LUPA DARATAN: Ketika Aktor Kehilangan Pegangan
Disutradarai oleh Ernest Prakasa dan tayang di Netflix, film ini mengikuti kisah Vino Agustian, seorang aktor papan atas yang tiba-tiba kehilangan kemampuan paling mendasar dalam hidupnya: berakting.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Dari awal, film ini sudah ngasih sinyal kalo ia nggak ingin menjadi drama berat. Nada komedinya terasa, tapi nggak terlalu kencang. Lebih ke humor situasional yang muncul dari kepanikan orang-orang di sekitar Vino: produser yang gelisah, kru yang bingung, dan lingkungan industri yang selama ini hanya melihat hasil, bukan proses. Ketika hasil itu hilang, semua seperti kehilangan arah.
Vino G. Bastian memainkan peran ini dengan cukup cermat. Tantangannya nggak kecil: ia harus terlihat sebagai aktor hebat yang gagal tampil. Kalau terlalu dilebihkan, jatuhnya jadi parodi. Kalau terlalu ditahan, bisa terasa datar. Vino memilih jalan tengah. Banyak adegan dibiarkan berjalan canggung, dengan dialog minim dan jeda yang panjang. Penonton diajak ikut merasakan kekosongan itu, bukan dijelaskan lewat kata-kata.
Yang menarik dari Lupa Daratan adalah sikapnya yang nggak menggurui. Ernest Prakasa nggak menjadikan film ini sebagai ceramah tentang kesombongan atau karma. Ia juga nggak menyerang industri hiburan secara frontal. Kritiknya halus, bahkan kadang terasa seperti bercanda. Tapi justru di situ pesannya bekerja: betapa rapuhnya identitas seseorang ketika seluruh hidupnya dibangun di atas pengakuan publik.
Secara visual, film ini rapi dan fungsional. Nggak ada gaya kamera yang berlebihan. Semua disusun untuk melayani cerita. Ritmenya cenderung stabil, meski beberapa bagian awal terasa agak lambat.
Relasi personal menjadi salah satu kekuatan film ini. Di balik dunia panggung dan kamera, Lupa Daratan memperlihatkan bagaimana keluarga dan orang-orang terdekat bereaksi ketika sorotan mulai redup. Di titik ini, film terasa lebih hangat. Ia mengingatkan bahwa ada hidup di luar profesi, dan ada nilai diri yang nggak selalu diukur dari prestasi.
Kekurangan, jelas ada! Yang amat terasa adalah sound-nya. Kurang maksimal, dan kadang nggak kedengeran. Sisanya, beberapa konflik terasa diselesaikan terlalu cepat. Skor, 7/10 untuk filmnya!


