“RUBY” : Kilau Berlian atau Sekadar Glitter?

Jennie Kim kembali! Dan kali ini, dia bukan sekadar “Jennie dari BLACKPINK”. Jennie sang solois akhirnya merilis album penuh setelah bertahun-tahun hanya memberi teaser lewat singel.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Ruby“, judul yang tajam, menggoda, dan, tentu saja, seharga permata. Tapi apakah album ini benar-benar sekokoh batu mulia, atau justru lebih mirip imitasi kilau sintetis yang luntur di bawah sorotan lampu konser?

Dari segi produksi, “Ruby” adalah ambisi Jennie dalam bentuk suara. Dia nggak sekadar menyajikan pop banger yang bisa ditiru-tiru idol lainnya. Ini adalah album yang mencoba melintasi batas genre, dari hip-hop dengan beat baile funk, R&B yang disulap jadi sensual, sampai phonk yang serasa mengajakmu balapan di jalanan Seoul tengah malam.

Lagu-lagu seperti “Scarlet Fever” dan “Crimson Ride” membuktikan Jennie mampu menghajar ekspektasi standar K-pop dan menciptakan sesuatu yang lebih berani. Kolaborasinya juga terasa seperti pesta bintang di langit malam Los Angeles.

Childish Gambino masuk dengan verse yang penuh teka-teki di “Opulence“, Kali Uchis membawa nuansa dreamy di “Velvet Roses“, dan Doechii menyalakan api dengan flow agresif di “Burn“. Sementara, Jennie menyesuaikan diri dengan setiap kolaborator tanpa kehilangan karakter vokalnya sendiri, sesuatu yang nggak semua idol bisa lakukan.

Tapi ada satu hal yang nggak bisa dimanipulasi oleh produksi brilian ini: emosi. Dan di sinilah “Ruby” terasa kurang menggigit. Liriknya sering terasa seperti slogan Instagram yang terlalu dipoles, lebih banyak bicara tentang gaya hidup jet set, kekuatan diri, dan kebebasan, tanpa benar-benar menyelam ke dalam jiwa Jennie.

Di lagu seperti “Blood Moon“, dia mencoba bernyanyi tentang kehilangan dan pengkhianatan, tapi liriknya terdengar seperti hasil kerja tim penulis lagu yang menghindari terlalu banyak luka pribadi. “Queen of Hearts” seharusnya jadi anthem empowerment, tapi malah terasa seperti pidato motivasi yang kehilangan substansi.

Masalah lainnya? Beberapa lagu terlalu ingin terdengar “mahal” sampai lupa memberi ruang untuk kedekatan emosional. Jennie punya suara unik, lazily seductive tapi bisa meledak jika perlu. Namun, di beberapa trek, dia terasa terlalu dikendalikan oleh produksi yang lebih mengutamakan mood ketimbang memberi ruang bagi suaranya untuk benar-benar bernyanyi dengan bebas.

Ruby” adalah album yang brilian dalam konsep, cemerlang dalam eksekusi produksi. Sayang, masih kurang dalam kedalaman emosional. Jennie menunjukkan bahwa dia bukan hanya idol yang bernyanyi di atas panggung besar. Dia adalah bintang pop dengan daya tarik global, tapi dia masih harus mencari cara untuk membuat albumnya terasa lebih “Jennie” dan bukan hanya “album yang Jennie nyanyikan”.

Ini bukan album yang buruk. Ini adalah loncatan besar ke arah yang benar—sebuah permulaan yang gemilang, meski masih menyisakan ruang untuk sesuatu yang lebih dahsyat di masa depan.

“Ruby”—judul yang tajam, menggoda, dan, tentu saja, seharga permata. Tapi apakah album ini benar-benar sekokoh batu mulia, atau justru lebih mirip imitasi kilau sintetis yang luntur di bawah sorotan lampu konser?

Dari segi produksi, “Ruby” adalah ambisi Jennie dalam bentuk suara. Dia tidak sekadar menyajikan pop banger yang bisa ditiru-tiru idol lainnya. Ini adalah album yang mencoba melintasi batas genre, dari hip-hop dengan beat baile funk, R&B yang disulap jadi sensual, sampai phonk yang serasa mengajakmu balapan di jalanan Seoul tengah malam.

Lagu-lagu seperti “Scarlet Fever” dan “Crimson Ride” membuktikan Jennie mampu menghajar ekspektasi standar K-pop dan menciptakan sesuatu yang lebih berani. Kolaborasinya juga terasa seperti pesta bintang di langit malam Los Angeles.

Childish Gambino masuk dengan verse yang penuh teka-teki di “Opulence”, Kali Uchis membawa nuansa dreamy di “Velvet Roses”, dan Doechii menyalakan api dengan flow agresif di “Burn”. Sementara, Jennie menyesuaikan diri dengan setiap kolaborator tanpa kehilangan karakter vokalnya sendiri—sesuatu yang tidak semua idol bisa lakukan.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa dimanipulasi oleh produksi brilian ini: emosi. Dan di sinilah “Ruby” terasa kurang menggigit. Liriknya sering terasa seperti slogan Instagram yang terlalu dipoles, lebih banyak bicara tentang gaya hidup jet set, kekuatan diri, dan kebebasan, tanpa benar-benar menyelam ke dalam jiwa Jennie.

Di lagu seperti “Blood Moon”, dia mencoba bernyanyi tentang kehilangan dan pengkhianatan, tapi liriknya terdengar seperti hasil kerja tim penulis lagu yang menghindari terlalu banyak luka pribadi. “Queen of Hearts” seharusnya jadi anthem empowerment, tapi malah terasa seperti pidato motivasi yang kehilangan substansi.

Masalah lainnya? Beberapa lagu terlalu ingin terdengar “mahal” sampai lupa memberi ruang untuk kedekatan emosional. Jennie punya suara unik—lazily seductive tapi bisa meledak jika perlu. Namun, di beberapa trek, dia terasa terlalu dikendalikan oleh produksi yang lebih mengutamakan mood ketimbang memberi ruang bagi suaranya untuk benar-benar bernyanyi dengan bebas.

“Ruby” adalah album yang brilian dalam konsep, cemerlang dalam eksekusi produksi. Sayang, masih kurang dalam kedalaman emosional. Jennie menunjukkan bahwa dia bukan hanya idol yang bernyanyi di atas panggung besar—dia adalah bintang pop dengan daya tarik global, tapi dia masih harus mencari cara untuk membuat albumnya terasa lebih “Jennie” dan bukan hanya “album yang Jennie nyanyikan”.

Ini bukan album yang buruk. Ini adalah loncatan besar ke arah yang benar—sebuah permulaan yang gemilang, meski masih menyisakan ruang untuk sesuatu yang lebih dahsyat di masa depan.

Nilai 7,8/10 dari saya untuk album ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *