SEGALANYA ITU KAMU: David Bayu dan Sebuah Album yang Menjebak Kita dalam Kenangan

Mendengarkan Segalanya Itu Kamu dari David Bayu rasanya seperti ikut duduk di bangku belakang mobil keluarga, di antara ayah yang nyetir sambil bersiul dan ibu yang sesekali mengganti kaset di tape mobil tahun ‘90-an. Dari awal sampai akhir, album ini mengalun seperti kompilasi lawas yang penuh nostalgia: lembut, romantis, tapi juga terlalu rapi untuk benar-benar mengejutkan.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

David Bayu tahu  cara menulis lagu yang manis dan berjiwa lama. Ada aroma The Carpenters yang terdengar di kebanyakan lagu. Lembut, harmonis, dan terbungkus aransemen yang terasa “bersih.” Empat lagu seperti Segalanya Itu Kamu, Bila Tak Ada Lagi Cinta, Kuatkan Aku, dan Teman Terindah adalah balada pop yang mudah disukai: melodinya mengalir, liriknya sederhana tapi hangat, dan produksi suaranya terasa seperti kaset cinta di era 70-an. Sayang, karena semuanya berjalan di frekuensi yang sama, efeknya malah seperti minum empat gelas teh manis berturut-turut. Nikmat, tapi mulai bikin ngantuk.

Untungnya, David masih punya sisi eksperimental yang muncul di beberapa titik. Now or Never jadi salah satu highlight: bernuansa 50-an dengan sedikit gaya vokal yang lebih hidup (meski vokal David nggak benar-benar pas untuk lagunya). Nomor ini seperti jeda udara segar di tengah barisan balada yang seragam. Lalu ada Luka, lagu bergaya gospel yang mengingatkan pada Boyz II Men, mengedepankan harmoni vokal, tapi tetap sederhana. Lagu ini menunjukkan bahwa David masih bisa keluar dari zona nyaman tanpa kehilangan identitasnya.

Cincin (Janji Hati) juga menarik. Sekilas mengingatkan pada All I Am milik Heatwave, lembut dan manis di telinga. Sedangkan Tembok terasa paling personal: ada aroma Naif yang kental di sini, mungkin karena DNA musikalnya memang tumbuh dari tangan yang sama. Lagu ini seperti versi “lebih David” dari karya-karya lamanya di Naif, di mana nostalgia bukan sekadar gaya, tapi bagian dari jati diri.

Overall, Segalanya Itu Kamu terdengar seperti surat cinta yang dikirim David kepada masa lalu. Sang vokalis nggak mencoba relevan. Dia nggak mengejar tren. Dia lebih memilih menjadi dirinya sendiri, seorang pencinta melodi klasik yang tumbuh di era radio. Namun, pilihan itu datang dengan konsekuensi: album ini bisa terasa terlalu aman, terlalu manis, dan kurang ledakan.

Nilai dari saya 7,5 / 10.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *