“DOVES, ’25 ON BLANK CANVAS”: Fragmentasi Jiwa di Era Digital

Mixtape ini bukan album biasa. Ini adalah labirin suara, serpihan emosi, dan paranoia eksistensial yang dijahit dengan benang gitar, synth, dan suara radio tua.

Oleh : JUNIOR EKA PUTRO

Doves, ‘25 on Blank Canvas” adalah perjalanan seorang Hindia yang menolak diikat oleh batasan format, sebuah eksperimen bunyi yang berlari liar tapi tetap berakar pada keresahan sosial dan personal yang khas.

Sebelum kita menyelam lebih dalam, mari kita luruskan satu hal. Mixtape bukanlah album. Ia tidak tunduk pada aturan konvensional industri rekaman. Mixtape itu seperti sketsa di buku catatan musisi—kasar, eksperimental, dan sering kali lebih jujur daripada album studio yang terlalu dipoles. Hindia memanfaatkan kebebasan ini untuk melepaskan 16 lagu yang terasa lebih spontan, lebih mentah, tapi juga lebih liar.

Hindia menggandeng berbagai musisi, dari Iga Massardi hingga BAP, dan hasilnya adalah kolaborasi eklektik yang tak pernah terdengar stagnan.
Setiap trek adalah dunia kecilnya sendiri.

Kamis” menjadi bukti bahwa musik bisa lebih dari sekadar hiburan. Lagu ini bisa menjadi pengingat sejarah, dengan suara Maria Sumarsih, seorang aktivis hak azasi manusia yang anaknya menjadi korban peristiwa Semanggi- yang menghantui dari masa lalu dan enggan pergi. “BF-131131525” terasa seperti manifesto digital era AI, dan trek-trek lainnya menciptakan atmosfer yang tidak selalu nyaman, tapi selalu menarik.

Namun, seperti kebanyakan mixtape, Doves terkadang terasa seperti kumpulan ide yang dilempar ke kanvas kosong tanpa kejelasan tujuan. Ada lagu-lagu yang menohok seperti peluru tajam, tapi ada juga yang terasa seperti demo yang belum matang. Ada momen ketika Hindia terdengar terlalu sibuk mengejar tekstur suara ketimbang menyampaikan sesuatu yang benar-benar kuat

Yang pasti, “Doves, ‘25 on Blank Canvas” bukan album untuk semua orang. Ini bukan kumpulan anthem generasi muda yang siap jadi lagu latar Instagram. Ini adalah perjalanan yang menantang, penuh teka-teki, dan terkadang membingungkan.

Tapi itulah daya tariknya. Jika “Menari dengan Bayangan” adalah narasi yang tersusun rapi, maka “Doves…” adalah halaman catatan yang penuh coretan, post-it berserakan, dan peta pikiran seorang musisi yang terus bereksperimen dengan batas-batasnya sendiri.

Hindia sedang berbicara, dan meskipun tidak semua orang akan mengerti, suara itu tetap perlu didengar.

Nilai 7,5/10 .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *