Pulp – More: Album Comeback Setelah 24 Tahun yang Penuh Arti dan Emosi

Setelah 24 tahun, Pulp kembali dengan More, album reflektif dan hangat yang menandai era baru Jarvis Cocker dan kawan-kawan. Bukan nostalgia kosong, tapi perayaan kedewasaan, kehilangan, dan keindahan menjadi diri sendiri.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Dua puluh empat tahun bukan waktu yang singkat. Untuk sebuah band, itu adalah waktu yang amat lama. Bahkan, banyak band legendaris yang usianya tidak sampai selama itu.

Tapi Pulp bukan band biasa. Mereka adalah bagian dari urat nadi Britpop, pengamat sosial yang menulis lagu dengan kejujuran tajam dan ironi lembut, lalu menyajikannya dalam kemasan pop yang menggoda dan cerdas. Ketika More diumumkan sebagai album baru mereka setelah hampir seperempat abad absen bikin album, rasa penasaran dan keraguan pun bercampur aduk. Apakah ini sekadar upaya reuni penuh nostalgia? Atau justru babak baru yang masih relevan, bahkan segar?

Dan semua itu langsung terjawab saat lagu pertama dimainkan. More bukanlah album pengulangan. Bukan pula sekadar sapaan hangat dari masa lalu. Ini adalah karya baru yang terasa matang, penuh refleksi, dan tetap menyimpan api yang dulu membuat Pulp begitu menonjol.

Jarvis Cocker memang nggak lagi menyuarakan kegelisahan anak muda pinggiran Sheffield. Ia kini berbicara sebagai pria dewasa yang memandang hidup dengan lebih tenang, namun nggak kalah tajam.

Setiap lagu di album ini terasa seperti catatan harian dari seorang pengamat sosial muda yang telah dewasa. Tutur katanya lebih kalem, tapi nggak kehilangan daya lihat.

Grown Ups” berbicara tentang apa yang terjadi ketika para remaja pemberontak akhirnya menjadi orang tua, dengan perasaan campur aduk antara kebanggaan dan kekosongan. “Spike Island” menyindir romantisme masa lalu dengan cerdas, seakan menampar lembut siapa pun yang terlalu larut dalam nostalgia. Di sisi lain, lagu seperti “My Sex” atau “Tina” menyentuh sisi intim manusia yang rentan dan lembut, tanpa pernah terdengar murahan atau klise.

Musiknya terasa hangat namun tetap eksperimental. Tidak ada ledakan seperti “Common People” atau gelombang synth kasar ala This Is Hardcore, tapi ada banyak lapisan dan detail kecil yang mencuri perhatian.

James Ford, sang produser, memberi nuansa yang organik, hampir seperti sesi jam santai yang berujung jadi mahakarya. Ada string section yang menghantui, denting piano yang manis, dan detil gitar yang menyelinap perlahan. Semuanya terasa pas dan penuh perasaan.

Pulp di More layaknya sekelompok teman lama yang bertemu kembali. Bukan untuk membakar panggung, tapi untuk menceritakan hidup mereka yang sekarang sambil menyesap wine berkualitas.

Yang paling menyentuh tentu saja adalah dedikasi album ini untuk Steve Mackey, bassist mereka yang wafat pada 2023. Tidak ada lagu eksplisit tentang kepergiannya, tapi seluruh album terasa seperti cara mereka merayakan hidup dan kehilangan, dengan nada yang tenang tapi menusuk. More adalah bentuk berkabung yang dewasa: tidak meledak-ledak, hanya menyentuh dengan cara yang sangat manusiawi.

Lewat More, Pulp tidak berusaha menjadi muda kembali. Mereka tidak mengejar relevansi dengan cara memaksa. Mereka hanya menjadi diri mereka sendiri, dan hasilnya adalah album yang terasa hidup, penuh kedalaman, dan tetap sangat Pulp.

Memang sih, ini bukan Different Class atau His ‘n’ Hers. Tapi, More layak berdiri sejajar, sebagai sebuah testimoni bahwa tumbuh tua pun bisa tetap penuh daya cipta.

Skor 8/10! Sebuah comeback yang bukan hanya layak, tapi juga menyentuh dan cerdas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *