Ed Sheeran – PLAY: Ketika Rumus Jadi Lagu, dan Lagu Jadi Pengakuan
Ada musisi yang berkembang dengan menabrak batas, dan ada yang tumbuh dengan merangkul hal-hal yang sudah dikenalnya. Ed Sheeran termasuk dalam kelompok kedua.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Setelah satu dekade menulis lagu untuk dunia dan untuk dirinya sendiri, Play terdengar seperti napas panjang dari seseorang yang akhirnya berhenti berlari. Ini bukan album yang mencoba memamerkan kebaruan, melainkan semacam “reboot pribadi”, Ed Kembali pada melodi-melodi yang membuatnya dikenal sejak awal.
Sejak lagu pertama, Sapphire, Sheeran seolah mengingatkan kita kenapa namanya dulu begitu cepat melejit: karena ia tahu bagaimana membuat lagu terasa akrab bahkan di dengar pertama. Lagu itu meluncur lembut, diisi gitar akustik dan harmoni yang bersih. Lalu datang Azizam, percobaan kecil dengan nuansa Timur Tengah yang memberi warna menarik meski terasa masih di permukaan. Sheeran memang menambahkan beberapa pengaruh baru, dari beat yang lebih halus sampai instrumen etnik, tapi semuanya tetap dibungkus dengan formula khasnya: sederhana, melodis, dan enak didengar.
Di bagian tengah, Paper Wings dan Old Ways menjadi inti dari Play. Keduanya memotret sisi introspektif Ed tanpa terdengar berat. Ia nggak lagi menulis tentang cinta yang manis seperti di Shape of You, tapi juga tidak sekelam Subtract. Ada rasa tenang yang mengalir di antara lirik-liriknya, seolah ia sudah berdamai dengan tekanan untuk selalu membuat hits. “Old Ways” khususnya terasa seperti surat untuk dirinya sendiri: pengakuan bahwa berubah bukan berarti meninggalkan, tapi memahami apa yang masih ingin dipertahankan.
Namun Play juga menunjukkan sisi lain dari kedewasaan Ed: kecenderungan untuk bermain aman. Produksinya terasa terlalu rapi, bahkan steril. Setiap nada dipoles hingga mengilap, tapi kehilangan sedikit keberanian yang dulu membuat X atau Divide terasa hidup. Lagu-lagu seperti Fading Light dan Glassheart sebenarnya menunjukkan potensi arah baru, tapi sepertinya Ed menahan diri. Saat pendengar berharap lagu itu akan meledak, dia justru memelintirnya menjadi lembut. Pilihan ini membuat Play nyaman untuk didengar berulang kali, tapi jarang benar-benar membekas setelah selesai.
Meski begitu, Play nggak bisa dibilang gagal. Album ini justru memperlihatkan sisi Ed yang paling manusiawi. Ia nggak sedang mencari kejutan atau pengakuan; ia sedang mencoba bertahan di tengah dunia pop yang terus berubah.
Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan ketika mendengar lagu-lagu ini. Rasanya kayak ngobrol dengan teman lama yang sudah banyak berubah, tapi masih punya tawa yang sama. Play mungkin bukan album paling berani, tapi ia punya kejujuran sederhana: bahwa musik, di tangan Ed Sheeran, tetap tentang berbagi cerita, bukan sekadar mengejar formula.
Play adalah album yang nyaman, halus, dan reflektif. Lebih cocok dinikmati di sore hari ketika kamu butuh sesuatu yang menemani pikiran berjalan pelan. Dengan segala kekurangannya, album ini menegaskan satu hal: Ed Sheeran tidak lagi berlomba dengan siapa pun, bahkan dirinya sendiri. Ia hanya, seperti judulnya, mencoba bermain. Dan mungkin, di situ justru letak kemenangan kecilnya.
Nilai: 7 dari 10.


