OZORA: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel

“Ozora bukan sekadar film — ini adalah luka yang menolak dibungkam.”

Oleh: DJOKO ADNAN

Ozora, Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel adalah film yang datang seperti gelombang ingatan yang belum selesai. Disutradarai Anggy Umbara & Bounty Umbara (dari Umbara Brothers) film ini menghidupkan kembali kasus kekerasan brutal yang menimpa David Ozora — sebuah tragedi yang membuat publik bersuara, marah, dan mempertanyakan ulang makna keadilan di negeri ini.

Keberanian Ozora terletak pada sikapnya: ia tidak sekadar menuturkan sebuah kasus, tetapi menguliti struktur kekuasaan yang memungkinkan tragedi itu terjadi.

Kisah tentang Luka, Kekuasaan, dan Harga Sebuah Keadilan

Muzakki Ramdhan memerankan David dengan kelembutan yang pecah-pecah; tubuh lemah, tatapan trauma, dan keheningan yang terasa bising. Di sisi lain, Chicco Jerikho sebagai Jonathan, sang ayah, menyatukan film ini lewat energi muram seorang pria biasa yang tiba-tiba harus berhadapan dengan sistem besar yang tak memihaknya.

“Keadilan di sini bukan ruang sidang; ia adalah perjuangan untuk martabat manusia.”

Umbara Brothers tidak menggiring penonton ke melodrama berlebihan. Mereka memilih membiarkan realitas berbicara: dingin, getir, dan nyaris tanpa estetika yang memanjakan. Yang mereka sajikan bukan kesedihan — melainkan ketangguhan di balik kesedihan.

Film ini menghadirkan ruang-ruang yang kita kenal: lorong rumah sakit, meja interogasi, ruang sidang. Semua tampil sebagai arena konflik moral antara publik yang marah dan kekuasaan yang tidak ingin ditantang.

Gaya visual Ozora sengaja minimalis. Tidak ada pencahayaan dramatis. Tidak ada shot glamor. Yang ada hanyalah kejujuran kamera — yang kadang terasa seperti menatap terlalu dekat.

Sementara itu, kehadiran dua lagu Sukatani, “Bayar Bayar Bayar” dan “Gelap Gempita”, memberi denyut resistensi pada film ini. Nada-nada kasar dan lirik yang serak memberontak itu terasa seperti suara rakyat yang selama ini terpinggirkan.

“Soundtrack-nya tidak menghias film — ia menghantui.”

Tidak banyak film Indonesia yang berani menggunakan musik agresif untuk menekankan kritik sosial. Ozora melakukannya dengan percaya diri.

Antara Etika dan Keberanian Artistik

Mengangkat kisah nyata yang masih sangat dekat dari waktu kejadian selalu menjadi langkah berisiko. Namun Ozora melakukannya dengan hati-hati: berpihak pada korban, bukan menumpang sensasi.

“Film ini tidak meminta simpati. Ia menuntut kesadaran.”

Bagi sebagian penonton, film ini mungkin terlalu menyesakkan. Tapi memang itu tujuannya. Tidak semua film bertugas menghibur. Beberapa film diciptakan untuk mengingatkan. Dan Ozora memilih menjadi pengingat yang tegas.

Film ini bukan hanya tayang di Indonesia, tetapi juga akan tayang di Malaysia dan beberapa negara lain. Ceritanya menemukan relevansi lintas batas: penyalahgunaan kekuasaan adalah isu universal.

“Ini bukan tontonan nyaman — ini peringatan.”

Saat publik semakin jenuh dengan berita kekerasan, Ozora hadir sebagai ajakan untuk tetap peduli. Untuk tetap marah pada ketidakadilan. Untuk tetap ingat bahwa korban kekerasan bukan headline, tetapi manusia.

Film yang tidak ingin membuatmu nyaman — justru karena itu penting.

Ozora adalah cermin retak tempat kita dipaksa menatap: siapa yang selama ini memiliki kuasa, dan siapa yang selalu membayar harganya.

Rating : 8/10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *