Foo Fighters Kembali Menggebrak Jakarta Setelah 29 Tahun
Bukan sekadar konser comeback, tapi perayaan lintas generasi: Foo Fighters bikin Jakarta bernyanyi, berteriak, dan bernostalgia penuh energi dalam satu malam.
Oleh: DJOKO ADNAN
“It’s Been a Long Time!”
Saya masih ingat jelas pertama kali menonton Foo Fighters secara langsung: tahun 2017 di Singapore National Stadium. Malam itu Dave Grohl dan kawan-kawan membuktikan mengapa mereka layak disebut salah satu band rock terbesar di era modern. Tapi Kamis malam (2/10), ketika mereka akhirnya kembali ke Jakarta setelah hampir tiga dekade absen, pengalaman itu naik level — lebih besar, lebih emosional, lebih bersejarah.
Sekitar pukul 20.30 WIB, panggung di Carnaval Ancol akhirnya meledak. Puluhan ribu penonton yang sudah memadati venue sejak sore langsung berteriak ketika Dave Grohl, Nate Mendel, Pat Smear, Chris Shiflett, Rami Jaffee, dan drummer terbaru Ilan Rubin naik ke panggung. Tanpa banyak basa-basi, riff gitar “All My Life” menghantam keras, membuka malam yang akan dikenang lama oleh fans musik rock di Indonesia.
“Sudah lama sekali… sudah begitu lama! Jakarta, apa kalian sudah siap?!” teriak Dave Grohl dengan scream khasnya. Energi itu langsung menyapu seluruh penonton, yang sebagian besar mengenakan kaus hitam bertuliskan logo khas “FF”.

Setlist Impian, Nostalgia yang Menyala
Foo Fighters membangun setlist yang nyaris sempurna: dari anthem era awal seperti “This Is a Call”, “Big Me”, hingga hits lintas generasi seperti “Times Like These”, “The Pretender”, “Walk”, dan tentu saja “Everlong” sebagai klimaks. Sorak sorai semakin pecah saat Dave menyanyikan “My Hero” dan “Learn to Fly”, lagu yang sudah menjadi soundtrack hidup banyak orang di Carnaval Ancol malam itu. Total ada 25 lagu yang masuk dalam setlist malam itu dan dibawakan selama 2,5 jam!
Yang mengejutkan, mereka juga menyelipkan “Aurora” — lagu favorit fans hardcore yang jarang dimainkan di konser. “This one is for the old school Foo Fighters fans!” ujar Dave sebelum masuk ke riff meditatif lagu itu.

Antara Sejarah dan Perayaan
Bagi penonton Jakarta, konser ini bukan sekadar hiburan. Banyak yang masih ingat ketika Foo Fighters pertama kali manggung di Indonesia dalam ajang Jakarta Pop Alternative Festival 1996, berbagi panggung dengan Sonic Youth, Beastie Boys, Netral, Pas Band, dan Nugie. Kini, 29 tahun kemudian, mereka kembali sebagai legenda hidup dengan katalog 10 album dan 11 Grammy Awards.
Momen ini seperti penebusan penantian panjang: sebuah perayaan musik, dedikasi, dan ikatan emosional antara band dan fans lintas generasi.

Lebih dari Sekadar Konser
Tidak ada gimmick berlebihan di panggung Foo Fighters malam itu. Visual simpel tapi artsy, lampu sorot dramatis, dan energi murni rock & roll jadi senjatanya. Dave Grohl — yang nyaris tidak pernah kehabisan tenaga — berlari, menjerit, bercanda, lalu kembali menghantam gitar seakan umur hanyalah angka.
Konser ditutup dengan “Everlong”, lagu yang selalu menjadi perpisahan paling manis sekaligus paling emosional. Puluhan ribu orang bernyanyi bersama, menciptakan paduan suara raksasa di tepi laut Jakarta.
Foo Fighters akan melanjutkan tur Asia mereka ke Singapura, Tokyo, dan Osaka. Tapi bagi mereka yang ada di Ancol malam itu, rasanya Jakarta sudah mendapat penampilan terbaiknya.

“Malam ini bukan hanya soal Foo Fighters kembali ke Jakarta. Ini soal bagaimana musik bisa menyeberangi generasi, menjaga api rock tetap menyala, dan membuktikan bahwa menunggu 29 tahun itu akhirnya terbayar lunas.”

