ONE MORE TIME: Pertemuan Dua Generasi yang Sama-Sama Nggak Mau Pulang
Ada kolaborasi yang terasa seperti dua dunia tabrakan. Berisik, spontan, tapi justru asik. One More Time, EP terbaru dari Aerosmith dan Yungblud, adalah salah satunya.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
“My Only Angel”, lagu pembuka, langsung nunjukin kenapa proyek ini masuk akal. Suara Tyler dan Yungblud ketemu di ruang yang nggak terlalu vintage dan nggak juga terlalu modern. Semacam tengah-tengah yang punya denyut rock besar. Chorus-nya besar, meluncur mulus, dan bikin kita lupa kalau umur kedua musisi ini beda hampir empat dekade. Tyler masih bernyanyi kayak orang yang belum kepikirian pensionsementara Yungblud masuk dengan bensin oktan tinggi.
“Problems”, “Wild Woman”, dan “A Thousand Days” punya energi, tapi kadang kedengeran terlalu rapi. Agak bersih untuk ukuran Aerosmith, dan terlalu terkendali untuk ukuran Yungblud. Ada beberapa momen yang bikin kita ngerasa Joe Perry kayak lagi nahan diri buat nggak ngeremuk ampli. Rock-nya masih ada, tapi nggak ada keringatnya. Mungkin ini konsekuensi produksi modern, plus sedikit jebakan kolaborasi dua generasi: pengen raw, tapi takut kekerasan.
Lalu ada remix baru “Back in the Saddle.” Versi ini memperlihatkan keberanian mereka buat bawa klasik ke ruang baru, meski hasilnya lebih kayak eksperimen museum dibanding karya yang benar-benar hidup. Namun di sini, setidaknya, Aerosmith nunjukin kalau mereka nggak takut disentuh waktu.
More Time terasa seperti undangan untuk merayakan dua generasi yang sama-sama punya hasrat berisik. Yungblud datang dengan energi baru, Aerosmith datang dengan sejarah Panjang. Dan entah bagaimana, keduanya ketemu di titik emosional yang sama
Nilai: 7/10.


