SEJARAH PANJANG ROCKER PEREMPUAN: Dari Distorsi Pertama hingga Panggung Glastonbury

Perempuan bukan hanya pemanis di panggung rock. Mereka adalah pionirnya!

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Sejarah musik rock sering digambarkan sebagai dunia yang dibentuk oleh laki-laki: Elvis yang menggoyang pinggul, Hendrix membakar gitar, Zeppelin mengisi stadion, Cobain menulis kekacauan generasi, dan sampai sekarang poster rock masih didominasi wajah pria.

Tapi kalau kita tarik garis lebih jauh ke belakang, narasinya langsung retak. Karena sejak awal, perempuan bukan cuma ada di pinggir panggung. Mereka ada di tengah pusat gempa. Membentuk fondasi, menciptakan suara, dan membuka ruang yang akhirnya dipakai ratusan rocker pria setelahnya.

Rock perempuan itu bukan fenomena baru. Bukan “tren” atau “alternatif”. Mereka ada sejak sebelum rock diberi nama. Mereka membuka jalan di era ketika perempuan nggak dianggap pantas memetik gitar, apalagi memainkan musik keras. Dan sampai hari ini, jejaknya terlihat jelas. Dari gereja di Arkansas tahun 1930-an sampai ke panggung Glastonbury tahun 2024, dari Surabaya 1960-an sampai Garut di era digital.

Perjalanan rocker perempuan adalah cerita tentang keberanian yang hampir selalu lahir terlalu dini. Terlalu maju untuk zamannya, tapi justru membentuk arah masa depan. Dan sejarah ini telat kita rayakan puluhan tahun.

Sister Rosetta Tharpe, peletak jalan rock n roll.

***

Semuanya berawal dari seorang perempuan yang memainkan gitar listrik jauh sebelum rock lahir. Namanya Sister Rosetta Tharpe. Dia tumbuh dalam lingkungan musik gospel, tapi sejak kecil sudah bermain gitar dengan teknik yang bahkan sekarang masih bikin musisi modern geleng kepala.

Di akhir 1930-an, dia mengambil gitar elektrik Gibson dan tanpa sadar menyalakan api pertama rock. Distorsi, slide, syncopated riffs, semuanya sudah ada di permainan Tharpe. Bahkan para legenda rock laki-laki mengakui pengaruhnya: Chuck Berry meniru gaya panggungnya, Elvis meniru frase vokalnya, Eric Clapton belajar dari lick gitarnya.

Masalahnya, industri musik pada masa itu nggak siap mengakui perempuan kulit hitam sebagai pencipta suara baru. Tharpe dijuluki “The Godmother of Rock and Roll”, tapi label itu datang terlambat, setelah rock sudah menjadi industri miliaran dolar yang digerakkan laki-laki. Padahal, dia yang menancapkan benderanya duluan.

Setelah Tharpe, generasi berikutnya datang dengan energi bahkan lebih liar. Big Mama Thornton muncul dengan suara kasar dan power yang jarang dimiliki penyanyi perempuan kala itu. Thornton merekam “Hound Dog” lebih dulu, tapi lagu itu baru mendunia ketika Elvis menyanyikannya ulang. Thornton adalah pengingat bahwa industri selalu lebih cepat mengangkat pria ketimbang perempuan, bahkan ketika perempuan itu lebih berbakat.

Lalu ada Wanda Jackson, yang sekarang dikenal sebagai “Queen of Rockabilly”. Wanda membawa vokal melengking dan energi liar ke panggung. Dia bukan penyanyi yang berdiri manis di depan mikrofon. Dia berteriak, tertawa, mengibaskan kepala, dan memainkan gitar dengan cara yang mendobrak batas. Semua energi yang kita anggap identik dengan rockabilly laki-laki, sebenarnya datang dari seorang perempuan.

Big Mama Thornton
Wanda Jackson, Ratu Rockabilly

***

Tahun 1960-an membuka era baru rock, dan perempuan mulai hadir dengan wajah berbeda. Nggak lagi sebagai kejutan, tapi sebagai kekuatan. Janis Joplin adalah buktinya. Dengerin rekaman Janis di Monterey Pop Festival, orang-orang yang hadir di sana bilang mereka melihat seseorang yang bukan sekadar penyanyi. Mereka melihat jiwa yang meledak. Janis bernyanyi seperti orang yang sudah berdamai dengan rasa sakitnya, lalu melepaskannya lewat scream yang bikin seluruh dunia kaget. Dia nggak berusaha terlihat cantik atau rapi. Dia hadir sebagai manusia yang utuh, mentah, dan apa adanya.

Di sisi lain, Grace Slick (Starship) menawarkan karakter berbeda. Dia intelektual, politis, dan psikadelik. Lagu “White Rabbit” adalah salah satu contoh paling tajam bagaimana rocker perempuan bisa membungkus kritik sosial dalam metafora dongeng. Slick adalah seorang kreator ide, pemimpin artistik, dan wajah dari gerakan budaya pada masa itu.

Janis Joplin

Sementara itu, perempuan lain juga muncul dengan peran penting yang sering terlupakan: Linda LaFlamme (It’s a Beautiful Day) yang memainkan keyboard progresif, Lydia Pense, vokalis Cold Blood yang membawa blue-eyed soul, Toni Brown dengan aransemen folk-rock-nya, Cynthia Robinson (Sly and Family Stone) yang menjadi pemain terompet perempuan pertama yang berdiri di depan panggung band besar. Mereka membantu membentuk suara rock ’60-an, meski nggak banyak yang mengingat nama mereka.

Paralel, di Indonesia, perempuan juga sedang membuka jalan dengan cara yang benar-benar berbeda. Negara waktu itu masih sibuk dengan ketegangan politik. Musik Barat dilarang. Rambut gondrong dituding anti-budaya. Tapi dari Surabaya, empat perempuan muda muncul dengan keberanian edan. Mereka adalah Dara Puspita.

Dara Puspita bukan band “perempuan-perempuan lucu yang bisa main gitar.” Mereka band rock yang beneran rock. Mereka bikin lagu sendiri, mainin instrumen sendiri, dan tampil dengan energi yang membuat penonton Eropa ternganga. Selama tiga tahun tur panjang (1969–1972), mereka manggung di Jerman, Inggris, Yugoslavia, Belanda, Perancis, Hungaria, dan Spanyol, setelah sebelumnya tampil di TV nasional.

Sementara negara mereka sendiri masih bingung menerima musik Barat, Dara Puspita sudah manggung di depan ribuan orang asing, diteriaki fans, dan menurut kenangan para personelnya, disebut-sebut “The Beatles from Indonesia” karena fasih memainkan lagu-lagu rock n roll. Mereka membuka jalan yang bahkan sampai sekarang belum diulang band perempuan Indonesia mana pun dengan level yang sama.

Dara Puspita
The Runaways

Masuk ke era 1970–1980-an di Barat, rocker perempuan bukan lagi pengecualian. Mereka mulai mengambil posisi strategis sebagai gitaris, penulis lagu, bahkan leader band. Contohnya Fanny, band rock perempuan pertama yang menandatangani kontrak major label dan meledak di industri Amerika. Mereka bukan band gimmick. Mereka memainkan instrumen dengan kemampuan teknikal yang bikin musisi laki-laki melongo.

Dari sana muncul The Runaways yang menaungi Joan Jett, Lita Ford, Cherie Currie. The Runaways sering diremehkan karena usia mereka yang masih remaja, tapi mereka membuka jalan besar. Joan Jett ditolak 23 label sebelum mendirikan Blackheart Records, label independen yang kemudian merilis “I Love Rock ’n Roll”, lagu yang sampai hari ini masih dianggap anthem rock paling universal.

Di Inggris, Siouxsie Sioux meluncurkan estetika goth yang kemudian menjadi kultur tersendiri. Di era noise dan alternatif, Kim Gordon (Sonic Youth) menjadi salah satu perempuan paling berpengaruh di rock modern; bukan hanya sebagai vokalis, tapi sebagai produser, penulis lagu, dan tokoh kultur. Mereka memperluas definisi rock. Rock bukan cuma soal distorsi, tapi juga soal ide.

Dan di Indonesia, ada satu nama yang sering luput ditulis padahal posisinya penting banget: Sylvia Saartje. Dia muncul di masa ketika Indonesia bahkan belum punya ruang jelas untuk penyanyi rock perempuan. Tapi Silvia maju duluan, sendirian, dengan vokal yang keras, gaya panggung yang benar-benar rock, dan keberanian tampil sejajar dengan band-band pria tanpa kompromi. Banyak jurnalis musik kemudian menyebut dia sebagai lady rocker perempuan pertama Indonesia. Ini bukan label marketing, tapi karena dia tampil dalam format rock yang murni, bukan pop-rock manis. Silvia membuka pintu yang nantinya dilewati rocker perempuan yang muncul setelahnya.

Siouxsie Sioux
Sylvia Saartje

***

Tahun 1990-an membawa gelombang perubahan sosial. Perempuan nggak lagi sekadar tampil; mereka memimpin gerakan. Gerakan Riot Grrrl meledak. Band-band seperti Bikini Kill, Bratmobile, Sleater-Kinney menggunakan suara mereka untuk mengkritik seksisme, politik, dan budaya patriarki. Mereka memotong rambut, bikin zine, bikin konser “Girls to the Front”. Rock perempuan berubah menjadi gerakan sosial.

Ada juga Dolores O’Riordan dari The Cranberries yang membawa yodel khas Irlandia ke dalam rock alternatif dan menulis lagu-lagu yang menggabungkan trauma pribadi dan konflik politik, seperti “Zombie” yang meledak di seluruh dunia. Lalu Alanis Morissette datang dengan Jagged Little Pill, album rock alternatif yang bukan hanya laris, tapi juga meredefinisi bagaimana kemarahan perempuan terdengar di musik arus utama. Di Inggris, Shirley Manson (Garbage) menggabungkan rock dengan industrial dan elektronik, menciptakan estetika baru yang gelap, cerdas, dan penuh perlawanan. Di panggung grunge, Courtney Love lewat Hole membawa perspektif perempuan ke dalam suara Seattle yang biasanya maskulin, sementara PJ Harvey dan Fiona Apple mendorong rock ke arah yang lebih teatrikal, gelap, dan emosional. Rock perempuan di era ini adalah perpaduan kemarahan, kejujuran, dan spiritualitas yang secara tiba-tiba menjadi pusat percakapan musik global.

Alanis Morissette

Era 90-an juga menandai momen ketika perempuan mulai memimpin band besar tanpa dianggap “anomali”. MTV berputar dengan wajah-wajah baru: paramagnetik, emosional, dan tanpa kompromi. Konser besar diisi oleh suara perempuan yang tidak lagi harus membuktikan apa pun. Mereka sudah berada di depan panggung, memimpin ribuan penonton. Dan ini semua membentuk gambaran global bahwa rock bukan hanya tentang distorsi dan sikap, tapi tentang perspektif. Saat perempuan-perempuan ini mengisi festival dunia, menulis lagu sendiri, dan memimpin band tanpa label “female-fronted”, dunia mulai sadar bahwa rock punya banyak rupa, dan salah satu yang paling berpengaruh lahir di dekade ini.

Di Indonesia, dekade 1980-1990an juga ditandai kehadiran ikon besar: Nicky Astria, Mel Shandy, Ida Ayu Saraswati, Atiek CB, dan tentu saja Nike Ardilla yang menjadi fenomena pop-rock nggak tertandingi. Bukan sekadar penyanyi perempuan di rock, tapi simbol budaya. Mereka tampil dengan suara melengking, aransemen heavy rock, dan gaya panggung besar. Indonesia punya pola unik, “lady rocker” jadi subgenre yang berdiri sendiri di panggung rock arus utama. Dan ini nggak ada di negara lain.

Nicky Astria
Mel Shandy
Nike Ardilla

Tapi rocker perempuan nggak berhenti di era glam dan power ballad. Masuk era 2000-an, rocker perempuan muncul dengan wajah baru. Hayley Williams dari Paramore membawa pop-punk ke arus utama dan menghapus paradigma bahwa band rock harus dipimpin laki-laki. Paramore sukses secara global tanpa pernah menjual perempuan sebagai gimmick. Hayley adalah vokalis, penulis lagu, dan roh bandnya.

Di era indie modern, nama seperti St. Vincent, Phoebe Bridgers, Mitski, dan Boygenius membawa rock ke wilayah intim, eksperimental, dan emosional. Sementara The Last Dinner Party mencuri perhatian dunia pada 2023–2024 dengan rock teatrikal yang memadukan opera dan glam, sambil memicu diskusi “industry plant” yang anehnya lebih sering diarahkan kepada musisi perempuan.

Indonesia juga memasuki era baru. Kikan (Cokelat) dan Tantri (Kotak) memimpin band-band rock besar dan memberi representasi penting di era 2000-an. Danilla Riyadi membawa rock ke arah folk-alternatif yang personal dan gelap. Dan transformasi terbesar datang dari Isyana Sarasvati, yang berani meninggalkan zona pop nyaman untuk masuk ke dunia progressive metal, dengan teknik vokal opera, orkestra megah, dan gitar berdistorsi tebal. Dia menunjukkan bahwa genre bukan pagar, tapi pintu.

Lalu muncullah fenomena yang jadi penutup lingkaran panjang sejarah ini: Voice of Baceprot (VoB). Tiga perempuan muda berhijab dari Garut yang awalnya di-bully karena main metal, dilempari batu, bahkan dianggap melanggar norma. Tapi mereka tetap main. Mereka tur Eropa, tampil di Amerika, dan mencapai panggung yang nggak pernah dicapai band metal Indonesia sebelumnya: Glastonbury 2024.

VoB membuktikan hal yang sudah dimulai Sister Rosetta Tharpe hampir 90 tahun lalu: rock nggak punya satu wajah. Rock adalah suara siapa saja yang berani bersuara, bahkan ketika dunia bilang itu bukan tempatnya.

St. Vincent
Hayley Williams, vokalis Paramore
Boy Genius

***

Tapi perjalanan rocker perempuan bukan hanya soal panggung dan pencapaian. Ada data yang menunjukkan kenyataan pahit: perempuan masih mengalami diskriminasi gender di industri musik. Survei IFPI dan studi-studi lain mencatat lebih dari 50% musisi perempuan pernah menerima perlakuan nggak adil. Baik soal pendapatan, kesempatan manggung, hingga komentar seksis yang nggak pernah ditujukan kepada musisi laki-laki. Namun justru di tengah hambatan itu, perempuan membentuk genre, memimpin gerakan, dan terus berkembang.

Kalau kita rangkum perjalanan panjang ini, garis besarnya jelas. Rocker perempuan bukan sejarah kecil. Itu sejarah utama yang hanya ditaruh di pinggir. Dari Tharpe yang menciptakan distorsi, Joplin yang membuka ruang ekspresi mentah, Joan Jett yang membangun label sendiri, Nicky Astria yang menguasai panggung Indonesia, sampai VoB yang meruntuhkan stereotip global.

Sekarang, era baru dimulai. Rocker perempuan sudah nggak lagi memperjuangkan “hak untuk ada.” Mereka sudah ada. Mereka memimpin. Mereka mewarnai arah rock modern, baik global maupun Indonesia. Mereka bukan alternatif. Mereka arus utama.

Kalau hari ini kita lihat perempuan memegang gitar di panggung rock, jangan kaget. Mereka datang membawa sejarah panjang, nama-nama besar, dan keberanian yang dibangun dari generasi sebelumnya. Rock bukan lagi dunia laki-laki. Rock nggak pernah punya jenis kelamin. Rock, sejak awal, adalah tentang nyali. Dan perempuan dari dulu punya itu, lebih dulu dari siapa pun.

Dan mungkin, inilah waktunya kita menulis ulang sejarah rock dengan lebih jujur. Karena kalau ditulis lengkap, halaman pertamanya seharusnya dimulai dengan nama seorang perempuan yang memetik gitar listrik di Arkansas tahun 1938.

Women Rock bukan subgenre.
Rocker perempuan adalah fondasi.
Dan dari perempuan semuanya berkembang.

Voice of Baceprot

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *