Continuance: Saat Joey Alexander Mulai Jadi Diri Sendiri
Ada satu momen di setiap musisi besar ketika mereka berhenti membuktikan sesuatu pada dunia, dan mulai bermain untuk diri mereka sendiri. Buat Joey Alexander, momen itu ada di album Continuance.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Joey bukan lagi bocah ajaib yang bikin penonton “wow” di panggung jazz Amerika. Di album yang dirilis tahun 2023 ini, dia udah dewasa. Bukan hanya secara umur, tapi juga arah musiknya. Continuance adalah bukti bahwa dia udah nggak sibuk ngejar validasi dan mulai membangun rumah musiknya sendiri.
Meski isinya hanya tujuh lagu, album ini terasa padat. Lima di antaranya ditulis sendiri oleh Joey, dan dua sisanya adalah interpretasi ulang: termasuk versi lembut dan meditatif dari “I Can’t Make You Love Me.”
Yang menemani dia kali ini juga bukan nama-nama besar, tapi orang-orang yang dia percaya. Ada Kris Funn di bass, John Davis di drum, dan Theo Croker di trumpet. Formasi ini nggak tampil kayak band “featuring”, terasa banget mereka main di satu nafas yang sama.
Track pembuka, “Blue” adalah sinyal kalau Joey udah nggak pengen pamer jari. Groove-nya santai, berayun, tapi di dalamnya ada percakapan yang tenang antara piano dan drum. Lalu di “Hear Me Now,” muncul warna Rhodes dan Mellotron yang ngasih tekstur hangat, kayak sore hari di studio. Ini bukan jazz yang ngebut. Ini jazz yang agak mikir, namun tetap punya jiwa pop yang halus.
Yang menarik dari Continuance bukan cuma permainannya yang matang, tapi caranya Joey menyusun ruang. Dia ngerti kapan harus diam, kapan harus ngisi, kapan membiarkan not terakhir menggantung sebentar sebelum masuk lagi. Ini hal yang biasanya dimiliki musisi yang udah lama banget main bareng, dan Joey dapetin itu di umur dua puluh.
Secara sonik, Continuance jauh lebih modern dibanding album Joey sebelumnya. Ada ambient di beberapa bagian, tapi juga ada groove yang tegas di lagu-lagu seperti “Why Don’t We.”
Dari sisi produksi, ini juga album Joey yang paling terasa “organik.” Saya bisa ngerasain napas di antara not. Bisa ngerasain tangan yang beneran nyentuh tuts, bukan sekadar hasil mixing bersih. Bahkan saat dia main Rhodes atau Mellotron, ada rasa mentah yang bikin album ini hidup.
Dan mungkin itu makna sebenarnya dari Continuance: melanjutkan, tapi bukan mengulang. Joey nggak mencoba jadi Thelonious Monk muda atau Chick Corea versi Gen Z. Dia cuma jadi Joey Alexander, orang Indonesia yang tumbuh di panggung dunia, tapi tetap bisa bikin jazz yang hangat, manusiawi, dan nggak sombong.
Nilai: 8,5 / 10


