Sheila Majid 40 Years In Music Concert : Ketika Keanggunan Menjadi Warisan

Empat dekade setelah debutnya, sang Ratu Jazz dari negeri jiran ini, masih tahu cara menyalakan panggung  dan hati para pendengarnya.

Oleh: DJOKO ADNAN

Di dalam Axiata Arena di area Bukit Jalil, Kuala Lumpur, ribuan fans Sheila Majid dari Malaysia dan negara lain seperti Brunei, Singapura dan Indonesia (termasuk saya) sudah tidak sabar menunggu penampilan sang legenda. Di tangan kami, sudah siap light stick kecil berwarna-warni berkelap-kelip , sinar yang akan berubah menjadi lautan cahaya. Malam itu bukan sekadar konser. Ini adalah perayaan. Sebuah homecoming dari penyanyi yang sudah empat dekade menjadi suara lembut yang menenun kenangan: Sheila Majid.

Warna yang Menyala

Tepat pukul 8.30 malam, seluruh arena sudah penuh warna menyala dan suara riuh penonton bergema, menandakan konser akan segera mulai. Dari bawah panggung, perlahan muncul platform yang mengangkat sosok Sheila Majid ,  elegan dalam balutan gaun merah menyala, berdiri tegak di tengah sorot lampu. Kejutan itu disambut sorakan panjang; momen pembuka yang megah, tapi tetap terasa personal.

Dentum musik mengalun, dan Sheila memulai malam dengan “Warna”, lagu ciptaan Indra Lesmana dari album Warna (1988) — salah satu tonggak penting dalam perjalanan musik pop-jazz Asia Tenggara. Lagu yang sudah menjadi signature opening di hampir setiap konsernya itu malam ini terasa lebih sakral dari sebelumnya; bukan sekadar nostalgia, tapi pernyataan bahwa warna Sheila masih hidup, masih memancar, dan masih dicintai.

Dan malam itu, tak hentinya Sheila Majid mengucapkan “thank you” ke penonton dengan suara khasnya.

Parade Kenangan dan Keanggunan

Dari awal hingga akhir, Sheila memanjakan penonton dengan deretan lagu abadi yang mengisi empat dekade kariernya. Penonton bersorak dan ikut bernyanyi dari bait pertama “Antara Anyer dan Jakarta”, “Aku Cinta Padamu”, “Dia”, “Legenda”, “Ratu”, “Sinaran”, dan tentu “Warna.”

Sheila, dengan pesonanya yang khas ,  jenaka, ramah, dan spontan , beberapa kali menyerahkan mikrofon kepada penonton untuk menyanyikan bagian reffrain.

This is a most magical night for me, and I want to thank all of you, ladies and gentlemen, for making it extraordinary,” katanya dengan penuh emosi.

“I will sing for all Malaysians as long as I could.

Malam itu, Sheila tampil diiringi sepuluh musisi andal yang menjadi tulang punggung konser (termasuk Tohpati dan 3 backing vocal yang setia menemani Sheila saat konser- konsernya di Indonesia) , di bawah arahan Mac Chew sebagai music director.

Permainan mereka rapi, energik, dan tetap memberi ruang untuk Sheila bernapas dan berinteraksi dengan penonton. Di beberapa momen, Sheila bahkan turun dari panggung, menyalami fans di barisan depan, bahkan mengajak beberapa penonton naik ke atas panggung untuk menari bersamanya.

Puncak keintiman hadir saat ia membawakan “Kerinduan” bersama Tohpati, gitaris dan komposer Indonesia yang malam itu menjadi tamu spesial. Aransemen akustiknya hangat dan hening, seolah seluruh arena berubah jadi ruang kecil penuh kenangan.

Persembahan untuk Oddie Agam & Vina Panduwinata

Malam itu juga menjadi momen paling menyentuh ketika Sheila mengenang Oddie Agam, komposer yang membuka jalannya ke publik Indonesia lewat karya-karya legendaris.

“Saya tak akan pernah lupa jasa beliau. Lagu-lagu Oddie membuat saya diterima di Indonesia, negara yang sudah seperti rumah kedua,” katanya dengan suara bergetar.

Sebagai penghormatan, Sheila membawakan “Antara Anyer dan Jakarta” ,  lagu yang dulu memperkenalkannya kepada jutaan pendengar di seluruh negara di Asia Tenggara dan membawanya sebagai penyanyi ternama di Indonesia. Versi malam itu dibawakan penuh rasa, hampir seperti doa.

Dan tak berhenti di situ, ia juga menampilkan “Aku Cinta Padamu” dan satu lagu yang belum pernah dibawakannya sebelumnya berjudul “Catat”,  simbol persahabatan dan tanda terima kasihnya kepada alm. Oddie Agam.

Tak hanya fans biasa, konser ini juga dihadiri oleh sederet nama besar industri hiburan Malaysia dan Indonesia: Vina Panduwinata, Afgan, Anuar Zain, Datuk M. Nasir, Misha Omar, Jaclyn Victor, Joe Flizzow, dan Ella.

Kehadiran mereka memperkuat satu hal: pengaruh Sheila Majid melintasi generasi, genre, dan batas negara. Bahkan sebagai fans berat Vina, Sheila malam itu sangat surprise dengan kedatangan Vina idolanya dari dulu, dan sebagai persembahan khusus, Sheila membawakan lagu “Dia” salah satu hitsnya dari album pertama Dimensi Baru, yang juga sebelumnya menjadi lagu hits dari Vina Panduwinata.

Lautan Cahaya dan Cinta

Jika Sheila membawa musik, penonton membawa cahaya. Ribuan light stick menari mengikuti irama, membentuk lautan warna-warni di seluruh arena. Dari atas panggung, Sheila menatap pemandangan itu dan berkata pelan,

“Cantiknya malam ni…”

Momen itu seperti lukisan hidup . Lampu-lampu kecil, lagu-lagu besar, dan cinta yang tak terhitung jumlahnya.

Salah satu momen istimewa datang dari Kayda Aziz, putri Sheila yang juga seorang penyanyi-penulis lagu. Kayda tampil sebagai bintang tamu, membawakan lagu hits mamanya “Boneka” dan diakhiri dengan duet mereka berdua.

Penampilan ibu dan anak ini menjadi jembatan emosional: dari legacy ke future.

Sinaran yang Tak Pernah Padam

Lebih dari 20 lagu termasuk “Memori”, “Pengemis Muda”, “Embun”, “Fikirkan Dahulu”, “ Kumohon” dan medley “Gerimis Semalam, Gemilang, Relakan dan Datanglah Dalam Mimpi” mengisi malam itu, puncaknya ketika euforia penonton begitu terdengar intro “Sinaran” sebagai penutup konser. Seluruh arena berdiri, bernyanyi, menari. Sheila menutup konsernya dengan senyum yang sama seperti saat ia memulai: tenang, berkilau, dan penuh rasa syukur.

Beberapa bulan sebelum konser, Sheila juga mencetak sejarah sebagai artis Malaysia pertama yang merilis seluruh delapan album studionya dalam format piringan hitam (vinyl) — sebuah proyek spesial yang dirancang khusus untuk memperingati perjalanan 40 tahunnya.

Sebuah simbol elegan tentang cara Sheila memadukan masa lalu dan masa depan: klasik, tapi terus relevan.

“Empat dekade bukan tentang bertahan,” katanya di akhir konser, “tapi tentang menemukan kembali arti bersinar.”

Dan malam itu, Axiata Arena bersinar bersama Sheila Majid . Bukan karena lampu panggung, tapi karena cinta yang ia nyalakan selama 40 tahun, dan masih akan terus menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *