The Chainsmokers – BREATHE: Saat Sang Duo Belajar Bernapas Lagi
Setelah beberapa tahun hidup di antara hit besar dan kritik yang nggak pernah berhenti, The Chainsmokers akhirnya menepi.
Oleh: JUNIOR EKA PUTRO
Breathe , EP baru grup ini, tampaknya di set sebagai semacam momen istirahat. Bukan karena mereka kelelahan, tapi langkah penting untuk kembali mengenali diri sendiri.
Dari judulnya saja, sudah ada petunjuk kalau EP ini bukan musik untuk berpesta semalaman. Tapi justru untuk menenangkan diri setelahnya.
Begitu Breathe diputar, terasa jelas bahwa Drew Taggart dan Alex Pall sudah nggak lagi sibuk mengejar ledakan. Produksinya lebih halus, lebih dalam, dan terdengar dewasa.
Lagu seperti Veins dan Lungs bernafas dengan tempo yang tenang, tapi tetap punya denyut khas Chainsmokers. Hook-nya masih catchy, tapi nggak maksa. Ada rasa rindu pada masa Closer atau Something Just Like This, tapi kini mereka lebih sabar. Seolah sengaja membiarkan ruang kosong di antara nada, agar maknanya bisa terdengar.
Secara aransemen, Breathe terasa seperti sedang menyusun ulang identitas. Masih ada elemen elektronik, masih ada drop yang familiar. Tapi, semua itu disandingkan dengan sentuhan house dan pop yang lembut. Kolaborasi dengan Daya di salah satu lagu membawa nuansa nostalgia yang manis, sementara lagu lain seperti Airplane Mode terdengar introspektif, seolah menulis surat untuk diri sendiri.
Yang menarik, EP ini nggak di set untuk merajai chart. The Chainsmokers justru terdengar nyaman menjadi versi yang lebih tenang dari diri mereka. Kadang memang terasa terlalu hati-hati. Tapi itu juga bagian dari perjalanan. Ada saatnya musik harus berhenti berteriak dan mulai bicara pelan.
Sebagai karya, Breathe bukan album dengan lagu-lagu besar yang akan menguasai radio. Ini adalah sebuah pernyataan sederhana, kalua mereka masih di sini, tapi kini dengan napas yang lebih panjang.
Skor: 7,8 / 10.


