IT’S NOT THAT DEEP: Ketika Demi Lovato Akhirnya Tersenyum Tanpa Minta Maaf

Bagi banyak orang, album ini mungkin terdengar “biasa”. Tapi justru di situlah kekuatannya. Demi tidak lagi berusaha menyelamatkan dunia, dia hanya ingin menikmati keberadaannya.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Setelah bertahun-tahun bertarung dengan dirinya sendiri, Demi Lovato akhirnya menemukan cara paling sehat untuk berdamai: menari. Ini bukan metafora, tapi betulan menari di atas lantai disko, di bawah lampu ungu, dengan beat yang nggak lagi menuntut air mata. A

Album barunya, It’s Not That Deep, terasa seperti seseorang yang baru saja menutup pintu trauma, lalu berkata, “Udah, nggak segitunya juga.”

Dari awal, judulnya sudah jadi clue. Demi nggak lagi memaksakan semuanya punya makna besar. “Fast” membuka album seperti gas mobil sport di jalan malam, sementara “Here All Night” memantulkan sisi club-pop yang ringan tapi nggak kosong. Dia memang masih bicara soal luka, tapi kini dengan nada menggoda, bukan sedih. Ia tahu hidup itu rumit, tapi kadang kita cuma perlu menggoyangkan kepala dan bilang, “whatever.”

Yang menarik, album ini bukan sekadar “Demi versi happy”. Demi masih menyimpan sisa gelap, hanya saja kali ini dibingkai dalam lampu neon. Di “Sorry to Myself”, dia masih menatap cermin yang sama, tapi kali ini dengan senyum yang letih, bukan amarah. Lagu ini menandai kedewasaan emosional yang jarang dimiliki musisi pop sekelasnya.

Secara musikal, It’s Not That Deep adalah pernyataan bahwa pop nggak perlu ribet untuk punya makna. Ia mengganti distorsi rock dari Holy Fvck dengan groove house, synth yang bersih, dan beat yang membuatmu ingin keluar rumah lagi. Semua terasa lebih ringan, tapi bukan dangkal. Ini adalah energi dari seseorang yang sudah selesai berdebat dengan masa lalu, dan kini sedang bersenang-senang dengan masa kini.

Nilai : 7,8/10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *