“DELI BOYS”: Serial Komedi Kriminal yang Brutal

“Deli Boys” adalah kekacauan yang menyenangkan. Seperti mobil curian yang melaju kencang di jalanan kota sambil memutar lagu The Clash.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Mir dan Raj Dar mengira mereka hanya akan mewarisi toko kelontong ayah mereka, tapi ternyata itu cuma pintu masuk ke dunia kejahatan yang lebih liar dari pesta Rolling Stones tahun ’72.

Vibe-nya? Bayangkan jika “Breaking Bad” dan “Weeds” punya bayi, lalu bayi itu dibesarkan oleh seorang bibi mafia yang doyan makan samosa dan mengutip filsafat jalanan. Poorna Jagannathan sebagai Auntie Lucky masuk dengan karisma sebesar ucapan Mick Jagger di atas panggung Madison Square Garden. Karakter ini bagaikan pelajaran dalam kriminal yang anggun-dingin, cerdas, dan punya selera humor yang lebih tajam dari pisau dapur di toko DarCo.

Dialognya tajam, ritmenya cepat, dan humornya? Kadang-kadang seperti riff gitar punk yang menghantam telinga, kadang seperti pukulan uppercut dari Bruce Lee. Nggak terduga, tapi memuaskan.

Namun, di balik semua tawa dan letupan adrenalin, ada momen-momen yang mencoba menyelam ke dalam realitas imigran dan beban keluarga, meskipun nggak selalu sampai ke dasar lautan emosional yang ingin mereka jelajahi.


Deli Boys” adalah sebuah pertunjukan yang berani, liar, dan cukup keras untuk meninggalkan jejaknya di lanskap serial TV modern.

Skor: 8,5/10 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *