GOOD NEWS: Mengapa Tawa Pahit Lebih Jujur dari Tragédi?

Good News adalah sebuah karya satir yang effortless dalam menertawakan kerapuhan otoritas dan kegetiran kebenaran yang dimanipulasi.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Dalam Good News, Byun Sung-hyum nggak menyajikan ketegangan; ia menyajikan parodi yang memuakkan tentang kebenaran. Film ini bukan tentang bagaimana maskapai lokal Jepang dibajak oleh para idealis muda berhaluan kiri di tahun 1970. Melainkan tentang bagaimana kebenaran itu sendiri dibajak oleh tangan-tangan kekuasaan yang gatal.

Sejak kalimat pembuka “Inspired by true events, but all characters are fictional” muncul di layar, kita diundang ke dalam sebuah permainan yang absurd. Permainan di mana krisis bukanlah bencana yang harus diatasi, melainkan aset politik yang harus diolah.

Di tengah kekacauan internasional itu, muncul dua arketipe yang kontras: ‘Nobody’ (Sul Kyung-gu), si pemecah masalah misterius yang nihilistik, dan Letnan muda Seo Go-myung (Hong Kyung), yang membawa sisa-sisa idealisme yang naif.

Nobody bergerak seperti bayangan, tahu bahwa politik dan intelijen hanyalah teater yang dimainkan oleh orang-orang dungu yang terhormat. Sementara Go-myung, ia adalah penonton pertama yang merasa jijik pada hipokrisi kekuasaan. Sebuah hipokrisi yang siap mengorbankan nyawa demi narasi media yang tampak heroik.

Film ini mencapai klimaksnya dalam babak yang paling sureal: ketika Bandara Gimpo Seoul harus diubah menjadi Pyongyang, sebuah ilusi kolektif yang diperankan oleh negara. Di sinilah Good News menemukan kedalaman filosofisnya. Komedi gelap ini bukan hanya menertawakan ketidakmampuan birokrasi, tetapi juga menertawakan kita yang -seperti para pembajak yang tertipu oleh replika bendera- sering tertipu oleh kebenaran yang direkayasa media.

Pada akhirnya, Good News mengajukan pertanyaan pahit: Jika tragedi ini diselesaikan dengan aman berkat kebohongan tingkat tinggi dan kerja keras rahasia, lalu siapa yang berhak menjadi pahlawan?

Dan saat sang pahlawan sejati dipaksa bungkam demi menjaga citra negara, kita menyadari bahwa Good News adalah tawa yang paling getir. Tawa ini muncul karena absurditas, bukan karena kelucuan. Ia menusuk, mengingatkan kita bahwa di setiap panggung politik, fiksi selalu lebih populer daripada fakta.

Nilai: 8.5/10.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *