Petra Sihombing – senang ok, sedih gpp. (2025): Musik Hangat yang Rasanya Seperti Pulang
Setelah beberapa tahun tanpa rilisan penuh, Petra Sihombing kembali lewat album senang ok, sedih gpp. (2025) — karya yang terasa lebih seperti pelukan daripada pernyataan. Album ini bukan tentang mengejar tren, tapi tentang menerima ritme hidup yang lebih tenang dan penuh makna.
Oleh: DJOKO ADNAN
Ada jenis album yang tidak datang untuk mengubah dunia, tapi sekadar menenangkan hati pendengarnya. Album baru Petra Sihombing, senang ok, sedih gpp., terasa seperti itu — comfort food dalam bentuk lagu. Hangat, jujur, dan menenangkan tanpa perlu banyak bumbu.
Album ini dibuka dengan “80 km/h”, lagu yang lahir bukan dari rencana matang, tapi spontanitas. Liriknya muncul begitu saja, dan dari situ Petra menemukan kesimpulan sederhana: tidak semua hal harus bisa. Tidak semua keinginan harus terjadi. Kadang cukup berjalan di kecepatan sedang — cukup cepat untuk melaju, tapi cukup pelan untuk berpikir.
Filosofi itu meresap di seluruh lagu dalam album ini. Judul senang ok, sedih gpp. sendiri terinspirasi dari lirik Nosstress, “Jika senang jangan terlalu, jika sedih jangan terlalu.” Sebuah pengingat sederhana untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Di tengah dunia yang serba cepat dan algoritma-driven, Petra justru memilih untuk melambat. Seperti beberapa lagu yang jadi favorit saya seperti “Tangguh”, “Bagasi” dan “Hantu Di Lemari”, semua lirik diracik penuh makna tapi tidak berlebihan dalam menata kata.
Album ini juga tercipta dalam kesendirian. Tanpa kolaborator besar, Petra menulis hampir seluruh lagu di Bali, bahkan sambil menjalani intermittent fasting. Ia menyebut prosesnya sebagai bentuk refleksi — sekaligus cara untuk kembali mendengarkan diri sendiri.
Menariknya, album senang ok, sedih gpp. juga hadir dalam format fisik: CD, kaset, dan vinyl. Keputusan itu berawal dari anaknya yang berusia enam tahun dan suka mengoleksi musik fisik, dari John Mayer hingga Bon Iver. Ada sesuatu yang manis saat Petra berkata bahwa ia membuat album ini supaya anaknya tahu, “Bapaknya penyanyi, bukan cuma Om-om yang nongkrong di studio.”

Petra kini lebih santai, lebih menerima ritme hidup yang tidak perlu selalu cepat. Ia bahkan membatasi waktu media sosial dan jam kerja, memilih istirahat yang “intentional.” Dari semua ini, terasa bahwa senang ok, sedih gpp. bukan hanya kumpulan lagu, tapi juga dokumentasi perjalanan seseorang menemukan ketenangan di tengah dunia yang bising.
Saat lagu terakhir “Sia -Sia” selesai, ada rasa lega. Seperti baru selesai menangis, tapi juga bisa tersenyum.
Album senang ok, sedih gpp. bukan tentang mengejar “viral moment” atau produksi besar-besaran. Ini adalah album yang tahu kapan harus berhenti, kapan harus berjalan, dan kapan harus menerima. Dan di tengah industri yang sibuk berlari, musik seperti ini terasa seperti tempat pulang.
Kalau hanya ada satu rasa yang ingin Petra tinggalkan lewat album ini, jawabannya jelas: lega. Saat lagu terakhir selesai, ada perasaan tenang karena kita diingatkan bahwa menerima keadaan adalah bentuk kekuatan.
Seperti comfort food, senang ok, sedih gpp. bukan tentang kejutan rasa, melainkan tentang konsistensi yang bikin hati aman. Album ini seperti semangkuk sop hangat di hari hujan: sederhana, tapi selalu membuat kita ingin pulang lagi.


