Jakarta in Your Area: BLACKPINK, BLINK, and the Beautiful Chaos of Two Pink Nights
Antara nasi goreng, sate, dan chant “Maunya Digoyang”, BLACKPINK menulis ulang makna tur dunia: bukan hanya tampil di depan Indonesia, tapi tampil bersama Indonesia.
Oleh: JOKO ADNAN
Jakarta, 1 & 2 November 2025. Dua malam yang menyalakan ibu kota.
Ribuan lampu berwarna pink menari di udara, suara tawa, teriakan, dan nyanyian bergulung seperti ombak di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
BLACKPINK kembali ke Jakarta lewat tur dunia mereka bertajuk Deadline World Tour, dan dua malam itu terasa lebih dari sekadar konser, tapi sebuah perayaan global pop yang bersentuhan lembut dengan kultur lokal: dari nasi goreng, sate, sampai lagu “Ga mau pulang, maunya digoyang”.
Sabtu malam. Langit Jakarta meneteskan hujan pelan-pelan. Tapi begitu dentuman “Kill This Love” bergema, semua lupa payung dan lupa cuaca.
“Pink Venom”, “How You Like That”, dan “Playing With Fire” membakar suasana.
“Langit menetes, tapi semangat gak pernah padam.” — tulis salah satu BLINK di X malam itu.
Di segmen solo, masing-masing member menampilkan sisi mereka:
Jennie memancarkan swagger lewat “Like Jennie”, Lisa memecahkan panggung lewat “Rockstar”, Jisoo melankolis lewat “Hugs & Kisses”, dan Rosé mencuri sorotan bukan karena nada tingginya — tapi karena ia makan nasi goreng sebelum tampil.
“Enak banget nasi goreng di sini,” ujarnya di panggung sambil tersenyum, dan satu stadion pun ikut tertawa.
Malam berakhir dengan “Jump”, “Boombayah”, dan “As If It’s Your Last”.
Hujan turun lagi, tapi tak satu pun penonton pulang. Mungkin karena, seperti liriknya, they wanted it to last.
***

Di konser hari ke 2, Minggu malam. Langit di atas GBK Senayan, masih kelabu tapi kering.
Show dimulai pukul 18.40, udara sejuk, dan visual jam digital bertuliskan DEADLINE berdetak di layar raksasa.
Jennie membuka dengan seruan lantang:
“Jakarta, you make us feel so alive!”
Rosé malam itu tampil lepas. Ia bercanda, meniru tukang sate sambil bilang, “So tasty!”, dan seketika seluruh stadion meledak tawa.
Namun momen paling tak terlupakan justru datang di luar rundown:
Penonton tiba-tiba menyanyikan chant khas Indonesia —
“Ga mau pulang, maunya digoyang!”

Rosé berhenti, menatap ke arah tribun, lalu ikut menyanyi sambil menggoyangkan bahu.
Suasana pecah total. Kamera LED menyorot wajahnya yang tertawa lepas, dan momen itu jadi simbol dua arah: antara idola dunia dan penonton lokal yang benar-benar “connect”.
“You guys are the craziest crowd ever!” kata Rosé, sebelum menutup malam dengan “Forever Young.”
Dua malam itu memperlihatkan dua sisi BLACKPINK: megah dan manusiawi.
Hari pertama penuh intensitas dan hujan romantis; hari kedua lebih ringan dan spontan.
Dari nasi goreng ke sate, dari teriakan “Jakarta!” sampai “Maunya digoyang!”, konser ini menjadi dialog antara global pop dan semangat lokal yang hidup.
“Ketika idol dunia ikut nyanyi lagu warung tenda, di situlah pop global menemukan rumahnya.”


5 Things We Loved from BLACKPINK’s Deadline Tour Jakarta
- Rosé ikut bernyanyi saat “Maunya digoyang” — spontan, lucu, dan legendaris.
- Cuaca kontras dua malam: hujan magis vs. mendung dramatis.
- Cita rasa lokal, ada nasi goreng & sate jadi bagian dari narasi tur global.
- Produksi panggung luar biasa: visual sinematik dan pyro yang nyaris teatrikal.
- BLINK Indonesia yang bukan sekadar fans, tapi co-performer.

Tentang Deadline World Tour
Deadline World Tour adalah tur dunia ketiga BLACKPINK, dimulai di Goyang, Korea Selatan (5 Juli 2025), mencakup lebih dari 30 konser di tiga benua.
Sebelum Jakarta: Los Angeles, Chicago, Toronto, Paris, Milan, Barcelona, London dan Manila.
Setelahnya: Singapura, Tokyo, dan berakhir di Hong Kong pada Januari 2026.
Total 14 negara, 33 pertunjukan, dan — menurut banyak media Korea — Jakarta adalah salah satu crowd paling hidup sepanjang tur.
Jakarta wasn’t just a stop — it was a statement.

