SUARA YANG AKHIRNYA DIAKUI DUNIA
Butuh waktu empat dekade sampai dunia akhirnya benar-benar ngasih pengukuhan buat Soundgarden.
Oleh: BOY MAHAR INDARTO
Chris Cornell udah nggak ada. Tapi tahun ini, nama band yang dia bangun dari garasi kecil di Seattle akhirnya masuk Rock & Roll Hall of Fame 2025 – penghormatan yang datang terlambat, tapi sepenuhnya layak.
Selama bertahun-tahun, Soundgarden sering cuma disebut “bagian dari grunge.” Padahal, tanpa mereka, grunge nggak bakal sekompleks dan seberani itu.
NAIK BERSAMA GRUNGE, TAPI JALANNYA SENDIRI
Soundgarden lahir tahun 1984 – bahkan sebelum istilah grunge dikenal dunia.
Chris Cornell awalnya drummer sebelum sadar vokalnya bisa melengking nyaris empat oktaf. Di gitar ada Kim Thayil, dengan riff yang berat, bengkok, dan sengaja nggak pernah terdengar terlalu rapi. Bareng Ben Shepherd (bass) dan Matt Cameron (drum), mereka bikin suara yang susah dikotakkan: metal iya, alternatif iya, tapi juga spiritual dan aneh.
Soundgarden juga jadi salah satu band grunge pertama yang dikontrak label besar – A&M Records di tahun 1988.
Album Badmotorfinger (1991) jadi tiket masuk mereka ke dunia besar, barengan dengan meledaknya Nirvana dan Pearl Jam.
Bedanya, kalau dua nama itu main di wilayah catchy, Soundgarden justru menyelam ke sisi lain rock: gelap, penuh misteri, tapi tetap punya groove.
Mereka kayak Led Zeppelin yang tumbuh di bawah awan kelabu Seattle.
SUPERUNKNOWN, SUPER JUJUR
Puncaknya datang 1994 lewat Superunknown, album yang ngebawa Black Hole Sun, Fell on Black Days, dan Spoonman. Di sini, Cornell bukan cuma nyanyi – dia membuka dirinya. Lirik-liriknya kayak catatan pribadi yang disuarakan keras-keras.
Album ini debut di nomor satu Billboard 200 dan ngasih mereka dua Grammy Awards. Tapi Cornell pernah bilang kesuksesan itu tidak sepenuhnya membuatnya bahagia:
“Ketenaran itu nggak pernah berarti apa-apa. Musik satu-satunya hal yang menyelamatkan gue,” katanya waktu itu.


TURUN, HENING, BALIK LAGI
Setelah tur panjang dan tekanan yang makin berat, mereka bubar 1997. Cornell sempat bersolo karier, lalu gabung Audioslave bareng personel Rage Against the Machine, sebelum akhirnya Soundgarden balik lagi 2010 dan ngerilis King Animal (2012).
Tapi reuni itu berhenti mendadak 2017, setelah Cornell meninggal di kamar hotel di Detroit, beberapa jam setelah manggung.
Kim Thayill bilang di wawancara Rolling Stone tahun 2018:
“Soundgarden nggak akan pernah ada lagi tanpa Chris.”
Kalimat sederhana itu cukup buat ngerti seberapa besar Cornell di tubuh band ini.
DARI GARASI KE HALL OF FAME
Dan kini, 2025, nama Soundgarden akhirnya resmi diukir di Rock & Roll Hall of Fame.
Matt Cameron – yang juga sempat jadi drummer Pearl Jam sebelum keluar tahun ini – bilang di pidato induksi:
“Kami cuma pengin bikin musik yang kami pengin denger sendiri. Gelap, berat, aneh. Tapi jujur.”
Soundgarden bukan sekadar bab dalam sejarah grunge – mereka fondasinya.
Cornell emang udah nggak ada, tapi gema suaranya masih menggantung di udara.
Kayak nama bandnya: Soundgarden.

10 LAGU KEREN SOUNDGARDEN
- Black Hole Sun – Liriknya surealis dan nada haunting. Lagu ini kayak mimpi buruk yang indah.
- Spoonman – Eksperimen bunyi sendok beneran di tengah riff metal? Cuma Soundgarden yang bisa bikin itu kedengeran keren.
- Fell on Black Days – Melankolis tapi kuat. Salah satu curahan hati Cornell paling jujur.
- Rusty Cage – Pembuka album Badmotorfinger yang bikin adrenalin naik. Johnny Cash aja sampai nge-cover lagu ini.
- Outshined – Riff berat tapi catchy. Baris “I’m looking California, and feeling Minnesota” jadi kutipan ikonik.
- The Day I Tried to Live – Tentang usaha buat “normal”, tapi dengan rasa sakit batin khas Cornell.
- Jesus Christ Pose – Kritik terhadap eksploitasi simbol religius di media. Agresif dan berani.
- Burden in My Hand – Dari album Down on the Upside. Melodi folk-rock yang gelap tapi memikat.
- Superunknown – Lagu yang merangkum seluruh albumnya: kompleks, misterius, dan terdengar “besar.”
- Blow Up the Outside World – Salah satu lagu paling lembut mereka, tapi tetap penuh emosi dan kekuatan.

