GOWOK: Ketika Cinta, Tubuh, dan Tradisi Bertabrakan
Hanung Bramantyo kembali lewat Gowok: Kamasutra Jawa dengan tema yang jarang disentuh di film Indonesia.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Kali ini, Hanung bercerita tentang “gowok,” tradisi lama di Jawa di mana seorang perempuan dewasa mengajari pemuda soal cinta dan kedewasaan sebelum menikah. Film ini diangkat dari buku berjudul sama karya Heru Kesawa Murti. Novel aslinya sudah lama dikenal karena berani membicarakan hal yang jarang disentuh.
Hanung mengadaptasinya dengan gaya yang khas. Nggak lantas jadi sebuah film erotis, melainkan kisah tentang warisan, kekuasaan, dan batas antara ajaran dan Hasrat yang tetap mengutamakan sisi manusia di dalamnya.
Sejak awal, film ini terasa seperti mimpi yang hangat dan misterius. Suasana Jawa kuno digambarkan dengan detail: rumah joglo, cahaya temaram, suara gamelan yang pelan tapi menegangkan. Kamera menyorot tubuh dan gerak manusia dengan rasa ingin tahu, bukan dengan niat memancing. Semua dibuat untuk menunjukkan bagaimana tubuh dulu dianggap suci, sebelum moral modern membuatnya tabu.
Lola Amaria tampil kuat sebagai Nyai Santi, tokoh yang menyimpan banyak rahasia tapi tetap setia pada tradisi. Di matanya, kita bisa melihat campuran antara kebijaksanaan dan kesepian. Raihaanun dan Devano Danendra juga tampil meyakinkan sebagai generasi muda yang mulai mempertanyakan arti cinta dan kesucian.
Secara visual, Gowok indah. Setiap adegan seperti lukisan hidup. Warna, cahaya, dan tata artistiknya dirancang dengan penuh perhatian. Tapi di balik keindahannya, ada beberapa catatan.
Film ini terasa agak terlalu padat. Ada banyak hal yang ingin disampaikan dalam waktu yang sama: tentang adat, seksualitas, patriarki, dan pergeseran zaman. Kadang film ini terasa melompat karena ingin bicara terlalu banyak.
Meski begitu, keberanian Hanung layak dihargai. Dia membuat film tentang seks tanpa vulgar, dan tentang budaya tanpa terasa kuno. Ia menunjukkan bahwa tubuh manusia bisa jadi cermin dari nilai dan keyakinan. Gowok membuat penonton berpikir, tapi tetap mudah dinikmati.
Nilai: 7,8 / 10


