Seni Bercerita Ala Valentinus Resa
Pada suatu malam, layar televisi menampilkan seorang presenter yang tak biasa. Ia mengenakan jas rapi, berdiri dengan percaya diri, lalu membuka siaran berita dengan celetukan jenaka yang terdengar seperti lelucon di panggung stand-up comedy.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Penonton tertawa, tersentak, lalu mendengarkan. Nama presenter itu Valentinus Resa, wajah baru yang menghidupkan dunia jurnalistik televisi Indonesia melalui program Meet Nite Live di Metro TV.
Alih-alih gaya formal dan kaku seperti yang biasa kita lihat, Valentinus tampil dengan gaya segar—mengemas berita serius dengan humor, satir, dan analogi yang membumi. Dalam salah satu segmen yang viral, ia menyebut tokoh publik sebagai “kaleng biskuit isi rengginang”—sebuah kiasan cerdas yang menggelitik dan mudah diingat. Gaya ini langsung menarik perhatian publik, khususnya generasi muda yang mulai bosan dengan sajian berita konvensional.
Apa yang dilakukan Valentinus bukan sekadar tampil beda. Ia sedang menerapkan gaya infotainment journalism, yaitu penyajian informasi serius dalam balutan hiburan.
Konsep ini berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan pasar akan konten yang tidak hanya informatif, tapi juga menghibur. Dalam jurnalistik modern, istilah ini merujuk pada pengaburan batas antara berita dan hiburan, sebuah kecenderungan yang banyak dibahas dalam kajian media oleh Neil Postman dalam bukunya Amusing Ourselves to Death (1985), yang mengkritik bagaimana televisi menjadikan semua hal—termasuk berita—sebagai bentuk hiburan.
Pendekatan ini dapat dijelaskan lebih lanjut melalui Uses and Gratifications Theory, teori komunikasi yang dikembangkan oleh Elihu Katz, Jay Blumler, dan Michael Gurevitch pada tahun 1973. Teori ini menyatakan bahwa audiens memilih media berdasarkan kebutuhan—baik itu informasi, hiburan, atau identifikasi diri.
Dengan caranya, Valentinus memenuhi kebutuhan penonton yang ingin tetap mengetahui isu-isu aktual, namun dengan cara yang ringan dan menghibur. Ia berbicara dalam bahasa sehari-hari, menambahkan ekspresi yang hidup, dan sering kali menyelipkan sindiran cerdas yang membuat berita terasa lebih dekat dengan realitas penonton.
Efektivitas gaya ini terlihat jelas dari penyebaran konten Valentinus di media sosial. Potongan video penampilannya dibagikan ulang ribuan kali, mengundang komentar positif dari penonton yang merasa lebih “nyambung” dengan gaya tersebut. Ia menjangkau mereka yang biasanya enggan menonton berita malam.
Namun, di balik kekuatan ini, ada risiko yang membayangi. Humor yang berlebihan bisa membuat pesan utama menjadi kabur. Analogi yang terlalu kreatif bisa disalahartikan. Di sinilah pentingnya keseimbangan antara bentuk dan isi, antara gaya dan substansi.
Lalu bagaimana dengan etika jurnalistik? Kode Etik Jurnalistik Indonesia—yang diatur oleh Dewan Pers—menekankan pentingnya akurasi, keberimbangan, dan pemisahan fakta dari opini. Gaya Valentinus memang menantang batas-batas ini, namun bukan berarti melanggarnya.
Selama fakta tetap akurat dan tidak menyesatkan, penyajian yang ringan bisa diterima. Yang penting, penonton harus bisa membedakan mana informasi dan mana opini atau sarkasme. Ini mirip seperti yang dijelaskan oleh Framing Theory dari Erving Goffman (1974) dan Robert Entman, yang menyatakan bahwa media tidak hanya menyampaikan realitas, tapi juga membingkainya. Valentinus membingkai berita dengan sudut pandang baru—lebih santai, lebih jenaka, tapi tetap membawa makna.
Menimbang itu semua, Valentinus Resa bukan sekadar presenter; ia adalah cerminan dari perubahan cara kita mengonsumsi berita. Dalam dunia yang penuh distraksi, pendekatan seperti miliknya bisa menjadi jembatan antara informasi dan atensi. Ia menunjukkan bahwa berita tidak harus membosankan untuk bisa bermakna.
Selama prinsip jurnalistik tetap dijaga, gaya ini bisa dianggap sebagai bentuk evolusi dalam penyampaian berita. Sebuah cara baru untuk menyampaikan kebenaran—tanpa kehilangan senyum di wajah penontonnya.


