VOGUE: Long Live the Queen

Ketika Anna Wintour Turun Takhta dan Chloe Malle Membuka Babak Baru Dunia Mode

Oleh: DJOKO ADNAN

“You don’t replace Anna Wintour. You just redefine what Vogue means next.”

Goodbye to the Queen

New York, Musim Panas 2025.

Anna Wintour menutup map merah tuanya — ikon kekuasaan yang menemaninya selama hampir empat dekade — dan berjalan keluar dari kantor Condé Nast di One World Trade Center.

Setelah 37 tahun memimpin Vogue Amerika, perempuan dengan potongan rambut bob paling terkenal di dunia itu resmi mundur dari jabatan Editor-in-Chief.

Namun, seperti semua legenda, ia tak benar-benar pergi.

Wintour tetap menjabat sebagai Global Chief Content Officer Condé Nast dan Global Editorial Director Vogue.

Bayangannya masih akan menari di setiap halaman majalah itu — bahkan ketika tangannya sudah tak lagi mengetik editorial bulan depan.

“Anna understood that fashion was no longer about clothes — it was about identity.” — Hamish Bowles, European Editor-at-Large, Vogue

Di bawah Wintour, Vogue menjelma dari majalah mode menjadi katedral budaya pop.

Ia menempatkan Madonna di sampul, membawa Serena Williams ke dunia couture, dan menjadikan Rihanna wajah masa depan mode global.

Berkatnya, Met Gala bukan lagi pesta amal — melainkan ritual sosial paling berpengaruh di dunia.

Namun dunia berubah.

TikTok menggantikan runway, desainer berpameran di Instagram, dan pembaca muda lebih menghargai keaslian daripada eksklusivitas.

Era yang Wintour bentuk kini menuntut pembaruan.

Chloe Malle: The Listener Takes the Throne

Tanggal 2 September 2025, Condé Nast mengumumkan penerus resmi Wintour: Chloe Malle, 39 tahun.

Sosok yang bagi sebagian orang adalah nama baru, tapi bagi orang dalam redaksi, ia sudah lama menjadi denyut empati di ruang mode yang dingin dan serba visual.

Putri dari aktris Candice Bergen dan sutradara legendaris Louis Malle, Chloe tumbuh di dunia film dan sastra.

Ia bergabung dengan Vogue pada 2011 sebagai Social Editor, lalu menjadi Contributing Editor untuk Vogue.com.

Gaya kepemimpinannya lebih terbuka, kolaboratif, dan sadar akan konteks sosial budaya.

“Fashion is storytelling, not hierarchy.” — Chloe Malle, The New York Times, September 2025

Berbeda dari Wintour yang dikenal misterius dan hampir mitologis, Malle membawa napas baru: lembut tapi tegas, reflektif tapi progresif.

Ia datang dengan misi besar — menulis ulang hubungan antara mode, budaya, dan kesadaran publik.

“Maybe Vogue doesn’t need another queen,” tulis The Guardian.

“It needs a citizen.”

The Line of Vogue: Para Pengendali Estetika Dunia

Setiap era Vogue punya penguasanya — masing-masing membawa definisi baru tentang keindahan, kekuatan, dan zaman.

Dan dari mereka, kita belajar bahwa mode bukan hanya soal baju, tapi tentang how the world sees itself.

Edna Woolman Chase (1909 — 1952)

The First Matriarch

Chase mengubah Vogue dari buletin sosial kecil menjadi majalah mode global.

Ia melihat mode sebagai cermin sosial, bukan kemewahan.

“Fashion is not frivolous. It’s a mirror of our time.” — Edna W. Chase

Become a member

Selama empat dekade, ia menjadikan Vogue suara perempuan modern yang percaya diri dan mandiri.

Jessica Daves (1952 — 1962)

The Intellectual Stylist

Di era pasca perang, Daves membawa intelektualitas ke dunia mode.

Ia memperkenalkan tulisan tentang seni, arsitektur, dan politik perempuan — menjadikan Vogue bukan hanya majalah fashion, tapi majalah pemikiran.

Pembaca mulai melihat busana sebagai bagian dari cultural dialogue.

Diana Vreeland (1963 — 1971)

The Visionary Rebel

Tak ada yang lebih teatrikal dari Vreeland.

Ia menjadikan fashion photography sebagai bentuk seni: editorial surreal, model di padang pasir, warna merah yang obsesif.

“There’s only one very good life — the life you know you want and make it yourself.”

Vreeland membawa mimpi dan imajinasi ke halaman Vogue — menjadikannya lebih seperti mimpi daripada dokumen.

Grace Mirabella (1971 — 1988)

The Realist

Setelah badai eksentrik Vreeland, Mirabella datang membawa realisme.

Ia menulis tentang perempuan karier, kesederhanaan, dan kepraktisan — the working woman decade.

“I wanted women to look like they lived in their clothes.”

Mirabella mengembalikan Vogue ke bumi — tapi di penghujung 1980-an, bumi itu mulai menuntut glamor baru.

Lalu datanglah Wintour.

Anna Wintour (1988 — 2025)

The Power and The Myth

Dengan sampul pertamanya — model mengenakan jeans Guess dan sweater haute couture — Wintour mengirim pesan: mode adalah pertemuan antara jalanan dan runway.

Ia menulis ulang bahasa kekuasaan mode, menggabungkan selebritas, kapitalisme, dan seni menjadi satu.

“Anna taught us that taste is influence.” — Vanessa Friedman, The New York Times

Wintour menjadikan Vogue simbol status global.

Tapi di tengah revolusi digital, kekuasaan semacam itu mulai ditantang oleh demokratisasi media.

The Future of Vogue: Between Legacy and Reinvention

Kini, Vogue memasuki masa post-iconic bersama Chloe Malle.

Tak lagi mencari figur “penguasa” baru, melainkan suara yang mampu mendengar.

Malle mewakili generasi yang tumbuh dengan media sosial, perubahan iklim, dan pencarian makna baru dari kemewahan.

“We can’t talk down to readers anymore. They want to be seen, not sold to.” — Chloe Malle

Era Malle menjanjikan Vogue yang lebih inklusif, sadar konteks, dan berani membuka ruang bagi suara muda dan minoritas.

Mungkin bukan revolusi — tapi transformasi yang lembut dan perlu.

Bisakah Vogue tetap relevan di dunia yang sudah tak percaya pada otoritas tunggal?

Jawaban Malle sederhana tapi radikal: dengan mendengarkan.

Vogue kini hidup di dunia di mana tren lahir bukan dari Paris atau Milan, tapi dari kamar remaja di Seoul dan Jakarta.

Malle tahu, tugasnya bukan lagi menentukan selera, tapi merayakan keragamannya.

“Vogue was never just about what we wear,” tulis Wintour dalam surat perpisahannya.

“It’s about what we believe in — and who we choose to become.”

Dan untuk pertama kalinya dalam 130 tahun sejarahnya, Vogue tampak benar-benar siap untuk melihat masa depan — tanpa kacamata hitam.

Vogue is no longer about power — it’s about presence.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *