Musik, Uang, dan Trik Kotor

Upaya band indie Indonesia mencari makan di industri yang tak kenal ampun.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Jadi musisi independen di Indonesia itu kayak anak punk yang mencoba bertahan hidup di tengah kemacetan Jakarta. Keras, brutal, dan penuh ketidakpastian. Dulu mungkin bisa jual CD di distro, dapet duit dari gig kampus, atau kalau hoki, dilirik label besar. Sekarang? Selamat datang di era di mana kamu harus jadi content creator, marketer, dan, kalau perlu, belajar kripto demi bisa makan dari musik.

Beberapa musisi mulai berpikir keluar dari jalur biasa, nyari celah di dunia digital. Contoh manisnya? Ananda Sukarlan. Pianis klasik ini bukan cuma maestro di tuts piano, tapi juga di dunia NFT. Dua karyanya, variasi piano solo “Pergi Belajar” oleh Ibu Sud dan “Rapsodia Nusantara Nomor 35“, berhasil dilelang hampir Rp1 miliar di NFT marketplace Metaroid pada 2022.

Lalu ada Anang Hermansyah, bapak dari Aurel, mertua Atta Halilintar, dan, dalam semesta lain, seorang pelopor token kripto di Indonesia. Token ASIX, proyeknya yang rilis di Maret 2022, sempat terjual ludes. Awalnya dibanderol Rp69 per token dengan total suplai 10 triliun token. Hype? Jelas. Tapi kripto itu kayak rollercoaster, naik tajam lalu nyungsep brutal.

NFT dan kripto ini bisa dibilang kayak jualan kaos tur eksklusif di dunia digital. Bisa bikin kaya mendadak, tapi juga bisa berakhir kayak pesta yang nggak pernah ada. Tapi ada trik lain yang lebih artistik: kolaborasi musik dan seni visual. Di Banyuwangi, musisi dan pelukis lokal mulai main di skema ini. Bayangkan membeli sebuah lagu, terus dapat lukisan digital dari seniman top. Hasilnya? Karya yang nggak cuma didengar, tapi juga dikoleksi kayak vinyl langka. Model bisnis masa depan atau tren sementara yang bakal tenggelam? Waktu yang jawab.

Tapi kalau ngomongin uang, musisi tetap harus menggempur platform streaming. Masuk ke playlist yang tepat di Spotify, tiba-tiba lagu kamu didengar ribuan orang. Tapi duitnya? Lima ribu stream cuma cukup buat beli kopi sachet. Kalau nggak ngerti cara mainnya, siap-siap aja jadi budak algoritma yang kerja rodi buat platform.

Alternatif lain? Konser virtual. Veeps, TikTok Live, atau YouTube bisa jadi panggung tanpa batas. Jual tiket buat intimate session, Q&A, atau sekadar main lagu baru di kamar yang berantakan. Bahkan, musisi di luar negeri udah mulai nyari cara lebih gila buat cari duit. Kate Nash dan Lily Allen, misalnya, masuk ke OnlyFans. Lily Allen bahkan ngaku dapet lebih banyak dari jualan foto di OnlyFans dibanding dari Spotify, meskipun punya jutaan pendengar. (Gila?) Mungkin. Tapi ini dunia di mana kita harus kreatif atau mati.

Dan jangan lupakan trik tertua dalam buku pedoman musisi: jualan merch. Kaos, tote bag, rilisan fisik edisi terbatas. Ini yang bikin band indie kayak Seringai atau The Adams tetap hidup. Fans mau sesuatu yang bisa mereka pegang, sesuatu yang bikin mereka merasa lebih dari sekadar angka di dashboard analytics. Untuk memperkuat strategi ini, Synchronize Fest 2022 ngasih panggung buat Ruru Shop buat ngadain kolaborasi antara 9 musisi dengan 9 seniman visual dalam bentuk merch eksklusif. Ini bukan cuma strategi bisnis, tapi juga pernyataan artistik.

Kesimpulannya? Kita nggak bisa cuma mengandalkan satu cara buat cari makan dari musik. Harus jadi serigala yang tahu kapan menggigit, kapan pura-pura jinak. Industri ini nggak akan kasih kamu uang cuma karena kamu berbakat. Kita harus berani bermain, berani spekulasi, dan kadang, berani kehilangan sesuatu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *