AGAK LAEN 2: MENYALA PANTIKU! Puzzle yang Terlalu Gampang Diselesaikan
Komedi yang terlalu renyah hingga nggak terasa bekasnya.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Alasan saya duduk di bioskop buat nonton Agak Laen 2 : Menyala Pantiku! itu simpel: saya suka banget sama film pertamanya. Jadi, wajar kalau ada ekspektasi film ini bakal ngasih pengalaman yang minimal sama berkesannya. Tapi setelah kredit bergulir dan lampu studio nyala, rasanya kok… agak hambar ya.
Dibanding film pendahulunya, sekuel ini jelas terasa jauh lebih “ringan”. Formatnya emang komedi yang didesain buat gampang dicerna, dan ceritanya emang ngalir lancar tanpa hambatan. Tapi buat saya, kelancaran itu justru jadi bumerang. Film ini terlalu ringan.
Nonton Agak Laen 2 rasanya kayak lagi main puzzle level easy. Kepingan-kepingannya klop semua, gampang banget direkatkan, dan kita bisa menyelesaikannya cepet tanpa perlu muter otak. Saking gampangnya dimainkan, nggak ada rasa puas pas selesai. Filmnya lewat gitu aja. Nggak berbekas. Nggak ada “potongan” cerita yang stuck di kepala atau bikin pengen didiskusikan panjang lebar. Beda banget sama film pertama yang rasanya masih ninggalin jejak.
Dari segi komedi? Kocak sih, tapi nggak sekocak itu. Semuanya terasa “okay”, tapi nggak ada yang spesial. Jujur, sebuah keajaiban film ini bisa nyalip angka penonton film pertama yang menurut saya jauh lebih berbobot secara cerita dan konflik.
Lucunya, dari durasi sepanjang itu, satu-satunya momen yang bener-benar bisa “dibawa pulang” dan nempel di ingatan saya justru bukan plot utamanya, melainkan adegan ciuman Boris dan Oky. Itu satu-satunya momen absurd yang memorable. Sisanya? Cuma hiburan sekali duduk yang menyenangkan, tapi besok pagi mungkin saya udah lupa ceritanya apaan.
Rating: 7/10


