Bad Influencer dan Keberanian Menjadi ‘Palsu’ di Era Validasi Digital
Ini bukan cuma soal tas KW atau drama kriminal biasa. Ini tentang narasi yang kita ciptakan, dan seberapa jauh kita rela melangkah untuk melindungi kebohongan itu.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Serial ini cerdas banget karena menyandingkan dua ambisi yang sebenarnya identik, tapi diwakili oleh dua karakter yang kontras: BK, si desainer idealis yang frustrasi karena gagal secara materi, dan Pinky, influencer yang nggak punya modal selain self-branding gila-gilaan. Problem mereka satu: keterbatasan ekonomi versus tuntutan tampil ‘mewah’. Solusi mereka? Jualan tas mewah palsu, yang disamarkan dengan effort tinggi seolah-olah itu barang orisinal.
Yang menarik dari kacamata saya adalah bagaimana Bad Influencer ini membuka kedok kita. Kita sering menghakimi mereka yang mengejar validasi dengan cara palsu. Tapi siapa sih di antara kita yang nggak pernah memoles narasi hidup di media sosial?
Serial ini bilang, “Hati-hati, narasi yang lo ciptakan itu punya konsekuensi nyata.” Begitu bisnis tas palsu mereka sukses, mereka terpaksa masuk lebih dalam ke jurang kriminalitas Johannesburg. Mereka nggak cuma berhadapan sama hater atau troll, tapi sama mafia sungguhan.
Vibe ceritanya tuh sangat mengalir. Dari komedi satire tentang kekonyolan Pinky saat bikin konten, tiba-tiba kita dibanting ke situasi thriller yang mencekam, di mana satu kesalahan caption atau live video bisa berujung tembakan. Kontras antara BK yang semakin paranoid dan Pinky yang semakin gila popularitas itu nunjukkin dua tipe kegilaan di zaman ini: kegilaan finansial dan kegilaan atensi. Kedua kegilaan itu sama-sama destruktif.
Kalau kamu mau tontonan yang nggak cuma menghibur tapi juga bikin mikir, Bad Influencer ini harus masuk daftar. Ini semacam pengingat bahwa dalam dunia di mana filter bisa mengubah segalanya, satu-satunya yang nyata di balik layar adalah risiko yang harus dibayar. Dan dalam kasus BK dan Pinky, harganya bukan cuma unfollow, tapi nyawa.
Nilai: 8/10


