RIKUOH: Ketika Sepatu Jadi Simbol Perlawanan

Saat perubahan jaman datang dan modernisasi adalah keniscayaan, perjuangan satu perusahaan ini bisa jadi panutan.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Ada serial yang datang seperti petir , membakar layar, memantik sensasi, lalu menghilang tanpa jejak. Rikuoh bukan tipe itu. Serial ini memulai pelan-pelan, layaknya pagi yang belum habis diselimuti kabut. Namun, saat kita benar-benar memperhatikan, serial ini menampar diam-diam. Bukan karena dramanya spektakuler, tapi karena ceritanya jujur. Sangat jujur.

Koichi Miyazawa bukan model karakter yang biasanya jadi pusat cerita. Bukan CEO flamboyan, bukan pula pahlawan tampan. Tapi seorang bapak-bapak pemilik pabrik kecil di kota sunyi, pewaris usaha turun-temurun pembuat tabi — kaus kaki tradisional Jepang — yang sudah mulai ditinggal zaman. Tapi daripada duduk pasrah menunggu bangkrut, ia memutuskan melawan. Melawan arus, logika, dan statistik. Ia ingin bikin sepatu lari. Dari tabi. Di tengah dominasi merek-merek raksasa dan dunia yang bergerak terlalu cepat, pilihan itu nyaris terdengar konyol. Tapi justru di situ keindahannya.

Rikuou bukan tentang teknologi. Bukan tentang kompetisi industri. Ini soal keyakinan. Tentang mempertahankan sesuatu yang lama, lalu menjadikannya baru. Tentang tangan-tangan pekerja yang tak dikenal, tapi setiap jahitannya adalah puisi kecil tentang harapan. Tentang ayah yang mencoba menyelamatkan sesuatu — mungkin bisnisnya, mungkin keluarganya, mungkin dirinya sendiri — tanpa harus teriak-teriak di layar.

Yakusho Koji bermain dengan intensitas sunyi. Ia tidak banyak bicara, tapi tatapan dan tubuhnya bercerita lebih dari cukup. Yamazaki Kento sebagai anak yang tadinya skeptis tapi kemudian tergerak, juga memberi energi muda yang hangat tanpa berlebihan. Di antara keduanya, tercipta dinamika yang tidak meledak-ledak, tapi justru terasa nyata. Seperti hubungan orangtua dan anak yang tidak selalu akur, tapi diam-diam saling dukung.

Yang membuat Rikuou begitu kuat adalah bagaimana ia merayakan kegigihan dalam bentuk yang sederhana. Tidak ada adegan heroik besar. Tidak ada twist besar. Tapi setiap keputusan, setiap kegagalan, dan setiap langkah menuju sepatu impian terasa seperti perjuangan sekelas perang. Karena memang begitu rasanya ketika yang dipertaruhkan bukan sekadar uang atau produk, tapi martabat.

Dan sepatu itu — sepatu yang terinspirasi dari tabi, dengan bentuk jari kaki terpisah seperti warisan nenek moyang — bukan sekadar properti. Ia menjadi simbol. Tentang warisan yang tidak harus dikunci dalam museum. Tentang inovasi yang bisa tetap setia pada akar. Tentang bagaimana kemajuan tidak harus menginjak masa lalu.

Rikuou adalah drama yang lambat, tapi tidak pernah membosankan. Ia tidak berisik, tapi menghantam. Ia mungkin tidak cocok untuk yang cari aksi cepat atau emosi berlebihan. Tapi bagi yang tahu nikmatnya menonton sesuatu yang tumbuh perlahan, yang tidak menjual ilusi, Rikuou adalah pengalaman yang menyentuh.

Nilai: 9 dari 10.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *