“BARTENDER: KAMI NO GLASS”: Alkohol, Filsafat, dan Kebosanan

Jika kamu mencari sesuatu yang lebih tenang, lebih atmosferik, dan lebih dekat ke seni daripada hiburan biasa, ini bisa menjadi sajian yang sempurna untukmu.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Ada sesuatu yang ajaib ketika alkohol, manusia, dan waktu bercampur dalam satu gelas. “Bartender: Kami no Glass” mencoba menyuling pengalaman itu ke dalam anime, menciptakan sebuah dunia yang lebih tenang daripada meditasi, lebih dalam daripada obrolan tengah malam di bar murah, dan… terkadang, lebih membosankan daripada menunggu bartender selesai ngobrol dengan pelanggan tetapnya.

Mari kita lihat visualnya. Ini bukan anime yang akan membombardirmu dengan warna neon ala cyberpunk atau pertarungan dahsyat yang bikin jantung berdebar. Ini adalah slow burn, visual jazz dalam bentuk anime.

Permainan cahaya di Eden Hall? Luar biasa. Pencahayaan redup dan sudut kamera yang halus membuat kita benar-benar merasa sedang duduk di bar kelas atas, menunggu koktail yang dibuat dengan presisi surgawi.

Lalu ada karakter utamanya, Ryuu Sasakura, yang lebih mirip seorang filsuf dibandingkan bartender. Dia tidak hanya membuat minuman, dia membaca jiwa manusia. Setiap koktail punya cerita, setiap pelanggan punya luka yang harus disembuhkan. Dan anime ini melakukan pekerjaan yang solid dalam mengemas setiap tegukan minuman dengan filosofi hidup yang kadang bijak, kadang terlalu pretensius.

Oh iya, jangan lupakan aspek teknisnya—detail dalam proses pembuatan koktail itu pornografi bagi para pecinta mixology. Cara es diukir, bagaimana minuman dituangkan, bagaimana setiap gelas dipoles sebelum disajikan. Bagi yang menikmati perhatian pada detail, ini adalah eye candy dalam bentuk alkohol cair.

Tapi jujur saja: ini bukan anime untuk semua orang. “Bartender: Kami no Glass” bisa terasa lebih lambat dari antrean di bar saat happy hour. Plotnya? Hampir tidak ada. Setiap episode lebih seperti kumpulan cerita pendek yang terhubung oleh tema yang sama: manusia, minuman, dan luka batin mereka.

Jika itu terdengar menarik bagimu, maka kamu akan menikmati setiap detiknya. Jika tidak, kamu mungkin akan memeriksa ponsel setiap 5 menit.

Lalu ada narasi filosofisnya. Kadang-kadang terasa mendalam dan menyentuh, tapi di saat lain, bisa terdengar seperti bartender sok bijak yang mencoba mengajarkan hidup padamu yang tipsy karena tiga shoot tequila. Tidak semua orang ingin mendengar kuliah eksistensial saat mereka hanya ingin menikmati segelas Negroni.

Bartender: Kami no Glass” adalah pengalaman yang unik. Jika kamu mencari sesuatu yang lebih tenang, lebih atmosferik, dan lebih dekat ke seni daripada hiburan biasa, ini bisa menjadi sajian yang sempurna untukmu. Tapi jika kamu butuh sesuatu yang lebih menggigit, lebih cepat, dan lebih berisi, mungkin ini hanya akan terasa seperti segelas air putih mahal di bar kelas atas.

SCORE: 7.5/10 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *