Anggun: Dari “Orang Jawa Palsu” ke Ikon Dunia — Dua Dekade Perjalanan Musik dan Refleksi Industri

Wawancara eksklusif ini menelusuri perjalanan Anggun C Sasmi, penyanyi Indonesia yang menembus panggung dunia sejak era 2000-an. Dari pengakuannya soal harus “jadi orang Jawa palsu” di luar negeri hingga kritik tajam terhadap industri musik era streaming, kisah ini menegaskan bahwa karier global tak pernah lepas dari keberanian dan kejujuran diri.

Oleh: DJOKO ADNAN

Mei 2006, Jakarta. Di tengah hiruk pikuk promo album terbarunya Luminescence dan konser bertajuk “Konser Untuk Negeri” yang sukses besar, Anggun menyempatkan diri untuk duduk ngobrol santai di Presidential Suite, Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Kala itu, saya yang menjabat sebagai Managing Editor majalah Trax berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan penyanyi Indonesia yang berhasil menaklukkan kancah internasional tersebut.

Interview ini pertama kali dimuat di majalah Trax edisi Juli 2006, dan menjadi salah satu momen langka di mana Anggun bercerita lugas tentang perjalanan kariernya, keputusannya hijrah ke luar negeri, obsesinya terhadap Trent Reznor, hingga mimpinya yang belum kesampaian: punya anak.

Dengan rambut panjang terurai dan gaya bicara yang santai tapi tegas, Anggun memancarkan aura seorang musisi yang tahu betul siapa dirinya. Di sela jadwal promo yang padat, ia tak segan membedah sisi-sisi personal dan profesionalnya dengan kejujuran yang segar.

“Kayaknya Trent Reznor itu my man of my musical life deh,” katanya sambil terkekeh.

Dari Jakarta ke Dunia

Berbeda dengan banyak artis Indonesia yang masih mengandalkan teman atau keluarga sebagai manajer, Anggun memilih jalan yang lebih serius begitu memutuskan merantau.

“Dulu kan kebanyakan artis di sini dikelola sama teman, sepupu, saudara, atau orang tua mereka. Aku dulu malah sama sekali nggak punya orang bisnis,” kenangnya. “Kalau di Prancis, mereka itu punya manajer beneran. Mereka bekerja sebagai otak dan tenaga pengembangan artisnya. Kayak membangun ulang dari nol — milih orang yang tepat, tim yang tepat, media yang tepat. Dari situ kesempatan dan peluang lain datang dengan sendirinya.”

Langkah strategis itu jadi fondasi penting untuk perjalanan internasionalnya. Ia tak hanya mengandalkan bakat vokal, tapi juga ketajaman membaca industri.

Anggun (Foto: AGAN HARAHAP)

Education vs Entertainment

Ketika ditanya soal hubungan antara pendidikan dan dunia hiburan, Anggun tak ragu. “Kalau buat aku sih ada,” ujarnya. Ia mencontohkan banyak musisi luar yang punya basis pengetahuan kuat, bahkan dari dunia film. “Lihat aja filmnya Wong Kar Wai atau Ang Lee — mereka pinter banget ngeramu mood dan atmosfer. Itu semua basic education juga. Di musik pun begitu. Buatku, belajar teori itu penting. Kayak saat main piano atau belajar komposisi klasik.”

Ia menyebut contoh komposer besar: Mozart, The Beatles, hingga Bach. “Mereka punya struktur. Jadi walaupun akhirnya kita ngerjain musik pop, fondasinya kuat,” katanya. “Aku sendiri nggak terlalu teoritis, tapi aku ngerti pentingnya basic.”

Keputusan Besar: Hijrah ke Luar Negeri

Waktu itu, Anggun mengambil keputusan besar: meninggalkan Indonesia untuk bertaruh nasib di luar negeri. “Gambling,” ujarnya tanpa tedeng aling-aling. “Kita sebetulnya hanya sekali dalam hidup bisa mengambil keputusan besar kayak gitu. Karena begitu kita punya anak, keluarga, tanggung jawab — semua jadi lain. Aku waktu itu belum ada tanggungan. Umurku juga masih 20-an. Jadi aku pikir, mending ambil risiko sekalian.”

Awalnya, dia datang ke luar negeri dengan bekal tekad dan demo. “Aku kirim kaset demo ke beberapa perusahaan rekaman. Tiga bulan kemudian baru dapat kabar, dan semuanya negatif,” ia tertawa kecil mengingat masa itu. Tapi Anggun tidak menyerah.

“Akhirnya Harus Jadi Orang Jawa Palsu”

Perjuangannya di luar negeri tidak mudah. Ia harus mulai dari nol, bahkan belajar bahasa Prancis. “Di sana akhirnya aku harus jadi orang Jawa yang malu-maluin,” katanya sambil tertawa. “Bayangin, orang Jawa tapi harus ngetok pintu satu-satu nyari kontak person label. Aku kayak… duh!”

Sedikit demi sedikit, jalan terbuka. Ia mulai bikin satu lagu demi satu lagu, rekaman, dan akhirnya mendapatkan kontrak besar. “Pahit — tapi dikit,” ujarnya ringan.

Obsesi dan Pengalaman Pribadi

Dalam wawancara ini, Anggun juga tak ragu bicara soal hal-hal personal. Ketika ditanya obsesi terbesarnya, ia menjawab tanpa ragu:“Aku pengen punya anak! Itu adalah sukses yang tertunda juga.”

Selain itu, Anggun mengaku kagum berat pada sosok Trent Reznor (Nine Inch Nails). “Kayaknya Trent Reznor itu my man of my musical life deh. Aku pengen banget kerja sama dia. Dia tuh jenius,” katanya antusias.

Tetap Cinta Indonesia, Tapi…

Ketika ditanya apakah ia pernah terpikir kembali dan menetap di Indonesia, Anggun menjawab tegas:

“Enggak. No no no!!! Aku harus realistis soal masa depanku sebagai musisi.”

Bukan berarti ia melupakan tanah air. Ia tetap belajar banyak dari pengalaman di Indonesia — terutama soal cara mengelola karier dan memahami industri. “Di luar negeri, manajer dan akuntan itu dua profesi penting banget. Di sini waktu itu semua masih harus dipelajari sendiri,” katanya.

Kilas Balik & Perjumpaan Lagi

Waktu berjalan cepat. Setahun setelah wawancara ini, keinginan Anggun untuk punya anak akhirnya terwujud. Putrinya, Kirana Cipta Montana Sasmi, lahir pada 8 November 2007 di Paris. Kehadiran Kirana menjadi babak baru dalam hidupnya — sesuatu yang ia sebut sebagai “sukses yang tertunda” di wawancara 2006.

Loncatan waktu membawa kita ke tahun 2023. Jelang konser 50 tahun God Bless, saya kembali bertemu Anggun. Suasananya seperti membuka album kenangan: dua dekade berlalu, tetapi energi dan ketulusannya masih sama.

God Bless, Kaset, dan TikTok

Di sela latihan menjelang konser 50 Tahun God Bless, Anggun bercerita dengan mata berbinar tentang masa-masa tur bersama para legenda rock Indonesia.

“Kalau ketemu mereka tuh kayak ketemu paman-paman sendiri,” ujarnya sambil tertawa.

Ia mengenang masa awal kariernya bersama Ian Antono dan Teddy Sujaya, ikut tur keliling kota sebagai Lady Rocker belia. “Waktu itu umurku 12 tahun, baru lulus SD. Aku tuh bener-bener besar dengan musik mereka. God Bless itu kayak Rolling Stones-nya Indonesia.”

Lagu “Bis Kota” jadi salah satu yang paling berkesan baginya. “Aku seneng banget sama lagu itu. Liriknya innocent, tapi sebenernya ngangkat isu sosial. Itu kan sesuatu yang udah jarang banget sekarang,” katanya.

Ia lalu membandingkan era musik kaset dengan zaman streaming dan TikTok sekarang. “Dulu tuh kita pulang sekolah, tukeran kaset, bikin mixtape, nyium sampulnya — literally. Sekarang musik kayak white noise aja, jadi background makan malam. Ritual mendengar itu hilang.”

Streaming, Siklus, dan Kritik Anggun

Sebagai musisi yang sudah melalui tiga dekade industri, Anggun tak ragu mengkritik sistem musik modern. Ia mengeluhkan budaya “curang” di balik angka streaming dan bagaimana label kini terlalu bergantung pada data semu.

“Sekarang banyak yang beli streaming dari India, beli likes, beli followers. Label ngeliatnya dari angka, bukan dari kualitas musik. Itu sangat membunuh motivasi,” ujarnya tajam.

Ia juga menyinggung soal daur musik yang kini pendek, durasi lagu makin singkat, dan treatment vokal yang seragam. “Di radio, semua suara terdengar sama. Individualitas hilang. Tapi siklus itu pasti akan balik lagi,” katanya yakin.

Dari Lady Rocker ke Coach dan Ibu

Kini, selain tetap aktif manggung, Anggun banyak menghabiskan waktunya sebagai coach di ajang pencarian bakat, dan tentu saja, sebagai seorang ibu. “Sekarang aku nggak cuma kerja untuk diriku sendiri. Ketika menulis lagu, aku selalu memikirkan dunia yang akan diwariskan kepada Kirana,” katanya.

Putrinya kini remaja, tumbuh dengan budaya musik yang sangat berbeda tapi tetap punya fondasi kuat. “Dia dengar Queen, Kate Bush, Nirvana… tapi juga TikTok. Aku nggak melarang, yang penting ada balance,” ujarnya.

Dua Wawancara, Dua Era

Dua wawancara ini — 2006 dan 2023 — seperti dua cermin waktu. Di satu sisi, kita melihat Anggun muda yang penuh determinasi dan idealisme, siap “gambling” demi mimpi global. Di sisi lain, kita melihat Anggun matang, jernih, kritis terhadap industri, tapi tetap memegang teguh nilai dan cintanya pada musik.

Banyak hal berubah, tapi satu benang merah tetap: keberaniannya menjadi diri sendiri.

“Aku nggak mau nulis lagu cuma buat nulis. Musik harus punya makna,” katanya. “Itu nggak akan berubah.”

(Dimuat ulang & dikembangkan dari wawancara eksklusif majalah Trax edisi Juli 2006 dan interview di sela latihan konser 50 Tahun God Bless tahun 2023)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *