep yang jarang ditemui dalam konser pop modern. Dengan iringan 23 musisi, termasuk 13 pemain horn, tujuh musisi band, dan tiga backing vocal, format Big Band malam itu memberikan nuansa megah, elegan, sekaligus playful. Dipimpin oleh music director legendaris Mac Chew, Sheila membuktikan dirinya bukan hanya diva pop, tapi juga performer sejati yang mampu berdialog dengan aransemen kompleks.

“Sheila bukan sekadar nyanyi di atas format Big Band , dia benar-benar menari dengan musiknya,” ujar salah satu penonton di samping saya asal Penang malam itu. Dan benar, sejak segmen pembuka, Sheila langsung mengajak audiens mengenal format brass Big Band yang sesungguhnya. “Ramai yang tak faham apa itu Big Band. Malam ini, kami mahu tunjukkan kepada penonton… inilah Big Band,” ujar Sheila di atas panggung.

Kembali ke 1988

Bagi Sheila, tampil di WTCKL malam itu juga membuka kembali kenangan lama. Ia mengingat konser besarnya di Dewan Merdeka pada 1988 — momen ikonik dalam kariernya. “Masa tu saya muda, pakai skirt pendek, melompat-lompat… Saya rasa waktu itu saya belum berpengalaman untuk berinteraksi dengan penonton,” kenangnya sambil tertawa.

Kini, puluhan tahun kemudian, banyak hal telah berubah. “Sekarang saya sudah semakin yakin dalam direction muzik saya, dan lebih mahir dalam berinteraksi dengan penonton,” tambahnya. Saat lagu pertama dimainkan, Sheila sempat terdiam sesaat, memperhatikan seluruh penonton. “Saya terharu melihat penonton datang begitu banyaknya,” ujarnya dengan mata berbinar.

Selama lebih dari dua jam, Sheila membawakan 20 lagu, termasuk segmen tribute kepada idolanya, sang legenda Tan Sri P. Ramlee. Medley “Aduh Sayang”, “Getaran Jiwa”, “Bunyi Gitar”, “Tiru Macam Saya”, hingga “Manusia” mengalir mulus, menghubungkan generasi muda dan penonton setia. Malam itu bukan sekadar konser — ia adalah perayaan musik Melayu dan jazz dalam format yang jarang muncul di panggung modern.

Tidak Ada Kata Pensiun

Sheila Majid, atau Shaheila Abdul Majid, telah berkarier hampir empat dekade. Tapi ketika ditanya soal pensiun, jawabannya tegas: belum sekarang. “Ada satu tahap saya pernah rasa cukuplah dengan dunia industri seni… umur pun dah melebihi 55 tahun,” ujarnya. “Tapi bila saya berdoa, saya selalu cakap: Ya Allah, kalau kerjaya ini tak berkat, tolong buka pintu rezeki lain buat saya. Tapi tawaran menyanyi tetap datang. Saya suka musik dan beraksi di atas pentas.”

Konser Big Band 2023 ini sendiri merupakan jawaban atas kerinduan para penggemarnya. “Peminat banyak kali tanya bila saya nak buat konsert. Jadi ini jawabannya,” ujar Sheila. Ia juga mengakui banyak permintaan tampil datang dari Indonesia, negara yang ikut membesarkan namanya lewat lagu “Antara Anyer dan Jakarta”.

Menuju 40 Tahun Karier

Momen Big Band 2023 ini kini terasa semakin penting ketika Sheila bersiap menyambut tonggak besar kariernya. Dalam konferensi pers pada Rabu (16/7), Sheila mengumumkan akan menggelar konser Sheila Majid 40 Years In Music pada 8 November 2025 di Axiata Arena, Kuala Lumpur. Konser ini akan menjadi perayaan penuh tiga jam, membawakan repertoar lengkap kariernya — dari “Sinaran” hingga “Legenda”.

“Selama tiga jam penuh, konser ini akan menghadirkan repertoar saya secara utuh,” ujarnya penuh antusias. Produksi konser ini akan melibatkan nama-nama yang telah menjadi “tulang belakang” karier Sheila: Mac Chew, Jenny Chin, dan Jennifer Thompson di balik layar, serta Steve Ho sebagai desainer panggung dan tata cahaya, siap menghadirkan pengalaman visual tak terlupakan.

Sheila mengaku gugup menjelang konser besar ini, tapi juga bersyukur. “Ini momen istimewa untuk membalas cinta para peminat,” katanya. Dengan reputasi Axiata Arena sebagai venue megah dan kapasitas besar, konser ini diharapkan menjadi salah satu pertunjukan musik paling berkesan tahun ini — bukan hanya untuk Malaysia, tapi juga bagi para penggemar dari Indonesia yang selama ini setia mengikuti jejaknya.

Perayaan Cinta

Melihat Sheila Majid malam itu, di atas panggung negaranya sendiri, ada rasa yang sulit dijelaskan: campuran nostalgia, kebanggaan, dan kekaguman terhadap seorang musisi yang tetap relevan setelah hampir 40 tahun. Ia tidak hanya bertahan — ia berkembang, bereksperimen, dan terus mengundang audiensnya untuk ikut dalam perjalanan musikalnya.

Bagi saya pribadi, Konser Sheila Majid Big Band di KL bukan sekadar konser. Ini adalah perayaan cinta panjang seorang fans terhadap musik yang mengiringi masa muda saya, dan terhadap sosok yang konsisten menjaga kualitas dan kelasnya. Dan dengan konser 40 Years In Music yang akan datang, Sheila Majid tampaknya belum selesai menulis bab-bab penting dalam sejarah musik pop dan jazz saat ini. Dan akan terus dihidupkan lewat suara emasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *