SAS Group Menyengat Dunia Lewat Piringan Hitam
Puluhan tahun SAS Group hidup sebagai bisik-bisik di antara kolektor. Kini, lewat kompilasi vinyl Bad Shock yang dirilis label independen Amerika Serikat, Psychicreader NYC, musik mereka akhirnya kembali berbicara lantang.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Kadang, kita bertemu sama momen-momen kecil yang kelihatannya ….. receh. Tapi percayalah, ada kalanya momen-momen itu membawa keajaiban dan malah jadi titik balik. Unik sih, saat kita menunggu momen besar yang saking besarnya bisa dapet sorotan di mana-mana, ternyata yang datang adalah keajaiban yang muncul dari sebuah pesan WhatsApp di jam yang random, dari orang yang namanya entah siapa, namun malah bisa bikin sejarah.
Itu yang terjadi pada SAS Group, band rock trio yang selama puluhan tahun hidupnya keseringan beredar sebagai legenda di antara kolektor. Kaset lusuh dan piringan hitam yang mereka rilis harganya bisa bikin orang mengernyit. Intinya, SAS Group adalah masa lampau, yang menghantui para kolektor lewat “pusaka” masa lalu.
Tapi sekarang nggak lagi, tuh. Pada 5 November 2025, Psychicreader NYC, sebuah label independen Amerika Serikat, merilis barang baru dari SAS grup. Sebuah kompilasi resmi pertama SAS Group dalam format vinyl. Judulnya “Bad Shock” dan diambil dari salah satu lagu di album Vol. 2 (Indra Record, 1976). Sebuah pilihan bagus, karena rilisan ini memang seperti sengatan mendadak yang membangunkan banyak orang dari tidur panjang. Eits, band lama itu akhirnya kembali menggeliat.
Nggak butuh waktu lama, piringan hitam tersebut sudah terpajang rapi di Disk Union, salah satu toko musik paling bergengsi di Jepang. Kok Jepang? Karena memang vinyl baru SAS Group ini memang diedarkan di Amerika dan Jepang. Alhasil, terlihatlah sebuah pemandangan penuh magis. Musik rock Indonesia era 70-an, yang dulu lahir dari panggung-panggung panas dan studio yang serba terbatas, kini berdiri sejajar di rak yang sama dengan rilisan-rilisan kelas dunia.

Sekarang, sang label tengah menjajaki kemungkinan distribusi di Indonesia. Ini untuk mengantisipasi permintaan para penggemar rock klasik yang belakangan semakin vokal dan semakin siap mengeluarkan uang untuk benda fisik yang punya aura.
Yang bikin “Bad Shock” penting bukan cuma karena bentuknya vinyl. Tapi karena ia resmi dan orisinal. Sebelumnya, memang pernah ada kompilasi “Baby Rock” (Billboard, 1990), namun seluruh isinya rekaman ulang. Di sinilah bedanya! “Bad Shock” memakai versi rekaman asli, artinya suara yang kita dengar adalah suara masa itu, dengan segala kekasarannya, kejernihannya, dan kegilaannya. Bukan versi yang sudah disisir dan dibedaki demi terdengar “lebih modern”. Jadi dari segi orisinalitas, kompilasi ini terasa seperti mesin waktu yang nggak dibuat-buat. Sebuah rekonstruksi dari dunia panggung dan rekaman rock Indonesia di masa silam.
SAS Group adalah nama penting di dunia musik Indonesia. Trio ini lahir dari retakan besar grup AKA.
Paska melambungnya Ucok Harahap ke Jakarta karena satu dan lain hal, AKA tetap melanjutkan sisa kontrak panggung mereka selama nyaris setahun. Namun dengan formasi minus Ucok. Beruntung Soenatha Tanjung (vokal, gitar, harmonika, biola), Arthur Kaunang (vokal, bass, piano, keyboard), dan almarhum Syech Abidin (vokal, drum) punya vokal yang boleh juga.
“Kami berkeliling bertiga, sementara Ucok sudah di Jakarta. Dia bahkan bikin grup baru selain merilis album Duo Kribo. Belakangan, kami memutuskan untuk menutup buku AKA, dan membuat identitas baru: SAS Group,” kenang Arthur Kaunang, saat ditemui di bilangan Bogor, dua hari menjelang Natal 2025.
Konon, nama SAS datang dari Ismail Harahap, mantan manajer AKA yang juga orang tua Ucok, yang menjadi “tuan rumah” saat AKA dan SAS latihan rutin. Ada ironi halus di sana: band baru dibentuk dari luka band lama, tapi diberi nama oleh sosok yang paling dekat dengan luka itu. Seolah industri musik waktu itu mengajarkan satu hal: konflik bisa membubarkan, tapi juga melahirkan.

Kalau AKA dikenal teatrikal dan penuh atraksi panggung, SAS mengambil jalur yang lebih “musik”. Mereka menonjolkan skill dan kekompakan. Dengan formasi trio, SAS punya keleluasaan tampil agresif tanpa beban koreografi dan gimmick.
Arthur Kaunang jadi personil kunci. Penguasaannya pada piano klasik membuka pintu ke pengaruh progresif rock yang lebih kompleks seperti Emerson, Lake & Palmer, Led Zeppelin, Grand Funk Railroad, Deep Purple. SAS terdengar seperti band yang memang lahir untuk memamerkan kemampuan, bukan menutupi kekurangan. Dan yang paling menarik, ketiganya bisa bernyanyi sekaligus menciptakan lagu. Kombinasi ini menjadi daya tawar yang membuat mereka berdiri sejajar dengan dedengkot lain seperti The Rollies, God Bless, Superkid, atau Giant Step. Bukan sekadar “meramaikan”, tapi punya identitas yang khas.
Itu sebabnya”Bad Shock”, kompilasi yang mereka rilis di zaman modern saat ini, jadi penting. Menurut cerita Denny MR, senior saya di majalah HAI yang kebetulan ikut repot dalam proses perilisan vinyl ini, waktu pembuatannya makan waktu sekitar dua tahun. Dan seperti yang tertulis di bagian awal tulisan ini, semua dimulai dari sebuah pesan WhatsApp dari tim Psychicreader NYC yang mencari kontak SAS Group yang akhirnya berujung ke rilis album kompilasi ini (untuk cerita detilnya, baca saja tulisan Denny di link berikut.
Konon, pemilihan lagunya cukup ketat. Setiap stakeholder, baik Arthur Kaunang, Denny MR, dan Cotter Phinney, pemilik Psychicreader NYC, punya pilihan yang didasari insights masing-masing. Akhirnya, “Bad Shock” dirilis dengan daftar track: Baby Rock, Space Ride, Bad Shock, Summer Sun, Tatto Girl, Larantuka, dan Jika Nanti Kau Panggil Namaku. Pilihan ini adalah statement: kompilasi yang menjadi pintu masuk, campuran antara kebrutalan rock dan identitas lokal Indonesia.
“Bad Shock” dicetak hanya 200 kopi untuk wilayah Amerika Serikat, dan Jepang. Kemungkinan akan ada bagian untuk Indonesia. Artinya sederhana: ini bisa jadi barang langka dalam waktu singkat. Dan langkah Psychicreader NYC seperti melanjutkan jejak label-label luar yang menunjukkan ketertarikan pada musik Indonesia. Sebuah penanda bahwa dunia luar memandang katalog Indonesia bukan sebagai exotica murahan, tapi sebagai sejarah musik yang layak dirawat.(*)
Untuk tahu lebih dalam tentang proses rilis “Bad Shock”, sila cek di video yang telah tayang di akun YouTube Kamarmusikid di bawah ini

