David Bowie dan Seni Menjadi Banyak Orang Sekaligus
Ada musisi yang dikenang karena lagu-lagunya. Ada juga yang dikenang karena wajahnya, gaya hidupnya, atau skandalnya. David Bowie masuk kategori yang lebih sulit: ia dikenang karena cara berpikirnya tentang menjadi manusia.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Bowie bukan cuma penulis lagu hebat. Ia adalah seniman yang menjadikan identitas sebagai medium. Bukan identitas tetap, tapi identitas yang bisa diganti, dibongkar, lalu dipentaskan ulang.
Dalam perjalanannya hampir lima dekade di industri hiburan, Bowie menunjukkan bahwa musik pop bisa menjadi ruang eksperimen filosofis tanpa kehilangan daya tarik massal. Dia membuktikan bahwa perubahan bukanlah tanda nggak setia, melainkan bentuk kejujuran paling radikal.
Lahir sebagai David Robert Jones di Brixton, London Selatan, 1947, Bowie tumbuh di lingkungan kelas pekerja pasca-Perang Dunia II. Musik datang lebih dulu sebagai disiplin. Piano, oboe, jazz modern, dan literatur Beat membentuk fondasi awalnya.
Namun di balik ketekunan itu, ada kecemasan personal yang dalam. Riwayat penyakit mental dalam keluarganya, terutama saudara tirinya, Terry Burns, yang menderita skizofrenia. Ketakutan akan “kehilangan kendali” itu kelak menjadi bahan bakar utama kreativitas Bowie.
Bukannya menghindari ketakutan tersebut, Bowie justru mendekatinya lewat seni. Ia menciptakan persona. Topeng. Karakter. Dengan cara itu, kegilaan bisa dicoba, dimainkan, dan dikendalikan di atas panggung. Bowie nggak melarikan diri dari dirinya sendiri, tapi mengurung kecemasannya dalam bentuk estetika.
Nama “Bowie” sendiri adalah keputusan strategis sekaligus simbolik. Diambil dari pisau Bowie, senjata yang “memotong dua arah”, nama itu mencerminkan ambiguitas yang kelak menjadi ciri khasnya. Maskulin dan feminin. Pop dan avant-garde. Manusia dan alien.
Titik balik awal datang lewat Space Oddity (1969). Lagu ini sering dikenang sebagai soundtrack optimisme era pendaratan bulan. Padahal, inspirasi utamanya justru film 2001: A Space Odyssey karya Stanley Kubrick, yang dingin dan eksistensialis.
Mayor Tom bukanlah pahlawan, melainkan figur terasing yang kehilangan kontak dengan dunia. Ironisnya, BBC memutar lagu ini saat liputan Apollo 11, seolah nggak mendengar kisah kesepian yang dikandungnya. Sejak awal, Bowie sudah memperlihatkan satu pola: karya yang disalahpahami publik, tapi justru bertahan lebih lama dari konteks awalnya.
Masuk awal 1970-an, Bowie melakukan lompatan paling berani: glam rock. Hunky Dory (1971) membuka jalan, tapi The Rise and Fall of Ziggy Stardust and the Spiders from Mars (1972) yang mengubah segalanya. Ziggy bukan sekadar alter ego. Ia adalah alien, mesias rock, figur biseksual, sekaligus kritik terhadap kultus selebritas. Ziggy membawa pesan, lalu hancur oleh ketenarannya sendiri.
Penampilan Bowie di Top of the Pops membawakan “Starman” menjadi momen kultural penting. Ketika ia melingkarkan lengan ke gitaris Mick Ronson dan menatap kamera dengan penuh tantangan, jutaan remaja Inggris melihat kemungkinan baru tentang gender, ekspresi, dan keberanian menjadi diri sendiri. Bowie nggak berpidato, cukup berdiri di televisi nasional dan menunjukkan bahwa aturan bisa dinegosiasikan.
Kolaborasi dengan desainer Jepang Kansai Yamamoto mempertegas bahwa Bowie memandang musik, mode, dan teater sebagai satu kesatuan. Kostum bukan hiasan, tapi narasi visual. Ia menyerap teater Kabuki, seni rupa, dan fiksi ilmiah, lalu menyajikannya dalam format pop yang bisa dicerna publik luas.
Yang pasti, Bowie nggak pernah betah terlalu lama di satu fase. Setelah glam, ia berbelok ke soul Amerika lewat Young Americans (1975). Ia menyebut musiknya “plastic soul”, sebuah pengakuan jujur bahwa ia hanya meminjam tekstur, bukan akar budaya. Lagu “Fame”, hasil kolaborasi dengan John Lennon, justru menjadi hit nomor satu pertamanya di Amerika. Di saat banyak artis mengejar keaslian, Bowie memilih kejujuran tentang kenggakmurnian.
Fase Amerika ini juga menjadi periode paling gelap. Kecanduan kokain, paranoia, dan obsesi okultisme melahirkan persona The Thin White Duke. Dingin, aristokrat, dan nihil emosi. Bowie sendiri kelak mengakui bahwa banyak pernyataan dan sikapnya saat itu lahir dari kondisi mental yang rusak. Namun justru dari kekacauan ini lahir Station to Station, album transisi yang menandai pencarian jalan keluar.
Pelarian itu bernama Berlin. Bersama Brian Eno dan Tony Visconti, Bowie menciptakan apa yang kini dikenal sebagai Trilogi Berlin: Low, “Heroes”, dan Lodger. Musiknya fragmentaris, eksperimental, dan jauh dari formula pop radio. Di sini, Bowie nggak lagi menjadi bintang glam, melainkan pekerja seni yang membongkar ulang struktur lagu.
“Heroes” menjadi puncak emosional periode ini. Lagu tentang dua orang yang berciuman di bawah bayang-bayang Tembok Berlin, direkam dengan teknik vokal yang membuat suara Bowie terdengar semakin besar seiring emosi memuncak. Lagu ini bukan tentang kemenangan permanen, tapi tentang keberanian sesaat. “We can be heroes, just for one day.” Kalimat itu terasa jujur karena nggak menjanjikan keabadian.
Masuk 1980-an, Bowie kembali ke pusat arus utama. Let’s Dance (1983) menjadikannya superstar global. Video, tur stadion, dan estetika pop yang rapi membuatnya dikenal generasi baru.

Namun, fase ini juga menunjukkan konflik internal. Bowie sukses secara komersial, tapi mulai mempertanyakan kedalaman artistiknya sendiri. Glass Spider Tour yang megah sering dikritik, namun kini dilihat sebagai cikal bakal konser pop modern yang konseptual.
Yang sering luput dibahas adalah sisi Bowie sebagai pionir teknologi. Pada 1998, ia meluncurkan BowieNet, sebuah ISP dan komunitas online jauh sebelum media sosial menjadi kebiasaan. Bowie membayangkan internet sebagai ruang dialog langsung antara artis dan audiens, tanpa perantara industri. Ia bukan sekadar ikut tren digital. Ia membayangkan masa depan relasi kreator dan penggemar.
Bowie juga nggak segan bermain dengan dunia seni rupa. Hoaks Nat Tate, pelukis fiktif yang “dikenalkan” ke elit seni New York, menjadi kritik tajam terhadap snobisme kultural. Bowie paham betul bahwa legitimasi sering kali lahir dari kepercayaan kolektif, bukan kualitas intrinsik.
Di usia lanjut, Bowie menjaga jarak dari sorotan. Ia menolak gelar kebangsawanan Inggris, menegaskan bahwa penghargaan institusional bukan tujuannya. Puncak integritas itu datang lewat Blackstar (2016). Dirilis dua hari sebelum kematiannya, album ini bukan sekadar karya terakhir, melainkan perpisahan yang dirancang dengan sadar. Jazz eksperimental, lirik tentang kefanaan, dan video “Lazarus” menjadikan kematian sebagai bagian dari karya seni. Bowie nggak menunggu dikenang. Ia bahkan mengatur cara pamitnya.
Warisan Bowie nggak terletak pada satu genre, satu gaya, atau satu persona. Ia terletak pada izin yang ia berikan kepada pendengarnya: izin untuk berubah, untuk ragu, untuk menjadi banyak versi diri sendiri sepanjang hidup. Dalam dunia pop yang sering menuntut konsistensi, Bowie justru menunjukkan bahwa ketidakkonsistenan bisa menjadi prinsip.


