Fantastic Four: First Steps (2025) — Keluarga Baru yang Akhirnya Diterima
Setelah beberapa kali reboot yang gagal dan versi Galactus yang tak terlupakan (dalam cara yang salah), Marvel akhirnya berhasil menghidupkan kembali Fantastic Four lewat First Steps (2025). Disutradarai dengan sentuhan nostalgia dan kehangatan, film ini bukan tentang kekuatan super, tapi tentang sesuatu yang jauh lebih manusiawi: keluarga yang akhirnya diterima kembali ke rumah besar Marvel.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Akhirnya Marvel berhasil! Setelah reboot yang bikin banyak orang ilfeel dan satu versi Galactus yang….. yah, kita lupakan saja bentuk awan itu, Fantastic Four kini kembali. Kali ini terasa kayak pulang ke rumah yang benar.
Tapi rumahnya kali ini bukan rumah yang ramai. Lebih bisa dibilang rumah yang hangat. Yang cat temboknya agak retro, musiknya lembut, dan penghuninya nggak sibuk jadi keren. Mereka beneran jadi keluarga.
Jujur, First Steps memang nggak bisa menyembunyikan ambisinya. Film ini berupaya untuk memperkenalkan kembali Fantastic Four sebagai inti semesta Marvel, bukan cuma sebagai nama besar dari komik klasik. Tapi untungnya, film ini nggak sok penting. Film ini cukup tahu kapan harus bermain-main, dan kapan cukup duduk bareng dan ngobrol dari hati ke hati.
Pedro Pascal sebagai Reed Richards merupakan pilihan yang nggak mengejutkan, tapi tetap memuaskan. Wajah letih-bijaksananya cocok jadi pemimpin keluarga yang lebih sering ragu daripada yakin ini. Vanessa Kirby memerankan Sue Storm dengan ketenangan yang pas. Tapi bintang sesungguhnya, kalau kamu tanya saya, adalah Johnny Storm versi Joseph Quinn. Karakter ini bisa meledak tapi tetap lovable, kayak adik ipar yang nyebelin tapi selalu ditunggu di acara keluarga. Selain itu, Ebon Moss-Bachrach sebagai Ben Grimm juga berhasil bikin The Thing jadi lebih dari sekadar monster batu. The Thing jadi sosok yang baik dan sabar banget menunggu giliran bicara.

Bagaimana chemistry-nya? Nggak usah diragukan! Untuk pertama kalinya dalam sejarah sinema Fantastic Four, kita bisa percaya mereka ini benar-benar satu keluarga.
Yang juga menarik menurut saya adalah pilihan gaya filmnya. Marvel kali ini tampil dengan rasa ‘60-an, mulai dari kostum, teknologi, warna, sampai scoring Giacchino yang terasa kayak kombinasi antara ruang angkasa dan Broadway. Estetikanya manis, dan cukup berbeda dari kebanyakan film MCU lain yang kadang rasanya kayak hasil copy-paste dengan filter berbeda.
Tapi bukan berarti semua pilihan itu bikin filmnya langsung mulus.
Naskah film ini punya masalah yang sulit diabaikan. Ada saat di mana film ini kebanyakan mau. Mau jadi film petualangan keluarga, mau jadi cerita asal-usul, mau kenalin villain gede, dan mau nyiapin semesta buat ke depan. Nggak jelek sih. Tapi, beberapa bagianjadi terasa terburu-buru.
Galactus muncul, bikin heboh… lalu hilang begitu saja. Silver Surfer nongol, keren sih, tapi nggak sempat ninggalin bekas. Dan di paruh akhir, film ini kayak lupa bahwa kekuatannya ada di ruang-ruang kecil, bukan di ledakan kosmik.
Tapi di luar itu, saya paham kenapa banyak yang jatuh hati. Karena First Steps berani menyentuh sesuatu yang dilupain banyak film Marvel akhir-akhir ini: bahwa superhero itu bukan soal menyelamatkan dunia dari alien. Tapi soal menyelamatkan diri sendiri dari kesepian.
Ada adegan kecil yang bikin saya tersentuh. Reed Richards, yang selalu bisa merentangkan tubuh sejauh apapun, akhirnya bilang bahwa yang paling sulit buat dia adalah meraih orang-orang terdekat. Kalimatnya simpel, tapi diucapkan dengan tatapan yang jujur. Dan di situ saya paham, kenapa film ini berhasil. Bukan karena CGI-nya, bukan karena cast-nya, tapi karena akhirnya kita bisa melihat superhero yang rapuh tanpa jadi lemah.
Dan bukan cuma mereka. Marvel juga kelihatannya sadar, bahwa semestanya yang dulu megah, sekarang butuh lebih banyak ruang untuk diam. Fantastic Four: First Steps bukan film yang heboh di setiap frame-nya. Tapi justru karena itu jadi terasa segar.
Ini adalah film Marvel pertama dalam beberapa tahun terakhir yang saya tonton tanpa berharap kejutan besar. Justru karena itu, saya bisa menikmati tiap adegannya. Dan saat kredit berjalan di layar, saya bisa tersenyum kecil. Akhirnya ada lagi film Marvel yang layak ditonton ulang.
Skor: 8/10 dari saya. Sebuah film tentang belajar jadi keluarga yang sepertinya jauh lebih sulit dari sekadar menyelamatkan dunia.


