“MAYHEM”: Sebuah Kerusuhan Sintetis?

Dulu, Lady Gaga adalah kekacauan pop yang hidup. Setengah cyborg, setengah diva kabaret yang menginjak-injak industri dengan sepatu Alexander McQueen.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Mayhem” adalah sebuah mimpi liar yang berpendar, tabrakan antara trash-glam era ’80-an dan hook hasil algoritma AI yang kedengeran kayak soundtrack disko di dunia selepas kiamat. “Disease” membuka album dengan dentuman cyberpunk. Rasanya seperti anak haram Bad Romance dan Nine Inch Nails. Sayang, rasanya kayak tantrum yang udah dilatih berbulan-bulan.

Abracadabra” jelas lezat, tapi lezatnya kayak cheeseburger McDonald’s. Mengenyangkan, familiar, tapi nggak bikin nagih. Gaga, dengan kebijaksanaannya yang absurd, menumpuk teatrikalitas: nyanyian mantra, geraman primitif, dan beat yang kedengeran kayak wahana roller disco berhantu.

Lalu masuk ke balada. “Vanish into You” dan “Shadow of a Man” tenggelam dalam melankolia synth-heavy. Rasanya kayak tiba-tiba terjebak di dunia “Stranger Things”. Penuh nostalgia, tapi cukup cerdas buat bikin kita tetap terpikat.

Baru di “Perfect Celebrity“, racunnya keluar. Gaga, sang seniman panggung abadi, menusukkan pisaunya ke kemunafikan Hollywood: “Choke on the fame and hope it gets you high.” Nah, ini dia gigitan yang kita tunggu!

Dan kemudian ada “Die With a Smile“, duetnya sama Bruno Mars. Di semesta lain, lagu ini pasti dinyanyikan di bar remang penuh asap sementara dunia di luar sana terbakar. Itu momen! Gaga selalu paling kuat saat dia merasa, bukan saat dia berakting.

Jadi, apa itu “Mayhem“? Kerusuhan yang jelas dikalkulasi, kiamat yang didesain. Apinya masih menyala, tapi nggak lagi liar. Ini Gaga dengan volume maksimal, tapi bahaya yang dikurangi.

NILAI: 7/10. Bising. Megah. Sesekali brilian. Tapi kekacauan yang sebenarnya? Belum sampai sana!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *