Gema Bumantara: Ketika Warisan Selalu Bergema

Dato’ Sri Siti Nurhaliza kembali dengan album baru. Kali ini, ia datang sebagai ‘penjaga’ yang elegan, bukan cuma ‘bintang pop’ yang mengejar tren.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Jujur, kalau kita bicara musik di Indonesia dan Malaysia hari ini, dinamikanya cepat banget. Setiap hari ada single yang viral, hits yang umurnya cuma sepekan, dan genre yang ganti kulit terus-terusan.

Makanya, ketika seorang Biduanita Negara (saya sengaja pakai gelar itu karena itu penting) seperti Dato’ Sri Siti Nurhaliza meluncurkan album tradisional berjudul Gema Bumantara, kita nggak bisa lihat ini cuma sebagai album baru biasa. Ini adalah sebuah pernyataan, sebuah proklamasi kultural yang dilakukan dengan tenang, tapi esensial.

Harus diakui, setelah Lentera Timur (2008), ekspektasi untuk karya tradisi Siti itu pasti berat. Tapi Gema Bumantara ini sukses melampaui itu. Album ini terasa sebagai jembatan, tempat di mana warisan bertemu masa depan tanpa harus saling mengorbankan.

Siti nggak cuma mengulang formula emas masa lalunya, tapi dia membuka pintu untuk para komposer dan penulis lirik muda. Ini penting banget. Karena musik tradisional nggak akan relevan tanpa darah segar. Ketika kita mendengar lagu seperti “Rencong” atau melihat kolaborasi yang nggak terduga, kita sadar bahwa dia nggak cuma nyanyi di album ini, tapi dia sedang melantik generasi penerus.

Secara vibe, album ini terasa matang dan penuh ketenangan. Kita bisa  mendengar bagaimana Siti bermain dengan cengkok Melayu, nggak ada vokal yang ngotot atau berteriak lebay. Sebaliknya, ia menyalurkan emosi yang dalam, seakan setiap lagu itu adalah puisi yang dibacakan dengan suara hati. Ini adalah slow burn yang menenangkan, menawarkan ketenangan emosional yang seringkali hilang di tengah kebisingan musik pop.

Buat sayae, Gema Bumantara bukan cuma koleksi 10 lagu. Ini adalah bukti bahwa Siti Nurhaliza nggak pernah berhenti bereksperimen. Album ini nggak cuma mengingatkan kita betapa indahnya irama Melayu, tapi juga sebuah afirmasi bahwa seni yang berakar kuat dan diolah dengan jiwa yang matang, akan selalu menemukan jalannya untuk bergema, nggak peduli seberapa kencang musik pop berusaha membisukannya.

Nilai 8/10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *