ABADI NAN JAYA: Zombi dari Dapur Jamu
Film ini terasa seperti jamu pahit yang bikin merinding. Pahit di awal, tapi uniknya lama-lama terasa nikmat dan membanggakan, karena akhirnya zombi Indonesia punya rasa sendiri.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Kimo Stamboel akhirnya bikin film zombi, tapi dengan cara yang cuma bisa lahir di Indonesia.
Dalam Abadi Nan Jaya, wabah zombi nggak datang dari laboratorium rahasia. Asal-usulnya justru muncul dari dapur jamu di desa kecil. Dari situ, cerita berputar di antara tradisi, keserakahan, dan bencana yang tumbuh dari niat baik yang salah arah.
Ceritanya simpel: seorang ayah berupaya keras membuat ramuan baru agar usaha jamu keluarganya tetap hidup. Justru, saat dirinya hampir putus asa, sepercik harapan muncul. Sebuah racikan jamu awet muda bernama Abadi Nan Jaya. Sayangnya, racikan itu malah membangkitkan sesuatu yang nggak bisa mati.
Kimo memadukan dunia horor dan budaya lokal dengan pas. Bau rempah, suasana desa, dan rasa mistis yang muncul terasa alami. Zombinya pun nggak jadi asing. Mereka seperti bagian dari tanah dan dosa yang ditanam sendiri oleh manusia.
Kelebihan film ini ada di atmosfer. Dari pencahayaan yang lembab sampai warna tanah yang dominan, semuanya terasa hidup dan menegangkan. Kimo nggak buru-buru menakut-nakuti, tapi pelan-pelan membangun rasa ngeri yang menempel. Visualnya keren, musiknya pas, dan darahnya, seperti biasa, realistis dan artistik.
Hanya saja saya merasa Abadi Nan Jaya kadang terlalu sibuk dengan simbol dan pesan moral. Paruh kedua film jadi agak kehilangan ritme karena drama keluarga mengambil porsi besar, sementara ketegangan zombinya menurun. Beberapa karakter juga terasa kurang digali. Jadinya lewat begitu saja. Padahal punya potensi buat bikin cerita lebih dalam.
Meski begitu, film ini sukses menunjukkan bahwa horor Indonesia bisa punya identitas kuat tanpa harus meniru film luar. Abadi Nan Jaya bukan cuma soal mayat hidup, tapi tentang manusia yang terlalu percaya diri pada “ramuan” yang mereka buat. Sebuah harapan yang berbalik jadi kehancura terkait tradisi, atau ambisi.
7,8 / 10 dari saya untuk film yang tayang di Netflix ini.


