LOVE CHANT: The Lemonheads Belajar Tersenyum Tanpa Pura-Pura
Sebuah bisikan lembut dari band yang pernah muda dan masih punya sesuatu untuk diceritakan
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Ada sesuatu yang menyenangkan dari mendengar band lama masih bernafas dengan cara yang baru. The Lemonheads, band yang dulu jadi suara manis dari dekade yang penuh sinisme, akhirnya balik lagi dengan Love Chant. Dua puluh tahun sejak mereka terakhir nulis lagu orisinal, Evan Dando datang lagi dengan rambut berantakan, gitar yang masih hangat, dan rasa yang tetap sama: campuran antara malas, jujur, dan entah bagaimana romantis.
Album ini nggak terdengar seperti band tua yang berusaha kembali muda. Justru kebalikannya. Love Chant terdengar seperti seseorang yang akhirnya berdamai dengan masa lalu. Suara Dando masih lembut dan agak malas, tapi sekarang ada getar baru di baliknya: lebih dewasa. Direkam di São Paulo dengan produser Apollo Nove, album ini terasa lebih lembab, lebih berwarna.
Lagu “In The Margin” jadi pembuka yang pas, riff-nya ringan tapi punya semangat rebel khas Lemonheads. “It’s Not Too Late to Start Again” mungkin lagu yang paling jujur; terasa kayak surat kecil dari Dando buat dirinya sendiri.
Kolaborasi bareng J Mascis dan Juliana Hatfield bikin album ini terasa kayak reuni kecil yang berisi orang-orang yang pernah tersesat di jalan yang sama. Lagu-lagunya nggak mengubah dunia, tapi mengingatkan kita bahwa musik kadang cukup buat bikin hari jadi lebih pelan, lebih manusiawi.
Yang jelas, Love Chant bukan nostalgia. Album ini lebih kayak seseorang yang kita temui lagi setelah dua dekade, dan bikin kita sadar kalau dia masih orang yang sama. Hanya saja sekarang tahu cara tersenyum tanpa pura-pura.
Nilai: 7,8/10

.

