Jumbo (2025): Review Film Animasi Indonesia tentang Fantasi, Trauma, dan Dongeng yang Nyata

Jumbo (2025) membawa kisah fantasi dan trauma dalam balutan animasi Indonesia yang hangat, jujur, dan memikat. Simak review lengkapnya di sini.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Film Jumbo (2025) datang seperti bisikan masa kecil yang lama tak terdengar. Kamu tahu, semacam nostalgia yang nggak minta diingat, tapi tiba-tiba nyusup di antara kelelahan hari dewasa.

Judulnya sendiri nggak menjanjikan banyak hal—malah kedengaran kayak maskot minuman atau gajah sirkus. Tapi begitu film ini dimulai, saya sadar: ini bukan soal nama, ini soal rasa. Dan Jumbo adalah rasa yang dalam. Bukan manis, bukan getir. Tapi semacam permen rasa buah yang kamu temukan di saku jaket lama—sedikit lengket, tapi bikin hangat.

Ryan Adriandhy, yang dulunya dikenal karena punchline dan sarkasme, nunjukin kalau dia nggak cuma bisa bikin orang ketawa. Dia bikin film ini dengan jiwa, bukan cuma teknik.

Cerita tentang Don, anak sepuluh tahun yang kehilangan orang tua dan hidup dalam kesunyian dongeng, sebenarnya bisa dengan mudah jatuh jadi melodrama murahan. Tapi tidak. Jumbo justru terasa jujur. Film ini tahu bahwa kehilangan nggak butuh air mata yang berlebihan, cukup satu momen hening, satu buku yang terbuka, dan satu dunia yang meledak dari halaman-halaman dongeng lama.

Ini bukan animasi yang jualan warna-warni dan tingkah lucu. Tapi animasi yang tahu betul cara membangun perasaan lewat cahaya, tekstur, dan diam. Setiap gerakan Don, setiap sudut ruang yang ia tempati, seolah menyimpan sesuatu yang pernah hilang dalam hidup kita juga. Mungkin itu mainan, mungkin itu rasa percaya. Tapi Jumbo bikin kita mau mengingatnya kembali.

Dan jangan salah, ini film yang indah. Visualnya nggak malu-maluin kalau disandingin sama studio-studio luar. Tapi yang paling bikin nempel bukan kecantikannya, tapi kehangatannya. Ada sesuatu yang “Indonesia banget” di dalamnya, tanpa perlu mengeja batik atau nasi goreng. Ini cerita yang bisa lahir di mana saja, tapi tumbuh dan berakar di sini.

Dan pengisi suaranya—Ariel, Cinta Laura, BCL, Angga Yunanda—anehnya nggak ganggu. Mereka nggak tampil sebagai selebriti, tapi sebagai karakter yang bernapas. Itu sulit, lho.

Oh iya, yang bikin film ini lebih dari sekadar tontonan anak-anak adalah keberaniannya menyentuh tema berat: perundungan, trauma, kehilangan, dan harapan yang rapuh. Tapi semuanya disampaikan dengan bahasa yang lembut, tanpa ceramah, tanpa gimmickJumbo seperti pelukan diam dari seseorang yang tahu kamu butuh didengar, bukan diselamatkan.

Mungkin Jumbo bukan film yang langsung klik buat semua orang. Ia pelan, penuh perasaan, dan lebih suka bicara lewat suasana daripada dialog yang terus-menerus menjelaskan. Tapi justru karena itu, film ini pantas dicoba. Karena di antara gempuran tontonan serba cepat dan instan, Jumbo memilih untuk duduk diam, menatap matamu, lalu bercerita pelan-pelan. Dan siapa tahu, dari cerita itu, kamu nemuin sesuatu yang selama ini kamu simpan rapat.

Jumbo bukan sekadar film animasi Indonesia; ini pengalaman yang jujur, pelan, dan penuh perasaan.. Skornya? 9 dari 10.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *