A HOUSE OF DYNAMITE: Saat Dunia Nyaris Meledak karena Kesalahan Kecil

A House of Dynamite adalah film yang membuat kamu menahan napas. Bukan karena ledakannya, tapi karena ketakutan bahwa dunia bisa berakhir hanya karena satu kesalahan kecil.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Bayangkan ini: sebuah rudal nuklir meluncur ke Amerika, tapi nggak ada yang tahu siapa yang menembakkannya. Semua orang panik. Mulai dari presiden, militer, sampai staf ruang kendali kebakaran jenggot. Itulah awal dari A House of Dynamite, film terbaru Kathryn Bigelow yang terasa seperti mimpi buruk yang bisa saja jadi nyata.

Film ini bukan film pahlawan. Nggak ada sosok yang benar-benar bisa menyelamatkan dunia. Yang ada hanyalah orang-orang yang kebingungan, saling menuduh, dan berusaha mengambil keputusan dengan waktu yang nyaris habis.

Idris Elba berperan sebagai presiden yang nggak sok gagah. Ia tampil seperti manusia biasa yang takut membuat keputusan salah. Dia sadar kalua satu saja perintah keliru bisa mengakhiri segalanya.

Bigelow mengarahkan film ini dengan cara yang membuat penonton tegang dari awal. Gaya kameranya dingin dan realistis, Membuat kita seperti kita sedang menonton liputan langsung dari ruang krisis.

Nggak ada musik yang berlebihan atau efek ledakan besar. Tapi justru itu yang membuatnya menakutkan. Film ini terasa nyata, seolah semuanya bisa terjadi besok pagi.

Cerita dibagi jadi tiga bagian, masing-masing dari sudut pandang berbeda. Awalnya menarik. Tapi bermasalah saat sudah di tengah. Karena jadinya cerita seakan berulang.

Akhirnya pun dibiarkan terbuka. Kita nggak tahu apakah rudal itu benar-benar meledak atau tidak. Tapi mungkin memang itu pesan Bigelow, bahwa di dunia modern, bahaya terbesar bukan dari musuh, tapi dari sistem yang kita percaya bisa melindungi kita.

Meski berat, A House of Dynamite tetap punya sisi manusia. Ada adegan kecil yang menyentuh: seorang teknisi yang mencoba menelepon keluarganya sebelum sistem dimatikan, atau seorang jenderal yang menatap kosong ke layar peta dunia. Di momen-momen itu, kita sadar bahwa di balik teknologi dan kekuasaan, manusia tetap rapuh.

Skor: 8/10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *