Asia Tenggara, ‘Coachella’ Baru di Industri Konser Dunia

Musik punya cara sendiri untuk memindahkan pusat dunia. Dulu semua arah mengarah ke barat, ke California, ke Inggris, ke festival-festival yang jadi tolak ukur industri hiburan global. Tapi dalam satu dekade terakhir, arah itu pelan-pelan bergeser ke tenggara. Dari Jakarta sampai Bangkok, dari Manila sampai Singapura, Asia Tenggara menjelma jadi panggung baru dunia.

Oleh: JUNIOR EKA PUTRO

Coba jujur, kapan terakhir kali kamu membuka kalender dan menemukan bahwa di salah satu negara tetangga kita, entah itu Singapura, Thailand, atau Malaysia, bakal digelar konser musisi dunia yang nggak main-main kalibernya?

Coldplay sempat menggelar enam show berturut-turut di Negeri Singa. Taylor Swift cuma mampir ke satu titik di Asia Tenggara, dan itu juga di Singapura. Tomorrowland memastikan Thailand sebagai rumah baru mereka selama lima tahun ke depan.

Dengar, ini bukan lagi cerita tentang Asia Tenggara sebagai pasar ekspansi atau sekadar persinggahan tur global yang optional. Bukan. Ini adalah kisah tentang bagaimana kawasan yang kita tinggali ini, dalam tiga tahun terakhir, telah berevolusi menjadi hub sentral baru, menjadi magnet pertunjukan live musisi berkelas dunia.

Mari kita bedah fenomena gila ini, yang didorong oleh antusiasme penonton muda yang digital savvy, inisiatif pemerintah yang super agresif, dan tentu saja, dampak ekonomi yang, sumpah, nggak main-main besarnya. Ini adalah analisis mendalam tentang pergeseran geografi pertunjukan musik global.

***

Saya rasa kita semua sepakat, pandemi kemarin mengubah banyak hal, termasuk dahaga orang akan pengalaman. Begitu pembatasan mereda, apa yang terjadi di Asia Tenggara adalah ledakan yang masif, menunjukkan lonjakan konser musik internasional yang benar-benar signifikan dalam rentang 2022-2025.

Ambil contoh Malaysia. Angka-angka ini bikin mata melotot. Pada tahun 2022, Malaysia hanya mampu menggelar 104 konser. Tapi coba tebak? Angka itu melonjak tajam menjadi 335 konser di tahun 2023, dan terus meroket hingga 408 konser di tahun 2024. Bahkan, proyeksi untuk tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 450 konser! Ini adalah pertumbuhan yang eksponensial, bukan lagi kenaikan biasa.

Tren serupa, meski dengan angka yang bervariasi, juga terjadi di seluruh negara ASEAN, didorong oleh antusiasme penonton muda serta kembalinya festival-festival besar. Kenapa ini terjadi? Selain karena musisi dunia memang kembali mengejar ketertinggalan tur yang sempat tertunda, kawasan ini punya amunisi yang nggak dimiliki banyak pasar Barat: Antusiasme penonton muda yang masif.

Kita bicara soal populasi lebih dari 600 juta jiwa dengan mayoritas anak muda yang digital savvy. Penonton muda kita terkenal rela mengeluarkan uang demi pengalaman live, bahkan mengungguli kecenderungan di negara-negara Barat yang pasar musiknya konon mulai jenuh. Superstar global pun sadar akan denyut nadi baru ini, makanya Coldplay, Blackpink, Harry Styles, dan Bruno Mars berlomba-lomba memasukkan kota-kota Asia Tenggara dalam jadwal tur mereka. Ini adalah respons logis terhadap demand yang gila-gilaan dan pasar yang menjanjikan.

Salah satu indikasi paling jelas bahwa Asia Tenggara telah menjadi hub adalah lahirnya fenomena “concert tourism” alias wisata konser lintas negara. Artinya, ribuan penggemar sekarang rela terbang ke negara tetangga demi menonton idola mereka.

Contoh paling bombastis adalah Taylor Swift. Kamu tahu, dia cuma memilih Singapura sebagai satu-satunya pemberhentian di Asia Tenggara untuk tur Eras-nya pada Maret 2024 lalu. Efeknya? Lebih dari 300.000 penonton hadir di enam konsernya, memicu lonjakan gila-gilaan pada pemesanan hotel dan tiket pesawat.

Media menyebutnya sebagai “Swift effect”. Traveloka, salah satu agen travel online terbesar, mencatat lonjakan pemesanan tiket pesawat ke/dari Singapura melonjak hingga enam kali lipat di sekitar jadwal konser Swift dan Coldplay pada awal 2024, sebuah indikasi kuat bahwa konser telah menjadi pendorong perjalanan utama.

Fenomena concert tourism ini nggak hanya menguntungkan tuan rumah, tapi juga menghidupkan arus turis intra-ASEAN, di mana para “gig trippers” memenuhi penerbangan murah antarnegara demi hadir di festival idaman. Ini menjadikan pasar konser Asia Tenggara bersifat terintegrasi: jarak antar-negara yang relatif dekat, banyaknya maskapai berbiaya rendah, dan kebijakan visa wisata yang mudah membuat mobilitas penggemar musik lintas negara semakin gampang. Sehingga penonton dari berbagai negara bisa berkumpul di satu event, yang secara otomatis memperbesar skala konser.

Di tengah gelombang pasang ini, negara-negara Asia Tenggara berlomba-lomba memosisikan diri. Singapura, sebagai first-mover, memainkan peran dominator. Pemerintahnya secara proaktif menggaet artis-artis besar sebagai bagian dari strategi menjadikan negara itu “ibu kota acara dan hiburan Asia”.

Coldplay Jakarta/ ANTARA

Singapura cepat melonggarkan pembatasan Covid-19 dan agresif mendatangkan event internasional, memberi mereka keuntungan momentum. Ekonom Song Seng Wun menggambarkan strategi ini, “Singapura mulai buka lebih cepat dari negara lain setelah pandemi, dan upaya terkoordinasi mengundang artis serta event baru membuahkan momentum yang terus terbangun.”

Apa hasilnya? Coldplay mencetak rekor mengadakan enam show berturut-turut di Singapura (dengan lebih dari 200.000 tiket ludes terjual), melebihi jumlah konser mereka di negara manapun. Taylor Swift memilih Singapura sebagai satu-satunya pemberhentian di Asia Tenggara, didukung oleh kabar subsidi jutaan dolar dari pemerintah demi mendapatkan eksklusivitas.

Faktor-faktor seperti stabilitas politik, kemudahan perizinan kerja, fasilitas kelas dunia, hingga kemudahan transportasi menjadikan Singapura sangat ideal bagi konser skala besar, meskipun dominasi ini menuai protes dari fans negara tetangga yang merasa tersisih.

Beda lagi dengan Thailand. Negeri Gajah Putih ini bersinar sebagai tuan rumah festival musik akbar bertaraf internasional. Mereka agresif menggarap festival EDM dan pop raksasa, menjadikannya bagian strategi soft power untuk mendongkrak pariwisata. Bangkok dan Pattaya sukses menggelar franchise festival dunia, termasuk Rolling Loud, yang debut di Thailand pada 2023.

Yang paling ambisius, pemerintah Thailand telah mencapai kesepakatan menjadi tuan rumah festival legendaris Tomorrowland selama lima tahun mulai 2026, yang diperkirakan dapat menarik sejuta penonton hingga tahun 2030. Untuk mewujudkan ini, dana besar digelontorkan: lebih dari 2 miliar baht (sekitar Rp880 miliar) disiapkan hanya untuk menjadi tuan rumah Tomorrowland, dengan harapan efek domino ekonomi.

Rolling Loud

Gary Bowerman, analis kebijakan pariwisata, menilai langkah ini serius: “Thailand berinvestasi besar di ekonomi pertunjukan live-nya dan mampu mengamankan event franchise global besar,” ujarnya.

Juru bicara Live Nation Tero, promotor festival Creamfields Asia, menegaskan, “Skena festival musik di Thailand sedang naik daun. Kawasan ini memantapkan diri sebagai hub baru dalam lanskap festival global.” Thailand bahkan mempertimbangkan kebijakan bebas visa bagi wisatawan dari negara tertentu serta melonggarkan aturan penjualan alkohol saat konser demi meningkatkan daya tarik sebagai tuan rumah artis “A-lister” dunia.

Lalu ada Malaysia, yang muncul sebagai dark horse dengan pertumbuhan paling mencolok. Data resminya nggak bisa dibantah: lompatan dari 104 konser pada 2022 menjadi 335 konser di 2023, dan 408 pada 2024, menuju target 450 konser pada 2025. Pemerintahnya berambisi menjadikan negara ini hub pertunjukan internasional.

Nik Kamaruzaman Nik Husin, Deputi Sekjen Komunikasi Strategis di Kementerian Komunikasi Malaysia, menjelaskan, “Pemerintah ingin memosisikan Malaysia sebagai destinasi kompetitif yang kaya budaya.” Konser kolosal Blackpink dan Coldplay di Kuala Lumpur dalam beberapa tahun belakangan, sukses menghasilkan sekitar RM200 juta (sekitar Rp660 miliar) bagi ekonomi lokal, dari belanja penonton di hotel, transportasi, dan logistik. Dampak fiskalnya pun nyata: konser Blackpink menyumbang pajak RM2,7 juta, sementara konser Coldplay menyetor RM8 juta pajak kepada pemerintah. Secara keseluruhan, Pemerintah memperkirakan konser akan menyuntik hampir RM1,7 miliar (sekitar Rp5,6 triliun) ke ekonomi Malaysia pada tahun 2025.

Blackpink

Untuk memacunya, Malaysia mereformasi aturan izin pertunjukan melalui Puspal Guideline 6.0 untuk mempermudah masuknya artis luar, bahkan menawarkan insentif finansial seperti skema Concert and Event Incentives yang memberikan rebate hingga RM1,5 juta bagi promotor yang mampu mendatangkan konser dengan 15.000+ penonton. Mereka juga meningkatkan kapasitas infrastruktur dengan pembukaan arena konser baru berkapasitas 5.000-7.000 penonton di Petaling Jaya.

Bagaimana dengan Indonesia? Raksasa tidur dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, sudah mulai bergeliat sejak beberapa tahun belakangan. Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Kabinet Joko Widodo-Maruf Amin sempat gencar mengungkapkan upaya menggaet musisi dunia. “Kami sudah berkoordinasi dengan Presiden dan para menteri terkait untuk menghadirkan event berkelas internasional ke Indonesia,” ujarnya, diawal 2024.

Terobosan nyata kemudahan Visa Music Performer, hasil kolaborasi Kemenparekraf dengan Ditjen Imigrasi, sudah dimanfaatkan oleh artis besar seperti Ed Sheeran, Coldplay, TWICE, hingga Jonas Brothers. Langkah paling signifikan: pemerintah membentuk Indonesia Tourism Fund dengan anggaran raksasa Rp2 triliun sebagai dana pendamping untuk memberikan insentif finansial bagi promotor, “Ini kita harapkan menjadi dana pendamping yang mampu memfasilitasi dan memberikan insentif kunjungan musisi-musisi kelas dunia,” kata Sandiaga, saat itu. Tentu saja, Indonesia terpacu oleh fenomena Swiftonomics dan berkomitmen menyiapkan dana besar agar nggak kalah saing.

Konser Ed Sheeran di JIS

Bahkan Vietnam, yang sebelumnya jarang disinggahi tur global, mencatat sejarah baru ketika grup K-pop BLACKPINK menggelar dua konser di Hanoi pada Juli 2023. Animo penontonnya luar biasa, dengan sekitar 67.000 fans memenuhi Stadion My Dinh. Dampak ekonominya signifikan: menghasilkan pemasukan sekitar 630 miliar dong atau US$26,5 juta (sekitar Rp400 miliar) bagi kota Hanoi. Pihak berwenang Hanoi bahkan mengucapkan terima kasih resmi kepada Blackpink karena konser itu meningkatkan citra dan posisi Hanoi sebagai destinasi yang aman dan ramah, mendorong Vietnam semakin serius menggarap industri pertunjukan sebagai pendorong pariwisata dan soft power.

Sementara itu di Filipina, basis penggemar musik barat dan K-pop yang besar menjadikan negara ini pasar yang penting, meskipun absennya Taylor Swift memicu diskusi untuk memperbaiki daya tarik negaranya bagi promotor konser. Secara keseluruhan, semakin banyak kota Asia Tenggara, dari Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur, Jakarta, Manila, hingga Hanoi, yang kini masuk radar promotor tur dunia.

Gelombang konser ini bukan sekadar urusan fandom dan hura-hura, tapi telah menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi kreatif dan diplomasi budaya (soft power). Dampak ekonomi yang ditimbulkan benar-benar multi-sektoral.

Di Malaysia saja, penyelenggaraan konser akan menyumbang hampir RM1,7 miliar (sekitar Rp5,6 triliun) ke perekonomian pada tahun 2025. Nik Kamaruzaman menjelaskan, “Konser menghadirkan efek berganda ke berbagai sektor dari penyediaan lapangan kerja untuk kru event, teknisi, keamanan, hingga pemasukan bagi vendor UMKM dan penyedia jasa lokal.”

Pemerintah dan pelaku industri di kawasan kini menyadari bahwa belanja pengalaman para penonton konser dapat menjadi tulang punggung ekonomi kreatif. Konser tunggal artis besar seperti Andy Lau dan Jay Chou di Kuala Lumpur masing-masing menarik lebih dari 60.000 penonton, yang banyak di antaranya datang dari luar negeri dan berkontribusi besar pada sektor hospitality setempat.

Arus konser global ke Asia Tenggara juga membawa pengaruh positif dari sisi budaya: Pertukaran budaya terjadi, memberikan transfer kreativitas dan inspirasi bagi musisi domestik. Kehadiran festival internasional memacu artis lokal untuk unjuk gigi di panggung yang sama, contohnya di festival Rolling Loud Thailand, musisi Asia seperti MILLI (Thailand) dan BIBI (Korea) tampil satu panggung dengan rapper kondang Travis Scott dan Cardi B.

***

Tapi, nggak ada karpet merah yang mulus tanpa kerikil. Meski prospeknya cerah, maraknya konser di Asia Tenggara juga membawa tantangan, yaitu perbedaan regulasi dan norma lokal, seperti Perizinan alkohol, Jam malam konser, dan Sensitivitas konten dan pakaian artis.

Kasus Coldplay di Malaysia sempat menuai polemik dari kelompok konservatif karena dukungan vokalisnya terhadap LGBT, menunjukkan pentingnya promotor memahami sensitivitas budaya. Selain itu, infrastruktur menjadi PR di beberapa tempat, termasuk kemacetan lalu lintas, kapasitas transportasi publik terbatas, hingga risiko pasokan listrik dan cuaca.

Di Thailand, para pelaku industri mencatat ada 300 event musik per tahun dan memperingatkan potensi kejenuhan pasar jika terlalu banyak festival digelar tanpa koordinasi jadwal, di mana tanda-tanda oversupply mulai terlihat dengan munculnya festival yang hanya bertahan satu edisi lalu hilang. Oleh karena itu, para promotor lokal mengupayakan keseimbangan agar persaingan tetap sehat dan demand penonton terjaga.

Namun, pemerintah negara-negara di kawasan ini belajar cepat dan bertindak agresif. Pemerintah Malaysia, misalnya, telah memangkas birokrasi izin pertunjukan melalui regulasi baru sehingga proses izin konser bisa selesai dalam tujuh hari untuk event kecil dan menyediakan “kill switch” untuk menindak pelanggaran. Indonesia dengan dana insentif Rp2 triliun dan Malaysia dengan rebate hingga RM1,5 juta adalah contoh dukungan nyata pemerintah.

Kolaborasi regional ASEAN juga diuntungkan oleh hal-hal alamiah, membuka peluang menyelenggarakan tur regional terpadu. Mirip rangkaian festival musim panas Eropa yang saling terhubung.

Man, Asia Tenggara adalah pasar yang nggak bisa diabaikan lagi. Dukungan demografis yang gila dan pertumbuhan ekonomi membuat kawasan ini pasar yang super subur, di mana para penonton mudanya terkenal antusias dan rela mengeluarkan uang demi pengalaman live.

***

Jogjarockarta

Kebangkitan musik Asia Tenggara nggak hanya milik panggung besar. Di bawah radar, ada gerakan yang lebih sunyi tapi penting: komunitas.

Mereka nggak punya sponsor besar atau tiket jutaan rupiah, tapi punya ide dan solidaritas. Festival seperti Noise Market di Bangkok, Malaya Calling di Kuala Lumpur, dan Archipelago Fest di Yogyakarta jadi rumah bagi musisi eksperimental, visual artist, dan kolektif muda. Mereka menciptakan ruang alternatif, tempat musik, seni, dan aktivisme berbaur. Inilah fase kedua kebangkitan musik Asia Tenggara, di mana industri dan komunitas berjalan berdampingan. Satu membangun panggung, satu menjaga jiwanya.

Sekarang, dunia sedang melihat ke sini. Label besar, agensi, dan media global mengirim tim liputan ke Asia Tenggara bukan karena eksotisme, tapi karena relevansi.

Usai konser di Jakarta, Chris Martin sempat memuji penonton Indonesia sebagai salah satu yang paling bersemangat di dunia. “Jakarta, you are beautiful. You make us feel so alive,” katanya di atas panggung GBK.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tapi bagi kita, itu pengakuan. Asia Tenggara bukan sekadar pasar, tapi ekosistem baru yang menular ke seluruh dunia. Saat barat sibuk mencari tren, di sini tren itu sedang lahir.

Asia Tenggara nggak lagi menunggu undangan. Kita sudah duduk di meja utama industri musik dunia. Dari festival besar sampai gig kecil, dari promotor sampai penonton, semua sedang menulis bab baru sejarah musik global.

Yang membedakan kita dengan barat bukan ukuran panggung, tapi semangatnya. Kita tumbuh dari ketidakteraturan, dari improvisasi, dari kemampuan untuk membuat sesuatu di tengah keterbatasan.

Sejumlah pengamat optimistis, satu dekade mendatang Asia Tenggara akan bertransformasi dari “pasar ekspansi” menjadi “hub sentral” dalam sirkuit festival global. Seperti disimpulkan oleh laporan Billboard bahwa pusat kancah festival musik dunia kian berpindah ke Asia Tenggara, ditopang generasi muda yang bersemangat, dukungan pemerintah, dan identitas budaya hybrid yang kaya.

Gelombang konser ini ibarat denyut jantung baru industri musik dunia, dan detaknya kini semakin kencang di Asia Tenggara. Kita nggak cuma menonton; kita adalah tuan rumah dari pertunjukan terbesar di planet ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *