Foo Fighters: Nostalgia, Tawa, dan Perayaan 30 Tahun di Saitama

Tujuh Oktober 2025. Saitama Super Arena jadi tempat di mana nostalgia, kehilangan, dan harapan ketemu lagi dalam satu malam. Foo Fighters tampil solo di Jepang untuk pertama kalinya setelah 17 tahun. Dua jam penuh cerita, tawa, dan gebukan keras yang ngebuktiin satu hal: mereka masih band rock paling jujur di muka bumi.

Oleh: BOY MAHAR INDARTO

Sejak pagi, ratusan orang udah berdiri di depan area merchandise, sampai ke sudut paling tinggi stadion. Padahal, penjualan baru mulai pukul 14.30 waktu setempat. Tapi ini Jepang: semua tertib, rapi, cepat. Begitu dibuka, antrian langsung jalan sat-set tanpa dorong-dorongan. Konon, kaos edisi khusus Foo Fighters: Live in 2025 ludes hari itu.

Menjelang sore, suasana di sekitar stadion berubah kayak karnaval kecil. Angin dingin sepoi-sepoi, orang lalu-lalang pakai kaos Foo Fighters, Pantera, Oasis, Green Day, sampai Nirvana. Semua udah siap buat nunggu pintu dibuka jam 17.30. Malam besar itu bentar lagi dimulai.

Ledakan Pertama

Begitu lampu panggung nyala jam delapan malam, suara gitar mulai menggema. Dave Grohl muncul dari sisi kanan panggung, lari ke tengah dengan energi khasnya. “Are you ready? Are you ready? Let’s go!” teriaknya. Lalu… Enough Space meledak.

All My Life, Rope, The Pretender, dibabat tanpa jeda. Chris Shiflett dan Pat Smear gantian maju, Nate Mendel tetap jadi penjaga groove yang kalem, dan satu sosok baru langsung nyedot perhatian: Ilan Rubin, drummer muda yang duduk di kursi legendaris milik mendiang Taylor Hawkins.

Ilan Rubin: Kasar Tapi Tepat

Buat fans Foo Fighters, posisi drummer tuh sakral. Taylow Hawkins dulu flamboyan dan eksplosif, sementara Josh Freese (yang sempat menggantikan) dikenal presisi dan “mahal”. Ilan Rubin beda. Gaya mainnya mentah, agresif, tapi jujur.

Drum set-nya mirip Taylor, tapi cara mukulnya lebih lugas. Polanya masih main aman, tapi energinya liar, kayak anak muda yang nggak takut keringetan. Dan kayaknya, itu yang dicari Dave Grohl.

Momen paling haru datang pas Aurora dimainkan. Logo elang khas Taylor muncul di atas panggung, bukan di depan kayak era Josh Freese. Rasanya kayak pengukuhan halus: Ilan Rubin direstui jadi drummer Foo Fighters.

Setelah Monkey Wrench – di mana Ilan Rubin memamerkan aksi solo yang gila – Dave nyeletuk, “He’s good. He’ll be good.” Pendek, tapi penuh makna. Kayak Grohl pengen bilang: tenang aja, anak ini aman.

Dave Grohl: Raja Panggung yang Jujur dan Konyol

Kalau ada penghargaan buat frontman paling jujur di dunia, Dave Grohl menang telak. Di antara lagu, dia bisa berubah jadi komedian dadakan.

“Nate tadi nyoba gulat sumo, dan dia survive!” katanya, sebelum ngeledek, “Lo pake celana pegulatnya nggak? – “Enggak.” – “Ah, payah!”

Rami Jaffee dan Chris Shiflett disanjung, Pat Smear dibecandain sampai geleng-geleng kepala, dan Ilan Rubin dikenalin dengan suara tinggi-cempreng: “ILAN RUBIN!!!” Penonton ketawa, Dave ngakak. “Baru kali ini gue ngenalin dia begini. Kayaknya bakal gue terusin di konser selanjutnya!”

Sampai akhirnya Dave ngolok lagunya sendiri. “This next song is stupid,” katanya sebelum Big Me. Tapi pas lagu jalan dan layar belakang muter video-video lama – dari klip jadul sampai footage panggung tahun 2000-an – lagu itu nggak terdengar bodoh sama sekali. Malah hangat banget.

Nostalgia, Nirvana, dan Konser yang Terlalu Cepat

Di sela lagu, Dave banyak cerita soal masa lalu. Tentang band-band Jepang yang dulu dia, Kurt Cobain, dan Krist Novoselic suka, kayak Boredoms, Guitar Wolf, sampai The High Lows.

“Kami dulu bawa mereka tur keliling dunia bareng Nirvana. Itu gila banget,” katanya.

Ini juga jadi konser solo pertama Foo Fighters di Jepang setelah 17 tahun. Biasanya mereka cuma nongol di Fuji Rock atau Summer Sonic. “Biasanya kami main di outdoor. Sekarang di tempat tertutup. I like it!” kata Dave.

Satu hal yang bikin geregetan: setlist-nya dipotong. Dari biasanya 24 lagu, malam itu cuma 19. Dua jam aja, tapi padat, sehat, bergizi.

Times Like These, These Days, Walk, My Hero, Learn to Fly, This is a Call, No Son of Mine, Best of You, semua dibawain kayak mesin rock yang nggak kenal capek.

Akhir Hangat untuk John Silva

Sebelum lagu terakhir, Dave cerita kalau hari itu ulang tahun John Silva, manajer yang udah bareng dia sejak zaman Nirvana.

“Gue ketemu John 35 tahun lalu waktu Nirvana nggak tahu kenapa butuh manajer,” kata Dave sambil ketawa. “Dia pernah ngatur Nirvana, Sonic Youth, Beck, Beastie Boys… semua band favorit lo. Tapi yang keren, gue cuma punya satu manajer selama 35 tahun, dan dia cuma punya satu Foo Fighters selama 30 tahun.”

Dave lalu ngajak satu stadion teriak, “Happy birthday, John!”

Dan sebelum Everlong dimulai, dia sempat bilang, “I love you, John. Gue nggak tahu gue bakal jadi apa tanpa lo.”

Semua orang nyanyi bareng – buat John, buat Taylor, buat Foo Fighters.

Malam itu Foo Fighters nggak cuma bawain konser rock. Mereka ngebagiin kenangan, kehilangan, dan cinta – lengkap dengan tawa, bir, dan teriakan keras.

Dan setelah semua selesai, satu hal yang pasti: Dave Grohl masih raja panggung sejati. Dan Foo Fighters masih punya alasan kuat buat terus ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *