OASIS LIVE ’25 , Reuni yang Nggak Pernah Harus Terjadi, tapi Terjadi Juga

Nggak semua perdamaian membutuhkan pelukan. Kadang perdamaian hanya perlu panggung yang cukup besar untuk dua ego besar. Itulah yang Oasis Live ’25 lakukan. Ini adalah pengembalian sesuatu yang sempat hilang. Bukan kepada Oasis, tapi kepada penonton.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Kamu pasti pernah punya satu malam yang sampai sekarang masih muncul dalam kepala seperti cuplikan film yang diputar ulang tanpa diminta. Buat saya, salah satu cuplikan itu adalah sebuah Singapore Indoor Stadium, 5 April 2009.

Suara crowd besar tapi nggak bising, suara tiket disobek di pintu masuk, bau jaket denim lembap yang kena angin AC stadiom, dan gemuruh intro Oasis yang nggak pernah gagal bikin dada kamu naik-turun kayak lagi nahan napas.

Malam itu, sebagai jurnalis, saya berdiri di depan panggung. Mengambil foto konser di tiga lalu pertama. Memperhatikan bagaimana peluh setiap personil bercucuran melalui lensa kamera. Melihat bagaimana Liam begitu berkharisma di belakang microphone, bernyanyi dengan gaya khasnya tanpa senyuman. Sementara, Noel sang abang, memainkan gitarnya dengan gaya khasnya yang nggak terlihat spesial. Toh, tetap bisa membuat seisi stadion sibuk mengarahkan ponsel mereka untuk mengambil gambar.

OASIS Singapura, 2009
OASIS Singapura, 2009

Setelah menyimpan kamera, saya berdiri di tengah ribuan orang. Semuanya percaya bahwa malam itu adalah malam biasa. Malam yang saya kira bakal jadi salah satu dari banyak konser rock yang ditonton sebelum kita lanjut makan, lanjut kerja, lanjut hidup. Nggak ada satu pun tanda bahwa empat bulan setelah itu, band ini akan pecah dengan cara paling “Oasis” yang bisa dibayangin: emosi, ego, gitar dilempar, dan satu keputusan impulsif yang menghantam dunia pop culture seperti meteor kecil.

Jarak antara konser malam itu dan hari bubarnya band ini  -22 Agustus 2009- terasa seperti jarak antara dua helaan napas. Cepat, mendadak, nggak ada kesempatan buat ngomong “tunggu dulu.” Oasis hilang tanpa menutup pintu, tanpa salam, tanpa tur perpisahan. Kita cuma dapat berita, dan dunia langsung berubah. Semua orang hidup dengan ruang kosong itu.

Dan anehnya, meski 15 tahun sudah lewat, ada bagian dari waktu itu yang nggak pernah sembuh. Orang-orang bilang waktu bisa menyembuhkan. Tapi ternyata ada beberapa waktu yang justru membekukan rasa.

Sampai akhirnya, 2025 datang. Dan tiba-tiba dunia terbelah dua: sebelum dan sesudah pengumuman Oasis Live ’25.

Saya ingat hari itu. Timeline tiba-tiba hening selama tiga detik sebelum meledak. Kayak listrik yang mati tapi langsung menyala dengan voltase yang lebih tinggi dari seharusnya. Semua orang sibuk diskusi soal ini. Semua orang mengulang-ulang kata yang sama: “Seriusan?”

The Guardian menyebutnya “the biggest surprise in modern British music culture,” bukan karena nggak ada tanda-tanda, tapi karena nggak ada yang percaya Liam dan Noel bisa muncul dalam pengumuman yang sama tanpa ada bencana kecil. Rolling Stone bahkan memulai artikelnya dengan kalimat, “We never thought we’d write these words,” menunjukkan bahwa reuni ini sudah masuk kategori dongeng urban sebelum akhirnya menjadi realitas.

Nggak ada reuni band mana pun yang punya efek seperti ini. Bukan The Smiths, bukan Led Zeppelin, bukan A-ha, bukan ABBA. Nggak ada. Oasis punya sesuatu yang band lain nggak punya. Mereka nggak pernah benar-benar selesai di kepala orang.

***

Begitu jadwal tur dirilis, dunia pop seperti kehilangan gravitasi. Tiket langsung habis. 41 kota sold out. Sistem penjualan tiket beberapa negara bahkan down. Laporan The Independent menyebut penjualan Oasis lebih cepat dari permintaan awal Eras Tour-nya Taylor Swift. Dan tiba-tiba, konser Oasis menjelma jadi ritual, semacam pertemuan global antara masa lalu dan masa kini.

Lucunya, semua orang sebenarnya sudah siap kecewa. Karena ekspektasi dunia terhadap reuni ini sudah dilatih oleh puluhan tahun rumor palsu. Setiap komentar Liam, setiap sinisme Noel, setiap artikel spekulatif dari NME atau Metro UK, semuanya menambah mitologi tentang band yang tidak mau berdamai dengan dirinya sendiri.

Enam belas tahun menunggu sesuatu membuat pikiran kamu mulai membangun monster yang nggak realistis. Semua orang membayangkan versi reuni yang ideal. Suara Liam bagus, Noel bahagia, konser megah, nostalgia sempurna, dan album lama yang direstorasi. Di sisi lain, sisi realistis di dalam kepala kita mencoba meyakinkan bahwa reuni itu jelas “nggak mungkin.”

Semua orang sudah siap dengan versi terburuk: Liam tampil dengan suara berantakan, Noel bete sepanjang konser, mereka nggak bicara sama sekali, panggung seadanya, sound kacau, vibe tawar, dan fans pulang dengan setengah patah hati.

Tapi, yang terjadi justru kebalikannya. Reuni ini tampil seperti orang yang muncul di pesta ulang tahun tanpa diundang. Namun, dia malah jadi bintangnya!

Liam Gallagher versi 2025 adalah kejutan paling besar dalam sejarah reunian. Kamu tahu dong, bagaimana suara Liam beberapa tahun belakangan? Kadang bagus, kadang serak, kadang cuma attitude yang menang.

Liam, berikan penampilan terbaik di konser tur reuni Oasis 2025

Tapi entah dari mana, atau tepatnya, entah dari keputusan hidup macam apa, Liam muncul dengan suara yang jauh lebih stabil, lebih bersih, seperti dilahirkan ulang. Belakangan baru ketahuan, ternyata dia berhenti merokok dan berhenti minum. Untuk seorang rocker Inggris yang hidupnya dibesarkan oleh alkohol dan Marlboro Light, itu nggak main-main. Wajar kalau efeknya langsung kena ke panggung.

Saat menyanyikan Supersonic sampai Live Forever, suaranya bulat. Vibratonya muncul lagi. Pitching-nya stabil. Bahkan staminanya terasa kayak dikirim dari masa ’96, masa ketika dia bisa berdiri diam dengan tangan di belakang punggung dan terdengar seperti seseorang yang bisa mengguncang dunia tanpa harus bergerak sejengkal pun. BBC Culture bahkan menulis bahwa konser 2025 ini memperlihatkan “the cleanest Gallagher vocal in decades,” komentar yang terasa gila mengingat rekam jejaknya. Liam 2025 bukan Liam yang sama seperti 2009 di Singapura itu. Dia lebih sehat, lebih dewasa, tapi tetap aja nggak sopan, gaya khasnya yang jadi jantung Oasis.

Noel, di sisi lain, terlihat seperti seseorang yang akhirnya mencapai titik “udahlah, males juga ribut-ribut”. Dari dulu dia punya reputasi sebagai penulis lagu paling tajam generasinya. Tapi kadang orang lupa, Noel juga gitaris yang brilian. Di 2025, itu baru benar-benar terdengar. Rolling Stone bahkan menggambarkan permainan gitarnya sebagai “surgically precise,” istilah yang jarang diberikan untuk gitaris rock Britpop. Sound-nya lebih sinematik, tone-nya lebih dalam, dan lick-nya lebih matang.

Ada sesuatu yang berubah dalam bahasa tubuhnya. Forbes menyebut Noel 2025 sebagai “the most relaxed version of himself on stage,” dan kelihatannya memang iya. Noel lebih tenang dan nggak lagi tegang. Nggak defensif dan nggak merasa harus memimpin. Dia berdiri sebagai Noel Gallagher versi dewasa. Noel yang sudah berdamai dengan masa lalu.

Permainan gitar Noel di konser reuni luar biasa.

Yang bikin reuni ini makin absurd adalah kenyataan bahwa konsernya terdengar lebih baik dari 70% konser band muda yang sedang naik daun. Oasis tampil bukan sebagai band nostalgia, tapi sebagai band besar yang kebetulan saja nggak merilis album baru.

Visual panggungnya modern, tata lampunya megah, video LED-nya estetis tanpa terasa cheesy, dan sound engineering-nya seperti gabungan antara konser Coldplay dan energi The Stone Roses. Oasis 2025 adalah versi stadion yang sesungguhnya. Bukan versi stadion seadanya seperti era 2000-an. BBC Live Reviews menyebut produksi tur ini “unexpectedly cinematic,” dan itu benar

Dan kemudian datang bagian yang bikin kepala kamu meledak: pendapatannya. Data dari Bloomberg, Forbes, dan ONS UK menyebutkan kalua tur ini hampir menyentuh pendapatan 450 juta dolar, dengan profit bersih sekitar 165–173 juta dolar per Gallagher. Satu tur. Satu rangkaian konser. Satu reuni yang bahkan mereka sendiri sempat bilang “not happening.” Nggak ada band rock Inggris modern yang punya angka setingkat ini. Bahkan Coldplay perlu beberapa tahun untuk menyentuh level serupa.

Tapi fenomenanya bukan sekadar uang yang masuk ke kantong Liam dan Noel. Yang lebih gila adalah dampaknya pada Inggris. Guardian dan BBC mencatat bahwa fan spending mencapai £1,06 miliar. Itu berarti konser Oasis menghasilkan dampak ekonomi yang lebih besar dari Eras Tour Taylor Swift di Inggris. Hotel penuh berminggu-minggu. Pub-pub di Manchester, London, Glasgow, Birmingham, Newcastle semuanya panen. Kereta ludes. Maskapai kehabisan seat. Oasis membuat satu negara bergerak. Dan bukan sembarang negara. Ini Inggris, tempat musik adalah identitas nasional sama berharganya dengan sepak bola dan teh.

Balik ke panggung. Setlist-nya sukses memukul nostalgia fans tanpa membuatnya jadi museum. Mereka tahu apa yang harus dimainkan, tahu apa yang publik mau, dan yang paling penting, tahu apa yang harus diabaikan. Nggak ada lagu solo Noel. Nggak ada lagu solo Liam. Mereka nggak memaksa materi baru, nggak memamerkan ego, nggak memperumit. Setiap konser terasa seperti playlist impian yang akhirnya jadi kenyataan.

Dari Rock ’n’ Roll Star sampai Champagne Supernova, semuanya dibawakan dengan presisi dan perasaan. Lagu-lagu itu nggak terdengar seperti jam dinding yang diputar ulang. Mereka terdengar seperti dunia yang akhirnya menemukan suara aslinya kembali setelah dua puluh tahun kekosongan. Penonton menangis, tertawa, berteriak, dan mengulang kembali versi mereka sendiri dari masa 90-an. Di konser, kita nggak hanya melihat Oasis. Kita melihat diri kita sendiri saat masih muda.

Panggungnya luar biasa.

Yang paling menyentuh dari semuanya adalah cara publik menerima reuni ini. Fans yang datang bukan hanya orang-orang yang dulu membeli Morning Glory di Music Plus. Bukan hanya generasi MTV. Bukan hanya orang-orang yang pernah bernyanyi Stop Crying Your Heart Out di karaoke murahan. Ada Gen Z yang belajar Oasis dari TikTok. Ada anak SMA yang meminjam parka ayahnya. Ada keluarga dengan tiga generasi, semua memeluk memori yang berbeda dari band yang sama.

Dan itulah yang membuat Oasis Live ’25 bukan sekadar reuni band. Ia adalah reuni budaya. Reuni rasa. Reuni pengalaman hidup. Reuni antara masa lalu dan masa kini yang nggak pernah berpamitan dengan benar.

Saya teringat malam Singapura itu. Malam ketika saya melihat Liam mengambil posisi dengan tangan di belakang punggung, menatap lampu sorot seolah ia menatap langit dunia. Malam yang saya nggak tahu akan menjadi salah satu malam terakhir Oasis berdiri dalam formasi utuh. Malam yang sampai hari ini masih terasa seperti sesuatu yang nggak selesai.

Lisa Simpsons, adik Bart dalam salah satu episode The Simpsons pernah bilang bahwa nostalgia adalah bentuk rasa rindu terhadap sesuatu yang sebenarnya nggak pernah benar-benar ada. Tapi Oasis Live ’25 adalah kebalikan dari itu. Ia bukan nostalgia terhadap bayangan. Ia adalah nostalgia terhadap sesuatu yang benar-benar terjadi, benar-benar membekas, benar-benar membentuk kita.

***

Kalau ada satu hal yang paling terasa di konser-konser Oasis 2025, itu adalah bagaimana waktu mendadak menjadi benda yang bisa kamusentuh. Di tengah stadion yang penuh, di bawah ribuan lampu ponsel yang bergerak seperti bintang-bintang mini, waktu kecelakaannya sendiri: ia berhenti, lalu mundur, lalu maju lagi. Oasis mengubah stadion jadi mesin waktu, tapi bukan dengan cara kaku seperti film sci-fi. Lebih seperti ruang gelap tempat memori, suara, dan tubuh bertemu untuk saling mengakui satu sama lain. Dan itu terjadi bukan karena band tiba-tiba jadi sentimental. Justru karena mereka nggak mencoba sentimental. Mereka hanya memainkan lagu, dan dunia yang menyelesaikan sisanya.

Lagu-lagu itu, yang dulu kita dengarkan dengan earphone murahan, kini kembali dengan kedalaman yang aneh. Wonderwall,  lagu yang sudah terlalu sering diputar sampai banyak orang rela skip hanya demi kesehatan mental, kembali terdengar seperti sesuatu yang ditulis oleh dua anak muda yang percaya bahwa hidup bisa diselamatkan dengan satu kalimat sederhana. Live Forever nggak lagi terdengar seperti optimisme masa muda, tapi lebih seperti mantra penyembuhan yang dibisikkan generasi ke generasi. Champagne Supernova terasa seperti seseorang memutar ulang adegan hidup kamu dari jauh, adegan yang dulu kita kira sudah hilang.

Di konser 2025, Oasis membuktikan bahwa lagu-lagu mereka bukan sekadar lagu. Mereka adalah kontainer emosi, memori, trauma, kemenangan kecil, patah hati besar, masa remaja yang kita pikir sudah terkubur. Dan ketika lagu-lagu itu dimainkan ulang dengan kekuatan penuh, mereka nggak hanya mengubah panggung; mereka mengubah orang-orang yang berdiri di sana.

Yang menarik adalah bagaimana band ini berubah tanpa kehilangan pusat gravitasi mereka. Liam tetap Liam. Noel tetap Noel. Tapi energi di antara mereka seperti seseorang yang menarik dua kutub magnet yang dulu saling menolak dan tiba-tiba menemukan posisi baru yang lebih stabil. Nggak ada pelukan emosional. Nggak ada pidato sentimental. Nggak ada “kami kembali sebagai keluarga.” Mereka nggak perlu itu. Yang mereka butuhkan hanyalah panggung yang bisa menampung kedua ego sekaligus, tapi juga memberikan ruang agar ego-ego itu nggak harus bertarung untuk menang.

Seperti yang ditulis The Guardian, “The power of this reunion lies in its lack of sentimentality.” Liam dan Noel nggak berubah jadi sahabat. Mereka nggak pura-pura damai. Mereka hanya profesional. Mereka membiarkan musik bekerja. Dan inilah cara paling Oasis untuk berdamai: tanpa kata-kata.

Dan itu mungkin definisi paling tepat dari Liam dan Noel. Mereka nggak kembali karena saling rindu. Mereka kembali karena lagu-lagu itu lebih besar dari perselisihan mereka. Mereka kembali karena dunia membutuhkannya. Dan mereka kembali karena akhirnya, untuk pertama kalinya, waktu berdiri di sisi mereka.

Salah satu review paling jujur datang dari Rolling Stone UK, yang menulis bahwa tur ini “has no right to be this emotionally coherent.” Dan itu memang terasa. Karena nggak ada alasan rasional kenapa dua musisi yang sudah menghancurkan satu sama lain selama berpuluh tahun bisa menciptakan konser yang terasa begitu solid dan dewasa. Tapi itu terjadi. Dan itu mungkin karena dalam musik, hal-hal yang kita coba jelaskan sering justru bekerja di wilayah yang tidak bisa dijelaskan.

Panggung yang berkelas.

***

Banyak orang bilang reuni ini hanya terjadi karena uang. Itu sebagian benar. Semua orang tahu bisnis reuni itu besar. Tapi kalau reuni ini cuma tentang uang, vibe konsernya nggak mungkin sebersih itu. Orang bisa merasakan sesuatu yang “dipaksa”. Dan nggak ada bagian di konser Oasis 2025 yang terasa dipaksa. Nggak ada bagian yang terasa canggung. Nggak ada bagian yang terasa seperti mereka sedang “berakting”. Justru sebaliknya: semuanya terasa lepas, mengalir, natural, meski jelas di belakang panggung mereka mungkin nggak bertukar jokes.

Kalau ada hal yang paling menguras energi saya selama menonton rekaman konser-konser itu, itu adalah ekspresi penonton. Kamu bisa lihat wajah-wajah yang berdiri di dekat barricade. Mereka bukan sekadar excited. Mereka seperti sedang menyaksikan sesuatu yang dulu mereka kira mustahil. Ada ketegangan di wajah mereka, seperti orang yang takut berkedip karena takut kehilangan momen. Ada banyak yang menangis. Banyak yang memeluk teman. Banyak yang cuma berdiri diam, tersenyum, melihat panggung dengan air mata yang nggak malu-malu lagi.

Dan semua itu bukan karena Oasis sempurna. Oasis nggak pernah sempurna. Mereka nggak pernah rapi. Nggak pernah konsisten. Nggak pernah menjadi band yang benar-benar stabil. Tapi justru kenggaksempurnaan itu yang membuat Oasis terasa begitu manusiawi. Dan dalam reuni 2025 itu, rasa kemanusiaan itu kembali muncul. Ada rasa “kita sudah melewati banyak hal” yang terasa seperti napas kolektif satu stadion.

Tur ini juga memperlihatkan betapa besarnya pengaruh Oasis terhadap tiga generasi. Ketika kamu melihat anak 17 tahun dengan parka terlalu besar dan mata yang berkaca-kaca saat Slide Away dimainkan, kamu sadar bahwa Oasis bukan band zamannya saja. Mereka seperti bahasa universal yang diturunkan dari kakak ke adik, dari orang tua ke anak, dari playlist lama ke algoritma baru. Oasis punya kemampuan melewati batas usia dan batas era, sesuatu yang nggak dimiliki banyak band Inggris, bahkan yang legendaris sekalipun.

Kualitas konsernya sendiri nggak bisa dianggap enteng. NME memuji sound engineering-nya sebagai salah satu yang terbaik dalam konser rock Inggris dekade ini. Panggungnya dibuat modern tapi tidak overproduced, visualnya cerdas, pencahayaannya artistik, dan secara keseluruhan mereka membawa konsep “stadium rock” ke level yang lebih matang. Bahkan beberapa kritikus menyebutnya sebagai “the most cinematic rock tour since U2’s Vertigo era.” Dan semua itu terasa natural, tidak megah berlebihan, tapi berkelas.

Liam dalam vers terbaiknya.

Dan itu sebabnya reuni ini terasa monumental. Karena ia bukan reuni satu era, tapi reuni tiga era sekaligus. Oasis 90-an bertemu Oasis 2000-an, dan keduanya bertemu generasi 2020-an yang justru membuat lagu-lagu Oasis viral lagi. Ada sesuatu yang sangat puitis tentang itu. Lagu-lagu yang dulu ditulis Noel dengan gitar akustik murahan kini menjadi anthem lintas generasi yang dimainkan di stadion modern dengan teknologi terkini. Lagu-lagu itu nggak berubah. Tapi dunia di sekitarnya berubah. Dan lagunya tetap bertahan.

Guardian menulis, “This is how these songs always wanted to live.” Dan ini terasa benar di setiap chorus yang dinyanyikan penonton dengan volume yang bahkan Liam tidak bisa mengalahkan.

Dan akhirnya, kita sampai pada pertanyaan yang paling besar: apa arti reuni ini?

Arti reuni ini berbeda buat semua orang. Buat beberapa orang, ini kesempatan untuk menutup bab yang nggak pernah ditutup. Ada yang menjadikan konser ini nostalgia masa remaja. Sementara, ada juga yang menganggap konser ini sebagai kesempatan untuk melihat salah satu band paling penting dalam hidup mereka tampil lagi sebelum terlambat.

Buat saya, reuni ini terasa seperti seseorang yang akhirnya datang kembali untuk mengatakan, “Maaf kemarin kami buru-buru pulang. Kami hadir untuk pamitan, kali ini dengan cara yang benar.”

Oasis nggak harus kembali. Mereka nggak punya kewajiban. Mereka nggak punya hutang. Tapi kembalinya mereka inilah yang membuat reuni ini terasa seperti sebuah hadiah dari semesta. Hadiah untuk semua orang yang pernah berdiri di stadion dengan suara serak, memeluk memori yang nggak mereka sadari akan menjadi sesuatu yang permanen.

Reuni ini juga menunjukkan sesuatu yang lebih universal: bahwa manusia selalu punya peluang untuk berubah. Bahwa nggak peduli seberapa keras kepala kamu atau seberapa banyak kata-kata buruk yang sudah kamu ucapkan, akan ada satu titik di mana kamu bisa kembali menjadi versi terbaik dirimu. Liam berubah. Noel berubah. Dan mungkin, meski mereka nggak akan pernah bilang, dunia juga ikut berubah bersama mereka.

Kalau saya kembali ke malam Singapura 2009 itu, saya ingat betul bagaimana rasanya berjalan keluar stadion setelah konser selesai. Ada perasaan puas, tapi juga ada rasa “kok kayaknya ada sesuatu yang belum kelar.” Saya nggak tahu itu apa. Saya hanya merasakannya.  

Dan di 2025, ketika Oasis berdiri kembali di panggung, cerita itu akhirnya menemukan ujungnya. Akhir yang nggak penuh drama, nggak penuh air mata, nggak penuh simbolisme murahan. Akhir yang sederhana: dua saudara berdiri di panggung, memainkan lagu yang mereka ciptakan, membiarkan dunia bernyanyi bersama mereka. Itu saja. Tapi terkadang, itu saja sudah cukup.

Dan mungkin itu pelajaran terbesar dari semuanya: Oasis nggak kembali untuk menjadi muda. Mereka kembali untuk menjadi utuh.

Karena pada akhirnya, reuni Oasis bukan tentang Oasis. Reuni Oasis adalah tentang waktu, dan bagaimana kita akhirnya berdamai dengannya.

Dua saudara yang membanggakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *